part 5

4.3K 335 6
                                        

Langit sore berwarna jingga, awan tipis bergerak perlahan di atas hutan. Di tengah bayangan pepohonan, Hinata berdiri mematung, wajahnya memerah seperti bunga sakura yang baru mekar. Tetesan keringat membasahi pelipisnya.
“M–maaf membuatmu m–menunggu, Uchiha-san…” suaranya lembut, hampir tenggelam oleh suara angin.

Sasuke berdiri tak jauh di depannya, menatapnya sekilas.

“Hn… ayo.”

Nada suaranya tenang, datar, namun cukup untuk membuat Hinata menegakkan kepala. Matanya, meski hanya sepersekian detik, menatap punggung Sasuke yang mulai melangkah menjauh. Seolah terhipnotis, ia segera mengikutinya.

---

Mereka bergerak di antara dahan-dahan tinggi.

Tap… tap… tap…

Suara hentakan kaki berpadu dengan desir angin. Tak ada kata yang terucap. Sasuke tampak fokus menatap jalur di depan, sedangkan Hinata… pikirannya mengembara entah ke mana. Wajahnya sesekali memerah, lalu ia menggeleng cepat, mencoba mengusir sesuatu dari pikirannya.

Sasuke meliriknya dari ekor mata. Sudut bibirnya nyaris tak terlihat bergerak.

Lamunannya pecah saat jari Sasuke menyentil keningnya.

“I–ittai…” Hinata mengusap dahinya, kaget.

“Gunakan Byakugan-mu,” ucap Sasuke tegas.
“H–ha’i.”

Urat-urat khas Byakugan muncul di sekitar matanya. Ia memindai area di sekeliling.

“Tidak a–ada siapa-siapa, Uchiha-san…” lapornya pelan.

“Hn. Kita istirahat di sini.”

---

Hinata menurunkan ranselnya, mengeluarkan futon, sementara Sasuke melangkah ringan ke cabang pohon terdekat. Ia berbaring, tampak santai namun tetap waspada.

“Ano, Uchiha-san…” panggil Hinata lagi, ragu-ragu.

Sasuke membuka sebelah mata. “Hm?”

“A–aku membawa bekal… untuk Uchiha-san…”

“Hn.”

“E–eh?” Hinata hampir tak percaya Sasuke tidak menolak.

Sasuke turun dari pohon, duduk di hadapannya.
“I–ini… maaf kalau makanannya tidak sesuai s–selera Uchiha-san…”

“Sasuke.”

“Ehh?”

“Panggil aku Sasuke, Hinata.”

“A–ah… H–ha’i…”

Suasana kembali hening. Mereka makan tanpa banyak bicara, hanya terdengar gesekan sumpit kayu. Sesekali Sasuke meliriknya. Cara duduknya, gerakan tangannya saat makan—semuanya rapi, elegan, seperti putri bangsawan.

“A–aku selesai…” Hinata meletakkan sumpitnya pelan. Setelah itu, ia berbaring di futon. Sasuke kembali ke pohon. Dari sana, ia menatap wajah damainya.


---

“Gunakan Byakugan-mu, Hinata,” suara Sasuke terdengar dari atas pohon.

“Ha’i.”

Urat-urat muncul lagi di sekitar matanya.

Pandangannya mengunci pada satu titik jauh di depan. Namun sebelum ia sempat melapor, dua kilatan perak menghujam ke arahnya.

Sring! Sring!

Dengan refleks, Sasuke muncul di hadapannya, menangkis kedua kunai itu.

“Arah jam dua belas, sepuluh kilometer dari sini,” ucap Hinata cepat.

Sasuke menggenggam tangannya, lalu—whoosh!—dunia berganti. Mereka berpindah dalam sekejap.

---

Prang!

Pedang Sasuke beradu dengan senjata lawan. Kilatan logam memantul di udara. Pertarungan pecah, gerakan mereka cepat bagaikan bayangan.

Hinata hendak membantu, namun firasatnya membuatnya menoleh. Seorang penyerang melesat dari belakang. Kecepatannya luar biasa, hampir setara dengan kecepatan Byakugan menangkap gerak.

Clang! Clang!

Dua kunai Hinata menahan setiap serangan. Gerakannya anggun namun penuh kekuatan, membuat lawan sesekali mundur.

“Aahh… jadi begini mata legendaris Hyuga itu…” suara serak itu keluar dari balik masker.
Hinata tertegun sesaat. Sebuah kesalahan.
Bugh! Tendangan keras menghantam perutnya. Tubuhnya terlempar jauh.

“HINATA!” Sasuke berteriak, tapi lawannya memaksa pertarungan tetap sengit.

“Uhuk… uhuk…” Hinata memegangi perutnya, darah mengalir dari bibirnya. Lawan itu kembali menyerang, namun Hinata bergerak secara naluriah.

“Shugohakke Rokujuuyon Shō!”
Benang cakra keluar dari telapak tangannya, menghantam titik vital musuh. Tubuh lawan tersentak mundur.

“K–kau… dasar bangsawan sialan!” geramnya. Namun sebelum tumbang, ia menusukkan belati ke bahu Hinata.

“I–ittai…” Hinata mencabut belati itu, namun racunnya sudah mulai bekerja. Pandangannya kabur, Byakugan-nya menghilang, dan tubuhnya roboh.

Mata Sasuke menyipit. Rahangnya mengeras. Amaterasu! Api hitam menelan lawannya. Jeritan penuh kebencian memecah udara, tapi Sasuke tidak peduli.

Ia menghampiri Hinata, memeriksa lukanya. Racun.
Tanpa membuang waktu, ia menggendongnya, lalu menghilang dalam teleportasi menuju Konoha.

---

Lorong rumah sakit menjadi saksi kemunculan mendadak Uchiha Sasuke.

“S–Sasuke-kun?!” Ino terperanjat melihat Hinata di gendongannya.

“Dia keracunan.”

Ino memanggil perawat. Sasuke meletakkan Hinata di ranjang, menatapnya sebentar, lalu menghilang.

Sekejap kemudian ia kembali, membawa dua mayat.
“Sasuke-kun, di belakangmu…” suara Ino kaget, beberapa pasien yang menunggu di ruang tunggu menjerit kaget dengan pemandangan di depan mereka.

“Urus mereka.” Sasuke melompat keluar jendela, meninggalkan keheningan mencekam.

---

Kantor Hokage sunyi sebelum suara Kakashi memecahnya.

“Apaa!!” teriaknya, memegangi kepalanya. Hinata pulang dalam keadaan kritis.

Ada alasan lain mengapa Hinata ikut misi ini—bukan hanya Byakugan. Alasan itu datang langsung dari Hiashi Hyuga.

Flashback

“Ada yang bisa saya bantu, Hiashi-sama?” tanya Kakashi saat pemimpin Hyuga itu datang.

“Tolong berikan misi kepada anakku, Kakashi,” jawab Hiashi datar, namun matanya mengandung beban

.
“Ah… anakmu yang—”

“Hinata.”

REVISI✔️

Aku publikasikan seadanya..
Kalau sempat bakalan di revisi..

SasuHina

2/1✔️

18 April 2023







Locked Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang