Im Nayeon, bukanlah gadis licik atau sembrono. Dia hanya seorang gadis miskin biasa yang begitu lugu, dan naif. Mendapati harga dirinya dihina dan diinjak-injak oleh orang asing angkuh yang baru saja ia temui pada kejadian absurd membuatnya muak hid...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nayeon POV
"Nayeon-a, aku tau ini sulit. Tapi, aku akan membiarkanmu pergi. Mari kita akhiri di sini." Jeongyeon berkata tanpa rasa bersalah. Aku menatap wajahnya, lama. Dia balas menatapku dengan gelisah di atas kakinya sendiri.
"Kamu bebas sekarang," tambahnya dan aku merasakan suhu darahku meningkat. Sontak, aku berjalan cepat ke arahnya. Tak percaya.
"Ngga masalahkan, Nay?"
"Mworago?"
"Kita selesa-"
*Plakk
Keras, aku menamparnya di pipi. Ku rasakan telapak kanan ku terbakar; sakit. Dia memegang wajahnya sambil menatap kaget.
"Bajingan. Seharusnya aku ngga percaya sama kamu, Jeong!"
"Nay, aku melakukan ini untukmu."
"Untukku? Cih. Dasar pembohong!"
"Nayeon-a.."
Dia mendekat. Tapi satu-satunya hal yang aku tau, aku tidak ingin disentuh olehnya. Aku berbalik dengan cepat, melarikan diri dari Jeongyeon. Mataku mulai kehilangan pandangan, hampir menangis.
Baru ingin pergi, tiba-tiba kakiku tersandung sesuatu. Aku kehilangan keseimbangan dan wajahku membentur tanah dengan bunyi gedebuk yang memuakkan.
Aku tersentak keras dan mataku terbuka lebar.
Dag-Dig-Dug.
Jantungku berdebar tak terkendali. Sungguh, aku putus asa dan sulit untuk menghirup udara ke paru-paruku yang tercekik.
Suasana sekitar terlihat gelap, kontras dengan adegan dimana aku tadi berbicara dengan Jeongyeon.
Aku mencari keberadaanya. Yang membuatku ngeri, sisi ku justru kosong. Panik melanda ku;
Apa yang telah terjadi?
Beberapa saat kemudian, Jeongyeon muncul dari kamar mandi. Menyalakan saklar lampu. Dia ngga sadar kalo aku sedang menatapnya.
Jeongyeon pergi ke lemari dan mengambil pakaian formalnya; jas abu-abu dan celana senada. Ketika berbalik, matanya bertemu dengan mataku.
"Udah bangun, sayang?" Dia berkata, berjalan ke arahku. Lalu duduk di pinggir ranjang. "Kenapa cemberut, hm?"
"Ngga usah pegang-pegang." Kontan, aku menepis tangannya dengan kasar. Jeongyeon tampak terkejut.
"Kenapa sih?"
"Harusnya aku yang nanya, kenapa kamu mutusin aku, ha?!"
"Aduh, begitukah bunyi ucapan selamat pagi?" Jeongyeon menggaruk kepalanya bingung. "Kurasa mood swing mu semakin parah."
"Jangan memperumit keadaan, Jeong. Jelaskan!" tuntutku. Memperhatikan saat Jeongyeon bangkit dari tempat tidur dan terus berdandan.
"Pertama, kita kembali ke Korea. Kedua, kamu mungkin menderita jetlag yang memengaruhi otakmu. Terakhir, kayanya kamu mengalami mimpi buruk."