part 3

5K 383 11
                                        

"Selamat datang... Sasuke."
Nada suara Hokage keenam, Hatake Kakashi, terdengar tenang namun penuh makna. Matanya yang selalu setengah tertutup itu menatap pria berambut hitam yang berdiri di hadapannya. Siapa lagi kalau bukan Uchiha Sasuke.

"Hn," jawab Sasuke singkat, dengan tatapan datar khasnya.

"Kamu datang cukup larut..." Kakashi melirik jam dinding di ruangannya. "Aah, sudah jam sembilan. Aku akan pulang sekarang. Oh iya, malam ini kau tidur di apartemenku saja."
Ia mengangkat tangan seolah menenangkan. "Tenang, apartemenku tidak seperti kandang babi milik Naruto. Kau tahu, mudah sekali membaca keraguan di matamu itu."

Sasuke mengembuskan napas berat, nyaris seperti mendengus. Entah kenapa, sifat Kakashi saat ini terasa semakin mirip Naruto-menyebalkan.

"Jangan samakan aku dengan si rambut kuning itu. Aku jelas lebih tampan." Kakashi tersenyum dari balik maskernya. "Ah, baiklah... jangan sampai kau melempar Chidori padaku, aku hanya bercanda. Lagipula, inikah sambutanmu setelah dua tahun-"

"Sekali lagi kau mengoceh, petir ini akan mampir ke wajah sialanmu," potong Sasuke dingin. Dia masih kesal dengan kejadian tiga jam lalu. Tidak bertemu si dobe saja sudah cukup membuat hatinya lega. Sayang, mantan gurunya ini entah bagaimana mewarisi mulut cerewet Naruto yang sukses menghancurkan mood-nya.

---

Di sisi lain...

"HUACHIIIIIIIIIIII!!!"

Kwak!

Kwak!

Kwak!

"SHANNAROOOOO!!"

Brukk!

"SAKURA-CHAN! APA YANG KAU LAKUKAN, TABBAYOO!" Naruto memekik sambil batuk-batuk. Namun, yang keluar dari mulutnya hanya lendir bening (ya, paham kan?). Wajahnya memerah, menatap kesal ke arah pujaan hatinya.

"Baka! Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan sampai bersin sekencang itu?! Haaah... dasar baka..." Sakura mengibaskan tangan, lalu menatap jijik. "Cepat hapus lendir itu sebelum aku-" Tangannya sudah berpose siap meninju.

Naruto panik, buru-buru menghapus "lendir pelangi" itu. "Sakura-chan... sepertinya aku sakit, tabayo..." ucapnya memelas, seperti orang sekarat.

Sakura yang tadinya hendak memukulnya, mendadak ragu. Ada sedikit rasa bersalah di wajahnya. "Huft... bagian mana yang sakit?" tanyanya sambil melangkah cepat mendekat.

"Di sini..." Naruto menunjuk bibirnya.

Sakura mendekat, matanya menyipit mencoba melihat lebih jelas. Malam semakin larut, cahaya bulan menjadi satu-satunya penerang. Sulit baginya mencari "luka" yang dimaksud Naruto.

Sementara itu, pipi Naruto memanas. Kapan lagi dia bisa mengerjai Sakura dan berdekatan seperti ini? Dia tahu Sakura biasanya terlalu waspada, tapi mungkin karena mengantuk, kali ini ia lengah.

"Obati..." ucap Naruto sambil tersenyum penuh kemenangan.

"Di mana?" Sakura masih polos.

"Cium... bibir..."

Satu...

Dua...

Tiga...

"BAKA NARUTOOOO!! SHANNAROOOOO!!"




---

Di tempat lain...

Dengan keranjang penuh buah di tangannya, Hinata berjalan perlahan menuju kediaman Hyuga. Hari ini dia membeli beberapa buah segar yang menarik perhatiannya di pasar.

Locked Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang