THIRTEEN

234 46 6
                                        

Jangan pernah berusaha membuat manusia tertawa karena lelucon yang kita berikan. Karena, gak semua niat baik akan dihargai.

Mending jaga-jaga kan, dari pada nanti nggak sesuai sama ekspetasi terus sakit hati.

—Org cwanti.

****

"Bunda kecewa sama kamu," lirih seorang ibu  kepada anaknya.

"Bun, maaf. Erlan nggak bisa maksain untuk cinta sama Lia, Erlan cintanya sama Shyfa. Bunda tau itu."

"Terserah, terserah kamu Erlan. Bunda nggak ngurusin soal percintaan kamu, waktu itu bunda kan pernah bilang, jangan pernah sekali-kali kamu sakitin hati seorang perempuan, dan kamu? Kamu malah lakuin itu, kamu sakitin hati Lia, buat apa? Kamu mau juga sakitin hati bunda? Bunda juga kan seorang perempuan, kamu mikir nggak?" ucap Bunda Vio yang membuat hati Erlan teriris.

"Karena kamu yang nggak dewasa, bunda sama ibunya Lia jadi ada masalah."

"Bunda harap kamu bisa berubah untuk bisa menghargai seorang perempuan." Bunda Vio pun langsung pergi keluar dari kamar Erlan.

"Gue salah emang?" tanya Erlan kepada dirinya sendiri.

***

Masa skorsing Lisa sudah selesai sebelum waktunya, poto itu dinyatakan tidak benar dan cuma editan belaka. Kasusnya sudah selesai, skorsingnya selesai dan sekarang Lisa mulai pergi sekolah lagi.

Sesampainya dikelas XI IPS 2.

Lisa pun membuka pintu kelas. "Misi-misi, princes disney comeback! Annyeong guys, bagaimana kabar kalian?! Sudah lama tak jumpa dengan beta yaa, sad begete ini mah."

"Baik tuan ratu," jawab sebagian penghuni kelas.

"Nggak, gak sedih sama sekali nggak ada lo."

"Iya, kita malahan seneng banget nggak ketemu sama lo, soalnya kalau nggak ada lo tuh bawaannya adem anyem."

"Iya tenang banget kita-kita."

"Ngga ada yang berisik, terus perusuh kayak lo."

"Betul!"

Dan masih banyak lagi perkataan yang bikin sakit hati.

"Ish sakit banget tau kata-katanya," ucap Lisa dengan sedih.

"Tumben, lo nggak teriak-teriak gak jelas? Biasanya datang-datang teriak kek orgil," ucap seseorang yang bermulut cabe, Lisa pun hanya membalas dengan senyuman yang sangat tulus, tanpa ada guratan kesedihan dimimik mukanya.

Lalu tidak lama setelah itu ada seseorang yang baru datang. "HALLO GESS! SYAM YANG GANTENG DARI 7 LAUTAN DAN 7 DARATAN DATANG. OYY LISA NGAPA LU NINGGALIN GUE HAH? GUE TADI MALAH NGOMONG SAMA ORANG LAIN, KIRAIN ELU."

"Wah, masa sih? Ututu kacian." Lisa pun terus tertawa karena kekocakkan Syam.

"Serius. Malu banget sumpah, elu sih."

"Idih kau nyalahin aku kah? Kau nie ape? Biasanya juga tak tau malu kalee."

"Lu yaa! Awas lu Lisa, SINI!!"

"Aaa kabur!" Lisa pun lari dari kejaran Syam, mereka terus berlari di atas tanah.

"Semoga kalian bahagia terus ya. Maafin Lia, Lisa. Lia nggak berani minta maaf," ucap Lia, yang ternyata dari tadi melihat interaksi antara Syam dan Lisa.

***

Lisa saat ini sedang berada di taman yang tak jauh dari kontrakannya, dia melamun melihat awan yang sekarang sudah mulai meredup.

Indah, sungguh indah. Bunga bermekaran dengan asrinya, udara sangat sejuk dan segar.

Lisa melihat seseorang yang dia kenali sedang duduk di kursi taman itu, dia mendekat dan bersembunyi dibelakang pohon besar.

Dibalik pohon, Lisa melihat seseorang itu sedang melamun sambil meneteskan air matanya.

"Kayaknya, aku akan cepat pergi dari dunia ini."

"Penyakit, tak apa kau hadir, Aku bersyukur, mungkin ini takdir Tuhan supaya aku bisa menyadari semua kesalahanku."

"Aku udah minta maaf sama kak Lisa, Mamah, Papah, temen-temen dan masih banyak lagi. Jadi aku bisa tenang nanti disana."

"Apakah nanti aku akan bisa bertemu lagi dengan mereka?"

"Terus nanti kalau aku udah nggak ada, orang-orang bakalan sedih nggak ya?"

Lalu ada seorang perempuan yang mendatangi orang tersebut.

"Va, sekarang waktunya lo cuci darah. Ayo gue temenin, jangan berpikiran yang aneh-aneh."

"Buat apa juga Re, aku cuci darah? Kalau ujung-ujungnya kan malah nggak ada hasil."

"Heh! Jangan begitu, kamu pasti sembuh, ayo bangkitkan semangatmu! Jangan mudah menyerah."

"Nggak bisa Re, aku udah cape cuci darah mulu. Jantung aku udah rusak dan harus nyari pendonornya, dan itu nggak akan pernah terwujud. Apalagi aku belum bicara sama keluarga aku tentang penyakit ku ini."

"Ivaa," ucap Lisa dengan lirih dibalik pohon.

"Jangan mudah putus asa gitu deh, lo juga harusnya ngomong sama keluarga lo!" ucap Rhere Augustlina—Sahabat Iva, Iva pun langsung terdiam dengan perkataan Rhere.

"Ayo ke rumah sakit!" ajak Rhere, mereka pun langsung pergi dari taman. Lisa pun membututi mereka ke rumah sakit.

Di rumah sakit Intan Permata.

"Mohon maaf sebelumnya, saya bukan menakut-nakuti tetapi saya cuma mau bilang penyakit gagal jantung kamu sudah stadium akhir. Kemungkinan, kalau tidak ada pendonor, kamu tidak akan bisa diselamatkan."

Dengar Lisa dari celah pintu, ya Lisa mendengar percakapan dari luar luar ruangan dokter itu.

"Aa-apaa! Iva punya penyakit jantung?" ucap Lisa dengan terkejut.

Lalu Lisa pun langsung pergi untuk pulang dari rumah sakit itu, karena dia nggak sanggup mendengar pernyataan ini. Lisa juga yakin Iva akan di antar pulang oleh Rhere.

****

[ Monmaaf tentang penyakit Iva klw ga benar, karena i asal"an. ]

Pencet bintangnya, guys!

I'M TALISA || ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang