Setumpuk uang yang tadi ditemukan oleh Floretta kini telah ia amankan di dalam tas hitam yang terus ia peluk erat, seolah uang itu bisa memberi sedikit rasa aman di tengah kekacauan yang menelannya dari segala arah.
Namun lebih dari sekadar uang, bukti untuk membebaskan ayahnya—Jared Brown—telah ia temukan.
Fashdisk dan beberapa dokumen yang kini tersimpan rapi di dalam tas. Dan bukti itu. Hanya akan ia serahkan pada satu orang, Ayah Katarina.
Nama itu membuat dada Flo sedikit sesak.
Katarina.
Satu-satunya sahabat yang pernah ia percaya sepenuh hati. Tapi juga orang yang… pernah ia lukai.
Waktu itu, Katarina mengatakan bahwa Alexander—lelaki yang saat itu tengah bersamanya—sedang mendekati perempuan lain. Bagi Flo, itu seperti pengkhianatan ganda. Ia tidak hanya merasa dikhianati oleh Alexander, tapi juga oleh sahabatnya sendiri.
Alih-alih mendengar, Flo justru menuduh Katarina iri, berlebihan, bahkan mengada-ada. Dan sejak hari itu, Katarina menjauh.
Ia tak pernah membalas pesan Flo lagi. Tak pernah datang. Tak pernah menelepon.
Dan Floretta, dalam egonya yang waktu itu masih tinggi, tak peduli.
Baginya, selama Alexander tetap berada di sisinya, maka dunia masih dalam genggamannya.
Sekarang, dalam perjalanan menuju rumah sahabat yang pernah ia abaikan, Floretta merasa malu. Sangat malu.
"Apa dia akan menertawakanku sekarang?" pikirnya lirih, berusaha menahan gelombang rasa bersalah yang mulai menggigit-gigit dari dalam.
Langit mendung bergelayut rendah di atas kota Yupei sore itu. Angin berembus lembut, membawa hawa yang tidak nyaman—hawa yang entah kenapa membuat punggung Flo terasa dingin. Ia mengenakan helm dan jaket hitam panjang, motornya melaju pelan menyusuri jalanan yang mulai sepi.
Saat pagar mansion keluarga Katarina mulai terlihat di kejauhan, motor Flo tiba-tiba berhenti sendiri. Bukan karena rusak. Tapi karena ia yang mendadak menghentikannya.
Matanya membelalak pelan. Di depan rumah megah bergaya kolonial itu, terparkir sebuah mobil sedan berwarna hitam gelap.
Flo mengenali mobil itu dalam sekali pandang.
Mobil milik salah satu bawahan Xander.
Deg.
Jantungnya berdetak kencang. Seolah alarm bahaya menyala dalam kepalanya.
“Apa yang mereka lakukan di sini? Alexander… tahu aku akan ke sini?”
Tanpa pikir panjang, Flo segera memutar motornya, menjauh dari mansion Katarina secepat mungkin.
Ia tahu, jika Alexander atau anak buahnya menyadari ke mana ia pergi, maka bukan hanya nyawanya yang dalam bahaya, tapi juga nyawa Katarina dan Ayahnya.
Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan kepanikan.
Ini bukan saatnya bermain-main.
Ia tidak bisa sembrono.
Tidak sekarang.
Sambil melajukan motor ke arah jalan kecil di sisi barat, Flo mencoba berpikir cepat.
Ia butuh tempat aman. Ia harus memastikan flashdisk itu sampai ke tangan Ayah Katarina, tapi tanpa diketahui siapa pun.
Ia tahu satu hal sekarang—Alexander tidak akan tinggal diam.
Dan Flo pun tak bisa lagi mengandalkan siapa pun, kecuali dirinya sendiri.
Alexander pasti sedang mengerahkan semua bawahannya untuk mencarinya.
Floretta tahu betul bagaimana Alexander bekerja—diam, licin, dan tanpa ampun. Sekali ia kehilangan kendali atas sesuatu, maka ia akan melakukan segalanya untuk merebutnya kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Haru
FantasyLariana memiliki ingatan tentang kehidupan pertamanya, Tuhan mungkin sedang menghukumnya sehingga ia memiliki ingatan yang utuh tentang kehidupan pertama sebagai Floretta Brown. Floretta Brown anak satu-satunya dari keluarga Brown, egois, sering men...
