part 10

3.7K 333 12
                                        

"Waah… Onee-chan, banyak sekali makanannya… Eh? Ada tomat juga? Tapi… kok sebanyak ini? Tou-san kan tidak terlalu suka tomat, ya?"
Hanabi menyipitkan mata, jemarinya menyentuh salah satu piring seolah memeriksa. Ekspresinya campuran heran dan curiga.

Hinata yang sedang merapikan sumpit menegang sejenak. "E-eh… itu untuk t-teman. Kalau kamu mau, silakan ambil saja."

Suaranya terdengar agak panik.

"Teman?" Hanabi mencondongkan tubuh. "Naruto-kun? Hmm… tidak mungkin, dia itu maniak ramen. Kiba-kun? Shino-kun? Juga nggak… Setahuku, Onee-chan tidak pernah memberi ekstra tomat di bekal mereka… Jadi, siapa? Atau jangan-jangan—"

"Teman, Hanabi." Hinata memotong cepat, matanya menghindar. "Aku hanya ingin berterima kasih padanya. Aku pergi dulu, makan saja, jangan tunggu aku."

Ia mengambil bekal bertingkat, melangkah cepat keluar. Kalau Hanabi sampai tahu ini untuk Uchiha Sasuke, pasti tidak akan berhenti bertanya.

.

.

.

Udara sore terasa dingin, tapi jantung Hinata berdetak kencang. Ia mengandalkan insting ninjanya untuk mencari chakra Sasuke.

Namun, setibanya di kawasan apartemen, langkahnya melambat. Banyak pintu. Banyak chakra bercampur. Ia tidak berani menggunakan Byakugan demi menghormati privasi penghuni.

"Bodoh."

Suara berat itu terdengar di belakangnya.

Hinata menoleh cepat. "Sasuke-san… m-maaf. Aku lupa menanyakan alamatmu…"

Sasuke hanya menatapnya datar. "Ayo."

Langkah Sasuke santai, tapi setiap gerakannya terasa mantap. Hinata mengikutinya, jarak di antara mereka tak lebih dari tiga langkah. Mereka berhenti di pintu bernomor 4.

Sasuke membuka pintu tanpa banyak bicara, lalu memberi isyarat dengan tatapan mata—masuk.

Ruangan itu sederhana, bersih, tapi dingin tanpa foto atau pajangan.

"Duduk."

"Hai…"
Hinata duduk pelan, jemarinya meremas ujung rok tanpa sadar.

"Sasuke-san… aku membawakan sup dan bento tomat. Sesuai janjiku semalam."
Ia membuka bekal bertingkat. Aroma tomat segar memenuhi ruangan.

"A-aku akan pergi dulu. Maaf sudah mengganggu—"

"Tetap di sini."

Hinata terdiam. "Eh?"

"Aku tidak mau menyimpan barang milik orang lain di sini."

Tatapan Sasuke membuat Hinata patuh tanpa membantah. Ia hanya mengangguk kecil.

Sasuke mengambil mangkuk sup, menghirup aromanya sebentar. Potongan tomatnya rapi, warnanya cerah. Sekilas, ia teringat trauma masa lalu—"sup tomat" buatan Sakura.

Flashback.
Naruto menahan ekspresi sambil memakan sup buatan Sakura.

Wajahnya memerah, mata berair.

"Naruto… habiskan juga ikannya."

"S… Sakura-chan… a-aku sud—hummppp!"
Naruto berlari ke jendela.

Sasuke menahan tawa. Dasar dobe.

Sasuke kembali fokus pada sup Hinata. Suapan pertama membuat matanya sedikit melebar. Rasanya… seperti masakan ibunya.

"Sasuke-san?"
Hinata memandangnya hati-hati.

"Hn."
Ia melanjutkan makan. Gerakannya tenang tapi pasti, dan Hinata bisa melihat jelas—ia menikmatinya.

Perlahan, ekspresi Hinata melembut. Ada rasa hangat mengalir di dadanya.

Begitu Sasuke selesai, Hinata merapikan bekal dengan telaten.

"Nee, Sasuke-san… aku pergi dulu."
Sasuke hanya mengangguk.

"Sampai bertemu lagi."
Hinata melangkah ke pintu, tangannya nyaris menyentuh gagang—

"Hinata."
Suara itu membuatnya berbalik. "Nee, Sasuke-san?"

Diam sejenak. Tatapan hitam pekat itu menusuk dalam.

"Arigatou… untuk makanannya."

Senja di luar jendela membuat senyum Hinata terlihat semakin cerah. Lesung pipinya muncul, matanya melengkung manis.

"Iya, sama-sama, Sasuke-san."
Ia kembali berbalik—

Namun sesuatu melingkari pinggangnya. Tarikan lembut tapi kuat.

"Sasuke-san…?"
Hinata membeku. Napas Sasuke terasa di lehernya. Rambutnya disibak.

"Hinata…"
Nada suaranya berat. Bibirnya menyentuh kulit lehernya, meninggalkan jejak kecupan.

"Sasuke-san… t-tolong…"
Ia menelan sisa kata.

"Kita teman, kan?"

"Eh…?"

Sasuke memutar tubuhnya, jarak mereka hanya sejengkal. Tatapan matanya begitu dekat hingga Hinata bisa melihat bayangan dirinya di sana.

"Jawab, Hinata."

"I-iya… kita teman."

Sudut bibir Sasuke terangkat tipis. "Kalau begitu… aku bisa menagih bayaran."

"Bayaran? Bayaran ap—"

Tidak ada waktu untuk menyelesaikan kalimat. Bibir Sasuke sudah menutup bibirnya.

Dunia Hinata seakan berhenti. Mata membelalak, pipi panas. Tangan Sasuke menahan tengkuknya, menariknya lebih dekat.

Bibirnya terasa… hangat.

Saat Hinata mulai mendorong dadanya dengan tangan kecil, Sasuke melepas ciuman itu. Benang tipis membentang di antara bibir mereka.

Hinata terengah, wajahnya merah seperti tomat yang tadi ia bawa.

Sasuke mendekat lagi, matanya setajam pedang. Tapi sebelum bibirnya bisa menyentuh leher itu, Hinata mendorong bahunya kuat-kuat.

"C… cukup, Sasuke-san. A-aku harus pulang."

Ia membuka pintu, melangkah keluar dengan jantung yang masih berdegup kencang.

Sasuke berdiri di tempat, jemarinya menyentuh bibirnya sendiri. Senyum samar muncul.

'Ahh... sepertinya aku kecanduan.....'

6/4✔️

SasuHina

Sasuke semakin agresif gaisss~ fufufufu
*・゜゚(^O^)↝

6 Mei 2023


Locked Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang