"Walaupun aku mantan nuke-nin?"
Suara itu terdengar berat, penuh keraguan.
"Selama kau bisa melindungi putriku... aku tidak peduli dengan masa lalumu itu."
Jawaban yang tenang, namun tegas.
---
"Onee-chan... bagian mana yang masih sakit?" tanya Hanabi dengan suara bergetar, tanda ia berusaha menahan tangis.
Begitu sadar dari pingsannya, Hanabi langsung menuju rumah sakit untuk memastikan kondisi Hinata. Matanya sembap, jelas ia baru saja menangis.
"Aku baik-baik saja..." jawab Hinata lirih. Ia mengusap kepala adiknya dengan lembut, mencoba menenangkan Hanabi.
"Aku bawa beberapa kue. Ayo kita makan bersama, Onee-chan."
"Baik..." Hinata mengangguk pelan.
Brakk!
Pintu terbuka keras, diikuti suara langkah tergesa.
"Guk guk!"
"Hinata! Kau baik-baik saja?!" suara cempreng Kiba terdengar memenuhi ruangan. Keringat membasahi wajahnya, tanda ia berlari. Tak lama kemudian, Shino masuk—lebih tenang dibanding Kiba, meski pelipisnya juga dipenuhi keringat.
"Eh, Kiba-kun... Shino-kun... aku baik-baik saja." Hinata tersenyum hangat melihat kedua sahabatnya. Baju mereka kusut, jelas-jelas terburu-buru meninggalkan misi setelah mendengar kabar bahwa Hinata sempat kritis.
"Hah... untunglah. Kau harus tahu betapa paniknya kami mendengar kau dibawa ke rumah sakit," kata Shino, yang biasanya pendiam. Nada suaranya terdengar lega, bahkan ia mengusap lembut rambut Hinata.
"Guk guk guk!"
Hinata menunduk, mengelus bulu putih Akamaru yang bersih, menenangkan hewan itu dengan belaian lembut.
"Eh, Kiba-kun? Shino-kun? Bukannya kalian masih dalam misi?" tanya Hanabi yang muncul di pintu.
"Ah... itu..." Kiba menggaruk kepalanya, bingung harus menjelaskan dari mana.
"Kami baru saja kembali, Hanabi-chan," jawab Shino mewakili.
"Kalau begitu, biar aku yang menjaga Onee-chan. Kalian belum melapor ke Hokage, kan?"
"Baiklah. Hinata, kami pergi dulu, ya."
"Arigatou."
Mereka bertiga menghilang di balik pintu, meninggalkan Hinata dan Hanabi. Hanabi duduk di kursi dekat kasur, meletakkan wadah bekal yang sedari tadi ia bawa.
"Ayo makan, Onee-chan. Aku bawa sup, bagus untuk mempercepat penyembuhan." Ia membuka bekal dengan telaten, lalu menyodorkan sendok berisi sup ke kakaknya.
Hinata memakannya lahap. Meski sebelumnya ia sudah makan kue, perutnya tetap terasa lapar. Tubuhnya masih butuh banyak energi setelah racun mematikan tadi pagi berhasil ditangani Tsunade dengan cepat.
"Onee-chan, ada kabar bagus dari Tsunade-sama. Besok kau sudah bisa pulang. Tapi beliau berpesan, kau harus banyak istirahat."
Hinata tersenyum tipis. Sekilas, pikirannya melayang pada Sasuke. Ia tak tahu kabarnya, tapi yakin insiden tadi pagi pasti merepotkan pria itu—mungkin bahkan membuatnya harus menghadapi amarah ayahnya sendiri. Wajah Hinata seketika tegang.
"Onee-chan, kau tidak apa-apa?" Hanabi membuyarkan lamunannya.
"Aku baik-baik saja," jawab Hinata, menggeleng pelan.
Setelah makan selesai, Hanabi membereskan bekal dan meletakkannya di meja.
Tok tok tok.
KAMU SEDANG MEMBACA
Locked
Romance(SASUHINA) Pikiran Sasuke kembali berkelana, desa yang mengingatkannya akan tragedi itu, desa yang sangat bearti bagi aniki nya melebihi klan mereka, desa yang membuat Sasuke merasakan yang namanya dendam, benci, sesak, dan Cinta? SEMUA KARAKTER...
