Happy Reading
Walaupun sudah berkali-kali meyakinkan adiknya bahwa ia baik-baik saja, Hanabi tetap sulit percaya. Kejadian satu minggu lalu masih membekas di pikirannya, membuat sifat protektif—entah sejak kapan—melekat kuat pada diri Hanabi. Hinata hanya bisa pasrah menghadapi kekhawatiran sang adik.
"Onee-chan, aku sudah bilang jangan latihan dulu," ucap Hanabi tegas begitu melihat Hinata sudah mengenakan pakaian misi.
Hinata tersenyum lembut, mencoba menenangkan. "Aku sudah sehat, Hanabi-chan... tidak apa-apa."
Hanabi memelototinya tipis, tangannya menyilang di dada. "Tidak apa-apa? Kau bahkan hampir—"
Ia menghentikan kalimatnya, menahan napas. "...aku hanya tidak ingin kejadian itu terulang."
"Hanabi..." Hinata menunduk sedikit. "Maaf membuatmu khawatir."
"Aku tidak melarangmu keluar atau pergi ke mana pun, Onee-chan. Aku hanya memintamu untuk tidak memaksakan diri. Kalau mau jalan-jalan, silakan... tapi jangan latihan dulu. Oke?"
Hinata menatap wajah serius Hanabi, lalu menghela napas kecil. "Baiklah. Aku akan ganti pakaian."
Hanabi mengangguk pelan, lega tapi masih waspada. "Onee-chan mau ke mana?"
Ingin bertemu Neji-nii... pikir Hinata dalam hati.
Namun bibirnya berkata, "Aku mau jalan-jalan sebentar. Sudah lama aku tidak santai seperti ini."
Hanabi menatapnya lekat-lekat, mencoba membaca kebohongan dari wajah Hinata, lalu menyerah. "Baiklah... hati-hati."
Hinata tersenyum kecil, menepuk pundak adiknya. "Nee, aku pergi dulu, Hanabi-chan.
Kini Hinata berdiri di hadapan sebuah makam dengan nama "Hyuga Neji" terukir di batu nisan. Ia perlahan bersimpuh, jari-jarinya menyentuh permukaan dingin nisan itu.
"Neji-nii..."
Air mata mengalir tanpa diminta. Hinata mengusap ukiran nama itu, mengeja tiap hurufnya dalam hati.
"Maaf baru sekarang menemuimu. Apa kabarmu di sana? Aku... banyak yang ingin kuceritakan."
Ia mulai bercerita. Tentang berbagai kejadian yang dialaminya, tentang sang mentari—Naruto—yang akhirnya menemukan cinta sejatinya, dan bagaimana ia berusaha mengikhlaskan.
Lalu wajah Sasuke muncul di pikirannya.
"Neji-nii, kau ingat Sasuke-san? Sahabat Naruto-kun. Pertemuan pertama kami... tidak terlalu baik. Tapi aku yakin dia orang baik. Dia keras kepala, merasa sendirian... padahal Naruto-kun selalu ada untuknya. Sakura-chan mencintainya... dan aku sendiri pernah berhutang nyawa padanya."
Hinata tersenyum kecil. "Kalau kau masih hidup, mungkin kau akan kesal padanya. Tapi... aku yakin kalian akan berteman."
Ia tertawa pelan, membayangkan dua sosok yang sama-sama irit bicara itu berinteraksi.
Langit mulai berwarna jingga. "Neji-nii, aku harus pulang. Hanabi pasti mencariku. Terima kasih sudah mendengarkan."
Angin sore berhembus lembut, seakan menjawab. Hinata berdiri—namun kakinya mati rasa, membuat tubuhnya oleng.
"Greb."
Seseorang menahan pinggangnya dari belakang. Hinata membuka mata.
"Sasuke-san..."
Tatapan hitam kelam itu bertemu mata lavendernya.
"G-gomen... dan arigatou."
"Ceroboh," gumam Sasuke datar.
Hinata menahan rasa jengkel. "Apa yang Sasuke-san lakukan di sini?"
Sasuke menatap nisan Neji sebentar. "Tidak ada. Hanya bertemu seorang gadis yang berbicara berjam-jam di depan makam."
Wajah Hinata memerah. "Sasuke-san mendengar semua?"
"Hn."
"Kalau begitu..." Hinata menoleh ke nisan. "Neji-nii, ini Uchiha Sasuke. Dia menolongku minggu lalu... sifatnya mirip denganmu—irit bicara, sering disalahpahami."
Sasuke menyipitkan mata. "Itu pujian atau celaan?"
Hinata tersipu. "Bukan... hanya pendapatku."
"Cih."
"Sasuke-san marah?"
"Tidak."
"Tapi—"
"Tidak."
Hinata tersenyum kecut. "...baiklah."
"Ayo pulang," kata Sasuke tiba-tiba.
"Eh? Sasuke-san mengantarku?"
"Kalau bukan kamu, apa aku harus mengantar hantu Neji?"
Hinata terkekeh. "Ekspresi kesal Sasuke-san... lucu."
"Berhenti tertawa, Hinata."
"Baik, baik..."
Mereka berjalan beriringan, suara langkah kaki menyatu dengan kesunyian senja.
"Sasuke-san..."
"Hn."
"Apakah benar Sasuke-san menyukai tomat?"
Sasuke menoleh sedikit. "...Kenapa bertanya begitu?"
"Pagi tadi Sakura-chan bilang begitu. Jadi... aku ingin membuatkan masakan ekstra tomat sebagai ucapan terima kasih."
"Baiklah."
"Eh? Benar?"
"Mana mungkin aku menolak makanan gratis."
Hinata tertawa pelan. "Baiklah."
Mereka berhenti di depan gerbang. Angin malam berhembus, membuat rambut Hinata berayun.
"Arigatou sudah mengantarku."
Sasuke hanya menatapnya, tanpa menjawab.
Hinata melambaikan tangan di depan wajahnya. "Sasuke-san?"
"Hn."
Hinata buru-buru mundur, menyadari jarak mereka terlalu dekat. Sasuke berdiri kaku, bahunya sedikit tegang—rona samar di pipinya tertutupi gelap malam.
"Ah... aku masuk dulu." Hinata menunduk, lalu masuk pelan-pelan, meninggalkan Sasuke yang masih berdiri diam di depan gerbang.
6/3✔️
SasuHina
😳
6 Mei 2023
KAMU SEDANG MEMBACA
Locked
Roman d'amour(SASUHINA) Pikiran Sasuke kembali berkelana, desa yang mengingatkannya akan tragedi itu, desa yang sangat bearti bagi aniki nya melebihi klan mereka, desa yang membuat Sasuke merasakan yang namanya dendam, benci, sesak, dan Cinta? SEMUA KARAKTER...
