Satu minggu berlalu.
Kondisi Hinata sudah jauh membaik. Meski bahu kanannya masih terasa mati rasa, ia tidak terlalu mempersoalkannya. Hari itu, ia kembali menjalani rutinitas seperti biasa-pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan.
Di antara deretan sayur-mayur segar, pandangan Hinata terhenti pada tumpukan tomat merah mengilap. Ia mengulurkan tangan, jemarinya membelai permukaan licin buah itu. Seketika pikirannya melayang ke kejadian beberapa minggu lalu-di pasar ini juga-saat Sasuke tanpa ragu mengambil semua tomat dari keranjangnya.
Tanpa sadar, bibirnya melengkung membentuk senyum kecil. Ingatannya kembali ke momen di rumah sakit seminggu lalu, interaksi singkat namun membekas. Hinata, yang jarang sekali berinteraksi dekat dengan laki-laki selain Kiba dan Shino, masih merasakan gejolak aneh setiap mengingat sentuhan dan tatapan dingin Sasuke. Entah kenapa, sosok Uchiha itu perlahan membuatnya mengalihkan pandangan dari sang mentari.
"HINATA-CHAN!~~"
Suara cempreng yang khas memecah lamunannya. Bahu Hinata refleks menegang. Kakinya yang semula hendak melangkah menjauh, kini seolah tertahan.
"N-Naruto-kun..." Wajahnya memerah tanpa bisa dikendalikan.
"Aku dengar dari Kakashi-sensei kalau kau baru saja sembuh dari masa kritis. Maaf aku tidak bisa menjenguk, Hinata-chan. Aku baru balik dari misi dengan-"
"Naruto BAKA!"
Suara Sakura menggema, memancing tatapan heran dari orang-orang di pasar. Namun wajah Sakura tidak menunjukkan rasa bersalah. Alisnya berkerut, tangannya terkepal, jelas menahan amarah.
"S-Sakura-chan, maaf meninggalkanmu tadi. Aku cuma menyapa Hinata-chan, ttebayo!" Naruto mencoba menjelaskan dengan wajah pucat.
Sakura mendengus pelan. "Eh... Hinata-chan. Maaf, aku tidak melihatmu tadi."
"A-ano... tidak apa-apa, Sakura-chan," jawab Hinata sambil tersenyum sopan.
"Aku dengar kau baru melewati masa kritis. Apa sekarang sudah lebih baik?"
"Ya, aku sudah jauh lebih baik. Terima kasih atas perhatiannya, Sakura-chan."
"Bukan masalah. Hmm... eh? Apa itu di tanganmu?"
Hinata menunduk. "Ah... ini tomat, Sakura-chan."
"Oh, kalau begitu... bolehkah aku memintanya? Kebetulan kami berdua sedang belanja untuk pesta kecil di apartemen Sasuke-kun. Dia sangat suka tomat." Nada suara Sakura terdengar antusias, pipinya merona. Semua orang tahu betapa ia menyukai Uchiha terakhir itu.
'Jadi... Sasuke-san suka tomat...' gumam Hinata dalam hati.
"Khemm... ayo cepat cari bahan-bahannya, Sakura-chan. Kakiku kram berdiri lama, ttebayo," protes Naruto, memecahkan lamunan kedua gadis itu.
"Baka! Kau ganggu saja!" Sakura meninju bahu Naruto, kesal karena lamunannya soal Sasuke terpotong.
Hinata, dengan gerakan sedikit ragu, menyerahkan tomat segar itu pada Sakura. "Silakan... ambillah."
"Wah, besar dan merah sekali. Arigatou, Hinata-chan!" Sakura menerima dengan senyum puas.
Hinata membalas dengan senyum kecut. Ia tahu, senyum Naruto barusan bukan ditujukan untuknya, tapi untuk gadis berambut merah muda di depannya.
"Paman, saya beli ini..." Hinata membayar sisa belanjaannya.
Naruto dan Sakura pun berpamitan, meninggalkannya sendirian di tengah pasar. Hinata menatap punggung mereka bergantian, lalu tersenyum tipis.
Mereka terlihat cocok... Kami-sama, jika Naruto-kun tidak bisa bersamaku, dan dia menemukan wanita yang dicintainya... aku... ikhlas melepaskannya. Tolong bantu aku... melupakannya.
