Eighth

22.5K 1.6K 18
                                        

Jared Brown adalah salah satu pengusaha paling disegani di negara Eighth. Ia dikenal bukan hanya karena kejeniusannya dalam mengelola bisnis, tetapi juga karena sifatnya yang hangat, rendah hati, dan bersahaja—sikap yang membuat banyak pengusaha muda menjadikannya panutan. Jared bukan tipe pebisnis yang hanya berbicara soal angka, tapi juga tentang nilai, loyalitas, dan keberanian memilih yang benar walau berat.

Putrinya, Floretta Brown, tinggal di kota Yupei, salah satu kota utama di negara Eighth. Meski telah menjalani dua kehidupan, Flo sendiri masih kesulitan menjelaskan secara logis tentang negaranya. Sebab Eighth… bukan tempat biasa.

Bagi orang yang lahir di dunia seperti Asia—seperti Lariana, identitas pertamanya—Eighth terasa seperti negeri dari dunia lain. Lariana dulu bahkan sempat mencari-cari informasi tentang negara itu lewat buku, peta, dan ensiklopedia, tapi hasilnya nihil. Seolah Eighth tidak pernah ada dalam sejarah geografis dunia yang ia kenal.

Flo bahkan sempat berseloroh dalam hati. “Anggap saja Eighth dan Asia berada di dua dimensi yang berbeda. Jangan dipikirkan terlalu dalam, nanti rambut rontok sebelum waktunya.”
Itulah yang dirasakannya ketika pertama kali menyadari bahwa dirinya bukan hanya Floretta… tapi juga Lariana.

Kini, sebagai Floretta, ia berdiri di dalam ruang rahasia yang dibangun ayahnya—Jared—di bawah tanah rumah lama mereka. Tempat itu jauh dari kesan menyeramkan. Justru sebaliknya, suasananya terasa hangat, hampir seperti persembunyian pribadi yang penuh nostalgia.

Senter di tangannya menyapu seluruh ruangan.

Di sisi kanan, terdapat sofa besar berlapis kain beludru abu-abu yang tampak empuk dan bersih, cukup luas untuk dijadikan tempat tidur. Dinding ruangan terbuat dari beton kokoh, namun dihiasi rak-rak kayu berisi buku, map, dan peralatan kecil. Di salah satu sudut, ada dispenser, meja kerja, dan lampu baca kuno yang masih menyala redup.

Tapi yang paling menyentuh hati Flo adalah deretan foto-foto yang terpajang rapi di rak dan dinding.

Foto-foto dirinya, saat masih kecil… saat ulang tahun ke-10-nya… saat liburan ke danau… dan tentu saja—foto Amelia.

Ibunya, yang kini sudah tiada.

Flo berjalan pelan ke arah salah satu bingkai foto. Tangannya menyentuh permukaan kaca, membersihkan debu yang menempel. Senyum Amelia di foto itu terlihat begitu hidup, seperti sedang mengawasinya dari jauh.

Matanya memanas. Hatinya nyeri.

Ia masih mengingat hari itu dengan jelas… hari ketika ia menyaksikan Amelia Brown bunuh diri.

Ibunya menyayat lehernya sendiri untuk mengakhiri hidupnya. Tidak ada tanda-tanda perpisahan. Hanya keheningan dan duka yang menyesakkan.

Dan hingga hari ini, Flo masih menyimpan pertanyaan yang tak terjawab.

Kenapa Tuhan tidak mengembalikannya ke tubuh Floretta sebelum Ibu meninggal? Kenapa bukan lebih cepat? Seandainya ia bisa kembali lebih awal… mungkin semuanya akan berbeda.

Flo menunduk. Air matanya menetes, jatuh ke atas meja kayu tua di depannya. Ia mengusapnya cepat, lalu menarik napas dalam-dalam.

“Aku di sini sekarang… Aku akan cari tahu semuanya. Tentang Ayah. Tentang Xander. Dan tentang alasan semua ini terjadi.”

Ia berdiri tegak, menatap ruang rahasia yang seolah menyimpan seluruh kebenaran keluarganya.

Dan Floretta Brown… siap untuk mengungkap semuanya.

Amelia Brown mulai kehilangan arah ketika perusahaan keluarga Brown resmi dinyatakan bangkrut total. Beban demi beban seolah tak memberi jeda—dan saat kabar penangkapan suaminya, Jared Brown, sebagai tersangka pembunuhan orang tua Alexander menyebar luas, dunia Amelia runtuh seketika.

Haru HaruCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang