Im Nayeon, bukanlah gadis licik atau sembrono. Dia hanya seorang gadis miskin biasa yang begitu lugu, dan naif. Mendapati harga dirinya dihina dan diinjak-injak oleh orang asing angkuh yang baru saja ia temui pada kejadian absurd membuatnya muak hid...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nayeon POV
Setelah bergumul dengan pikiran sendiri, aku memutuskan untuk menemui Jeongyeon di kantor. Aku perlu bicara dengannya. Aku berhak menjelaskan semuanya karena itu bukan salahku. Semua cuma jebakan!
Lift membawa ku ke lantai yang dituju. Aku berjalan cepat ke meja depan. Momo melihatku datang dan menyapa dengan senyuman.
"Pagi, eonni. Jeongyeon menunggu kehadiran mu."
"Aku? Apa dia di dalam, Mo?"
"Ani. Dia akan kembali sebentar lagi. Kau bisa masuk ke ruangannya lebih dulu."
"Baiklah."
"Kau ingin kopi?"
"Ngga perlu. Makasih, Momo-ya" kataku sambil berjalan pergi.
Jujur, aku belum makan apapun. Pikiranku kacau dan aku hanya disibukkan dengan masalah yang tiba-tiba menimpaku.
Ketika kembali ke rumah kemarin, Tzuyu terkejut melihat kondisiku. Dia membanjiriku dengan banyak pertanyaan tapi aku tak menjawab satupun. Aku tau dia khawatir.
Kini aku berjalan ke meja Jeongyeon. Bingkai foto di atas meja menarik perhatianku. Ini foto kami di hari pertunangan. Aku mencengkeram tanganku ke lengannya dan kami tersenyum seolah itu adalah hari terindah.
"Kau datang lebih cepat dari yang kuharapkan." Sebuah suara menotice. Aku menoleh. Dan ya, dia disana. Jeongyeon berdiri di pintu sambil menatapku.
"Jeong."
"Hm."
Dia tersenyum pahit. Berjalan dengan langkah mantap.
Pikiranku tertuju pada Jeongyeon sampai aku ngga sadar dia sudah berdiri tepat di depanku. Mata cokelatnya menembus mataku. Ironisnya, hanya ada kehampaan dalam sorot mata itu.
"A-aku datang untuk bicara denganmu."
"Aku juga ada yg mau dibahas," balasnya, dingin.
"Omong-omong, aku bawa sarapan. Lihat. ini kesukaanmu."
"Maaf, aku udah sarapan." Jeongyeon berjalan melewatiku dan duduk di kursinya.
"Jeongie, aku belum makan apapun sejak kemarin. Ayo makan bareng?"
Sejenak, Jeongyeon menatapku dengan wajah tanpa ekspresi.
"You're wasting my time, Nay. Mau kamu udah makan ataupun belum, itu bukan urusanku."
DEG!
Air mataku hampir menetes. Sungguh, terlalu menyakitkan melihatnya memperlakukanku seperti ini. Dia bahkan tidak mempertimbangkan perasaanku. Meskipun begitu, aku tetap meletakan tupperware ke atas meja.
"Yakin nih ngga mau? Ini nasi goreng kesukaanmu, loh."