Tok tok tok.
Di apartemennya, Sasuke yang baru selesai mandi berjalan ke arah pintu dengan langkah tenang.
Ceklek.
"Sasuke-kun, sela- kyaaaa!"
Sakura membeku, matanya membesar melihat tubuh Sasuke yang hanya berbalut handuk di pinggang. Wajahnya langsung merah padam.
"O-oi, teme! Jangan pamer begitu! Cepat pakai bajumu!" Naruto ikut bersuara, nadanya antara iri dan kesal. Ia melirik Sakura yang jelas-jelas tak bisa menahan diri melirik tubuh atletis Sasuke.
"Ck." Sasuke menutup pintu tanpa berkata apa-apa, meninggalkan keduanya di luar.
Lima menit kemudian, pintu terbuka kembali. Sasuke kini mengenakan kaos hitam polos dan celana panjang santai.
"Masuk."
Tim 7 kembali berkumpul. Sakura duduk dengan hati berbunga-bunga, sementara Sasuke menyandarkan diri di kursinya dengan tatapan datar.
"Aku akan menyiapkan sesuatu," kata Sakura, lalu beranjak ke dapur membawa kantong berisi sayuran.
"Teme..." panggil Naruto.
Sasuke menoleh.
"Kakashi-sensei bilang kau sempat satu misi dengan Hinata-chan."
"Ya."
"Terima kasih sudah menolongnya. Mungkin itu hal kecil bagimu, tapi menurutku itu kemajuan besar. Hatimu mulai terbuka... bahkan pada orang di luar tim 7. Aku harap kau bisa lebih sering begitu."
Ucapan Naruto membuat Sasuke terdiam. Ada sesuatu yang menghangat di dadanya. Kata-kata Hinata terngiang kembali-Tapi kami peduli, Sasuke-san...-disertai bayangan senyum lembut dan mata lavender itu.
Sasuke sampai tidak sadar Naruto memanggilnya lagi. "Woy, teme! Kau dengar nggak?"
"Diamlah, dobe. Suaramu berisik."
"Eh? Jangan bilang kau sedang memikirkan sesuatu... w-woy! Wajahmu merona!"
Sasuke mendelik, Sharingan sekejap aktif, tangannya mengeluarkan Chidori. "Kau mau mati?"
Naruto langsung menggunakan jurus Seribu Bayangan, meninggalkan Sasuke yang nyaris melepaskan serangannya.
"Aku bantu Sakura masak dulu, ya! Lanjutkan lamunannya, teme!" Naruto kabur ke dapur sambil tertawa, membuat Sasuke menghela napas panjang.
Di dapur, Sakura menoleh heran melihat Naruto masuk dengan wajah sumringah.
"Kenapa kau ke sini?"
"Aku mau bantu masak, ttebayo!"
"...Kenapa wajahmu begitu? Seperti orang habis dapat kupon ramen gratis."
"Hehe... ini lebih dari itu..."
Tuk! Sakura menepuk kepalanya. "Hentikan wajah mesummu itu, baka!"
"A-apa? Aku tidak-"
"Sudah! Ini bawa ke depan!" Sakura menyerahkan semangkuk sup.
Naruto menatapnya ragu. "Ini... bubur merah?"
"Itu sup tomat, BAKA!"
"Oh... kalau yang ini? Ada bau ikan..."
"Cepat antar sebelum ku lempar!"
"I-iya!" Naruto bergegas, meninggalkan Sakura yang menggeleng kesal.
6/2✔️
SasuHina
Maklum dengan alur ceritanya yang masih acak-acakan, ide cerita sudah ada tadi tidak sesuai..nikmati saja seadanya..nanti akan di revisi kalau sempat.
6 Mei 2023
KAMU SEDANG MEMBACA
Locked
عاطفية(SASUHINA) Pikiran Sasuke kembali berkelana, desa yang mengingatkannya akan tragedi itu, desa yang sangat bearti bagi aniki nya melebihi klan mereka, desa yang membuat Sasuke merasakan yang namanya dendam, benci, sesak, dan Cinta? SEMUA KARAKTER...
