Bukan Pilihan

20.8K 1.5K 66
                                        

Floretta membuka pintu apartemen yang ia sewa di kota Lander dengan lelah. Langkahnya pelan, pikirannya masih tertinggal di kafe tempat ia terakhir menulis pesan untuk sang barista. Namun, detik pintu terbuka, ia langsung membeku.

Alexander sudah ada di dalam.

Duduk dengan santai di atas sofa abu-abu, satu kaki disilangkan di atas lutut, jasnya terlempar sembarangan ke sandaran. Matanya menatap lurus ke arahnya—tajam, dingin, dan penuh tekanan.

Flo tidak bertanya bagaimana cara lelaki itu masuk. Ia hanya menghela napas, menutup pintu perlahan lalu melepas sepatu. Ia berjalan tenang melewati Alexander, seolah tak terganggu dengan keberadaannya. Wajahnya datar, dingin, terlalu tenang untuk wanita yang baru saja berhadapan dengan pria yang anaknya telah ia gugurkan.

Tanpa sepatah kata, Floretta menuju kamar. Namun, langkahnya dihentikan oleh suara berat yang ia kenal terlalu baik.

“Kenapa kau membunuhnya?” Suara Alexander pelan, nyaris bisikan, tapi memuat bara api yang mengancam meledak kapan saja.

Floretta berhenti di ambang pintu kamar. Ia membalik tubuhnya perlahan dan menatap Alexander—mata hitam pekatnya kosong. “Karena aku tidak menginginkannya.”

Jawaban itu bagai cambuk bagi Alexander.

Ia bangkit dari sofa dan melangkah cepat. Dalam beberapa detik, ia sudah berdiri di depan Floretta yang kini menyandarkan tubuhnya pada dinding. Wajahnya tetap tenang, tapi napasnya tak stabil. Tangannya mengepal, tidak karena takut, tapi karena menahan emosi yang mendesak ingin keluar.

“Aku dan Leila bisa merawatnya. Kalau kau tidak menginginkannya, seharusnya kau bilang!” suara Alexander meninggi, tapi masih terkontrol. Wajahnya dekat dengan wajah Flo, napas mereka nyaris bersatu.

Floretta merasa perutnya bergejolak. Bukan karena jijik—tapi karena rasa sakit. Kata "Leila" membuat tubuhnya seakan diguncang dari dalam. Ia menutup matanya sejenak, lalu mengambil napas panjang lewat hidung, menahannya tiga detik, dan menghembuskannya perlahan.

Ia menatap Alexander dengan mata penuh dendam yang dibungkus ketenangan. “Aku lebih memilih dia mati daripada harus menyerahkannya pada kalian berdua.”

Suara itu… terlalu tenang. Terlalu datar. Seolah nyawa anak yang digugurkan bukanlah bagian dari dirinya sendiri.

Alexander bergeming. Ucapan itu menghantam dadanya seperti peluru panas. Ia ingin berteriak, ingin menghancurkan sesuatu, tapi hanya mampu menatap wanita itu dalam diam.

“Kalian bisa membuat anak sendiri, Alexander. Tapi jangan pakai tubuhku. Jangan libatkan aku lagi.” lanjut Flo, suaranya pelan namun tegas. Ia melambaikan tangan dengan malas ke udara. “Sekarang, pergilah.”

Namun Alexander tak bergerak. Justru sebaliknya—ia meraih kedua tangan Flo dan menguncinya di atas kepala, menyematkannya ke dinding. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter. Napas Alexander memburu.

“Di mana Paman Jared?” tanyanya pelan, tajam. Ada nada ancaman di balik suara itu.

Flo tertawa, ringan namun menghina. “Kau masih punya muka untuk menanyakan ayahku? Apa kau tidak punya malu, Xander?”

Alexander tak menjawab. Ia hanya menatap wanita itu dalam diam, napasnya tetap berat.

“Aku bisa melindungimu. Aku bisa membiayai hidup kalian berdua. Kita masih bisa memulai—”

“Ucap seseorang yang telah menghancurkan hidup orang lain.” potong Flo, suaranya penuh ejekan.

Ekspresinya kini berubah menjadi sinis. “Apa itu hobimu sekarang? Menghancurkan orang, lalu datang seperti pahlawan yang ingin menyelamatkan?”

Haru HaruCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang