part 6

4.1K 341 12
                                        


"Kau masih ingat, kan? Selain mengembalikan gulungan rahasia, Raikage juga meminta agar para bandit itu dibawa hidup-hidup..."
Suara Kakashi terdengar rendah, serak, dan mulai mengandung nada putus asa. Matanya yang biasanya tenang kini tampak sedikit lelah.

"Mereka bukan bandit biasa..."
Sasuke akhirnya membuka mulut, nada suaranya datar namun sarat akan ketegangan. Kakashi menoleh, alisnya terangkat, menatap murid lamanya itu dengan bingung.

"Maksudmu?"

Sasuke menunduk sedikit, rambut hitamnya menutupi sebagian wajah. "Gerakan mereka terlalu rapi untuk sekelas bandit. Meskipun aliran cakra mereka cacat, mereka memahami titik lemah seorang shinobi dengan sangat baik. Terlalu baik... seperti sudah merencanakan semuanya. Bahkan—"
Ia terdiam, keningnya berkerut, seolah pikirannya sedang menimbang beberapa kemungkinan gelap.

Kakashi yang tidak sabar akhirnya menekan, "Bahkan apa, Sasuke?"

Sasuke mengepalkan kedua tangannya di balik jubah panjangnya. "Bahkan... mereka seperti sengaja mengincar Hyuga Hinata."

Kakashi terdiam cukup lama, pandangannya suram. "Kurasa Hiashi tidak akan senang mendengar ini..."

Sasuke menatapnya dengan bingung, dan seolah membaca tatapan itu, Kakashi mulai berbicara.

"Dulu, saat Hinata masih kecil, ia pernah hampir diculik oleh shinobi dari Kumogakure. Kejadian itu nyaris memicu perang. Namun Hizashi Hyuga mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan Hinata. Beberapa kali pula klan Hyuga bersinggungan dengan Kumogakure. Memang sekarang kita sudah berdamai, tapi... kita tidak pernah tahu sampai kapan."

Ia kembali ke inti masalah. "Kembali ke topik, apakah kau sudah menemukan gulungan itu?"

"...."

"Sasuke?"

"Gulungan itu dimakan oleh api Amaterasu."

Kakashi tak menjawab. Hanya tatapan kosong yang ia berikan.

---

BRAKK!

"Sasuke!"

Pintu terbuka keras, Tsunade masuk dengan wajah merah padam menahan amarah. Tatapannya menusuk Sasuke seperti kunai yang siap dilempar.

"Bocah... jelaskan apa yang sebenarnya terjadi."
Nada suaranya berat dan penuh tekanan. Ia baru saja mendapat laporan dari Ino: Sasuke membawa Hinata yang sekarat karena racun, serta dua mayat yang membuat rumah sakit geger.

Sasuke menghela napas, lalu mengaktifkan Eternal Mangekyou Sharingan. Tanpa banyak bicara, ia menyeret Tsunade dan Kakashi ke dalam genjutsunya, menayangkan ulang seluruh kejadian beberapa jam sebelumnya.

Begitu genjutsu berakhir, ruangan diliputi keheningan tebal.

"Cih... aku pergi dulu." Tsunade memecah hening, suaranya tajam. Tujuannya jelas: mengautopsi kedua mayat itu.

Sasuke dan Kakashi kembali tenggelam dalam pikiran masing-masing.

---

Perlahan, kelopak mata Hinata bergetar lalu terbuka, menampakkan warna khas Byakugan. Sorot matanya masih lemah. Seseorang di sisinya langsung bereaksi.

"Hinata-chan! Akhirnya kamu bangun juga!" Suara cempreng Ino memenuhi ruangan, nada suaranya campuran antara lega dan cemas.

Hinata mencoba menggerakkan tangan, namun rasa nyeri menyergap bahu kanannya yang dibalut perban rapi.

"I... Ino-chan... apa yang terjadi?" suaranya lirih, berusaha mengingat kenapa ia berada di sini.

Ino menuangkan air ke gelas, lalu menyodorkannya. "Tubuhmu terinfeksi racun. Untungnya Sasuke-kun membawamu kemari tepat waktu. Kalau tidak..."
Ia berhenti, menggigit bibirnya, memilih membelai rambut Hinata lembut.

Locked Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang