Lariana

48.7K 1.9K 8
                                        

Lariana terbangun dengan napas tersengal, tubuhnya basah oleh keringat dingin. Mimpi buruk itu kembali menghantuinya—bayangan tentang Amelia Brown, ibunya di kehidupan pertama, yang memilih menyayat lehernya sendiri di hadapannya. Jeritan tak terdengar, darah yang mengalir deras, dan tatapan kosong terakhir dari wanita itu—semuanya terpahat jelas dalam ingatannya, seperti luka yang tak kunjung sembuh.

Ia tidak tahu apakah ini kutukan atau bentuk karma yang harus ia jalani. Sejak lahir, Lariana membawa ingatan utuh tentang kehidupan pertamanya sebagai Floretta Brown—sebuah nama yang membuatnya ingin muntah tiap kali disebut. Floretta adalah anak tunggal dari keluarga Brown, sombong, boros, keras kepala, dan menyedihkan. Ia tidak punya kemampuan apa pun, kecuali menjual tampang cantik dan tubuh ideal yang selama hidupnya dulu dijadikan kebanggaan semu.

Lariana membenci sosok itu—dirinya sendiri di masa lalu—dan rasa penyesalan yang membekas begitu dalam membuat dadanya selalu terasa diremas tiap kali kenangan itu muncul. Ia ingin percaya bahwa waktu telah menebus segalanya, tapi rasa bersalah itu tak pernah pergi.

Wajah ayahnya, Jared Brown, dengan senyum hangat yang tak pernah pudar, masih kerap menghantui benak Lariana. Senyum itu tak pernah berubah, bahkan setelah Pengadilan menjatuhkan vonis seumur hidup atas tuduhan pembunuhan keluarga Winston. Dan suara lembutnya—yang selalu berkata bahwa Floretta harus hidup bahagia, bahwa ia tak perlu khawatirkan ayahnya—masih terngiang, menghantam batin Lariana dengan rasa bersalah yang menyakitkan. Setiap kenangan itu seperti belati yang merobek dadanya perlahan.

Ia tidak bisa menolong mereka. Tidak saat itu. Tidak sekarang.

Kehancuran keluarga Brown tak lain adalah hasil dari rencana balas dendam Alexander Winston, mantan tunangannya sendiri. Lelaki yang dulu dibesarkan dengan kasih sayang oleh Jared Brown, ternyata menyimpan bara dendam yang tak kunjung padam. Alexander percaya bahwa kedua orang tuanya dibunuh oleh Jared, dan ia bersumpah akan menghancurkan seluruh keluarga Brown—dari atas sampai ke akar.

Amelia Brown, sang ibu, memilih mengakhiri hidupnya dengan menyayat lehernya sendiri, tak sanggup menghadapi kebangkrutan dan kejatuhan martabat keluarga. Jared Brown mendekam di penjara seumur hidup, menerima siksaan fisik dan mental yang tak pernah berhenti. Sementara Floretta—gadis egois dan buta realita itu—dibuang ke sebuah pulau tak berpenghuni, seolah menjadi kutukan terakhir atas hidupnya yang hampa.

Lariana kembali mengingat detik-detik terakhir Floretta. Hari itu ia baru saja menghadiri sidang terakhir ayahnya, dan saat hendak kembali ke pulau, ada sesuatu yang terasa ganjil dalam tubuhnya. Rasa mual yang tak biasa, dan perasaan cemas yang tak beralasan. Ia meminta waktu untuk singgah sebentar ke apotek, memberi alasan membeli stok obat. Tapi yang ia ambil adalah test pack.

Dan hasilnya... dua garis merah.

Tangannya gemetar saat memandangi hasil itu. Ia hamil. Anak Alexander.

Floretta nyaris ambruk, namun ia mencoba menenangkan diri, berjanji akan menjaga anak itu dengan seluruh hidupnya. Ia kembali ke mobil dengan niat melanjutkan perjalanan, membawa harapan kecil di dalam rahimnya.

Namun ia tak pernah sampai.

Alexander telah menyiapkan segalanya—termasuk kematian Floretta. Mobil yang dikendarainya jatuh ke jurang dalam kecelakaan yang ‘tampak alami’. Dalam detik-detik terakhir hidupnya, tubuh Floretta terjepit di antara besi dan kaca. Ia menangis, menggenggam perutnya dengan lemah, berulang kali mengucap kata maaf kepada anak yang bahkan belum sempat ia peluk. Dalam kesakitan yang perlahan menelan kesadarannya, bayangan Amelia yang bersimbah darah dan senyum terakhir Jared kembali menghampiri. Dan setelah itu, segalanya gelap.

Lariana membuka selimut dengan kasar, jantungnya berdegup kencang seolah baru saja lepas dari neraka. Ia menepuk kedua pipinya, mencoba menyadarkan diri dari mimpi buruk yang terasa terlalu nyata. Tubuhnya masih gemetar saat ia berjalan ke arah jendela.

Dengan tangan bergetar, ia membuka jendela lebar-lebar. Udara pagi yang dingin menerpa wajahnya, menusuk kulit dan menusuk hingga ke dada, tapi Lariana tak peduli. Ia menghirup napas dalam-dalam, seolah ingin membersihkan paru-parunya dari semua sisa luka masa lalu.

Ia menepuk dadanya, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdebar tak karuan. Lalu, dengan suara lirih tapi tegas, ia berkata pada dirinya sendiri, “Tidak apa-apa... sekarang kamu adalah Lariana.”

Ya. Ia bukan lagi Floretta. Meski ingatan kehidupan lamanya masih hidup dalam dirinya, hidup Lariana sangat jauh berbeda.

Sejak bayi, ia dibuang. Ditinggalkan begitu saja oleh orang tua yang tidak pernah ingin mengenalnya. Dengan ingatan penuh tentang kehidupan sebelumnya, Lariana tumbuh menjadi gadis yang sunyi. Ia selalu menyendiri, tak ada satu pun anak di panti yang ingin mendekat padanya. Lariana terlalu ‘berbeda’, dan kesepian menjadi temannya yang paling setia. Bahkan hingga ia beranjak dewasa, tak satu pun keluarga datang untuk mengadopsinya.

Saat usianya genap untuk hidup mandiri, Lariana pergi dari panti. Ia bekerja keras tanpa kenal lelah, mengambil pekerjaan apa pun yang halal. Siang bekerja, malam belajar. Semua demi satu tujuan yaitu mengubah hidup. Ia mengejar beasiswa penuh dan berhasil masuk perguruan tinggi. Tidak ada kemewahan. Tidak ada pesta. Setiap uang yang ia hasilkan ditabung.

Dan kerja keras itu terbayar. Lariana kini menjabat sebagai manajer keuangan di perusahaan ternama negeri. Ia hidup hemat, tidak pernah memanjakan diri. Seluruh gajinya ia simpan demi satu impian, memiliki rumah kecil di tepi pantai.

Akhirnya, impian itu menjadi kenyataan. Minggu pagi ini, ia akan pindah ke rumah barunya.

Melihat truk yang membawa barang-barangnya mulai berjalan, Lariana pun ikut mengemudikan mobilnya dari belakang. Sebuah babak baru akan dimulai.

Bukan sebagai Floretta.

Tapi sebagai Lariana—perempuan yang memilih untuk hidup, meski membawa kenangan seorang yang telah mati.

Haru HaruCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang