Dua hari telah berlalu sejak kejadian itu, namun Hinata sama sekali belum bisa melupakannya. Justru, semakin ia mencoba menepis ingatan tersebut, semakin jelas gambarnya di benak. Terutama momen saat Sasuke tiba-tiba mencium bibirnya-begitu asing, namun di saat yang sama memicu sensasi baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia teringat pada cerita kawannya, Ino, yang pernah membual tentang ciuman panasnya bersama Sai, kekasihnya. Bedanya, sekarang Hinata merasakannya sendiri... dengan seseorang yang bukan kekasihnya. Bahkan... dengan temannya. Sasuke.
Meski ciuman pertamanya bukan dengan pria yang selama ini ia puja, Hinata tidak merasa menyesal sepenuhnya. Ia mencoba menenangkan hati dengan menganggapnya sebagai sedikit kenakalan masa lajangnya.
Ia berharap Sasuke melupakan kejadian itu. Lagi pula, mereka sudah dewasa. Hal seperti itu tidak seharusnya menjadi masalah besar, apalagi di Konoha, di mana hubungan fisik antar-shinobi bukanlah hal yang dianggap tabu. One-night stand bukan sesuatu yang asing bagi sebagian orang.
Hinata berusaha memikirkan kemungkinan positif, walau hatinya kacau. Sebagai putri ketua klan Hyuga, ia paham benar bahwa moral dan kehormatan keluarga dijunjung tinggi. Ia tak mau ayahnya sampai mendengar hal ini. "Selama aku diam, semua akan aman... kan?" gumamnya dalam hati.
"Hinata?"
Lamunan itu buyar ketika sebuah suara memanggil namanya. Ternyata Shikamaru.
"Ah... Shika-kun... ada apa?"
"Hokage mencarimu."
"Baiklah."
Mereka berjalan beriringan menuju kantor Hokage. Shikamaru, seperti biasa, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku sambil menguap beberapa kali. Hinata menunduk, apalagi jalanan tengah ramai siang ini. Tatapan warga yang melihat mereka, lengkap dengan bisik-bisik tentang hubungan keduanya, membuatnya tak nyaman.
"Jangan dipikirkan," kata Shikamaru singkat.
"Baiklah, Shika-kun."
Tak sampai dua menit, mereka tiba di depan ruangan Hokage. Tanpa mengetuk, Shikamaru membuka pintu perlahan, membuat Kakashi yang sedang sibuk membaca berkas menoleh kaget.
"Kebiasaan burukmu merepotkan, Shikamaru," keluh Kakashi.
"Cih..." Shikamaru hanya berdecak, lalu berjalan menuju sofa dan langsung merebahkan diri, tertidur lelap. Kakashi hanya menggelengkan kepala.
"Hinata, masuklah," kata Kakashi.
"Ha'i..." jawab Hinata, melangkah pelan.
"Aku memanggilmu untuk membantu pekerjaanku bersama Shikamaru. Anggap saja ini misi. Dan ini juga rekomendasi langsung dari Hiashi-san."
Mendengar nama ayahnya, Hinata langsung merasakan bahwa misi ini hanyalah pengalihan. Ia tahu tetua Hyuga sudah lama ingin menyingkirkannya dari posisi penerus. Walaupun ayahnya tidak pernah mengatakannya langsung, Hinata sadar belakangan ini Hanabi lebih banyak terlibat dalam urusan klan dibanding dirinya.
Tangannya terkepal. "Sebegitu lemah kah aku?" pikirnya.
"Ha'i, Hokage-sama."
"Huff... panggil saja Kakashi, Hinata. Seperti biasa."
"H... ha'i, Kakashi-sensei."
Di balik masker andalannya, raut lelah Kakashi tetap terlihat jelas. Tumpukan kertas di mejanya bahkan hampir menutupi seluruh wajahnya.
Satu minggu berlalu. Hinata mulai terbiasa dengan pekerjaan barunya. Berkat bantuan Shikamaru, beban terasa lebih ringan. Meski begitu, tumpukan dokumen seakan tak ada habisnya-kadang tingginya hampir sepinggang Hinata. Namun, kesibukan itu membantunya melupakan masalah pribadinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Locked
Romance(SASUHINA) Pikiran Sasuke kembali berkelana, desa yang mengingatkannya akan tragedi itu, desa yang sangat bearti bagi aniki nya melebihi klan mereka, desa yang membuat Sasuke merasakan yang namanya dendam, benci, sesak, dan Cinta? SEMUA KARAKTER...
