Kebun binatang yang baru saja dibuka di kota Are menjadi pembicaraan hangat di antara teman-teman kelas Alexander. Mereka selalu bercerita dengan penuh semangat tentang hewan-hewan yang mereka lihat—harimau yang mengaum di balik jeruji, lumba-lumba yang melompat di kolam biru, bahkan kuda poni yang bisa ditunggangi. Tak satu pun dari cerita itu yang luput dari tambahan manis, tentang ayah atau ibu mereka yang ikut menemani.
Alexander—atau Xander, begitu biasa ia dipanggil—selalu tersenyum kecil mendengarnya. Ia tidak pernah iri. Ia cukup maklum dengan orang tuanya yang sibuk, terlalu sibuk untuk hal seperti kebun binatang. Tapi semua berubah saat ayahnya tiba-tiba berjanji.
“Kalau kamu jadi peringkat pertama waktu kelulusan nanti, Ayah janji kita akan ke kebun binatang itu. Bareng, ya?”
Alexander mengangguk penuh semangat. Ia tidak pernah berada di peringkat lima besar, lebih nyaman di posisi keenam yang menurutnya ‘cukup untuk tidak terlalu diperhatikan’. Tapi kali ini berbeda. Ia ingin hadiah itu. Bukan tiket ke kebun binatang, tapi waktu bersama ayah dan ibunya.
Maka untuk pertama kalinya, Alexander benar-benar belajar. Ia tidur larut, bangun lebih pagi, menulis ulang catatan, dan ikut bimbingan belajar. Saat hari kelulusan tiba, namanya disebut sebagai peringkat pertama. Teman-temannya bersorak. Wali kelasnya terkejut. Tapi yang paling dinanti Alexander adalah janji ayahnya.
Namun satu bulan berlalu, dan janji itu tetap tinggal janji. Orang tuanya terus sibuk, dengan kata-kata yang sama setiap kali ia bertanya, “Nanti ya, Sayang. Minggu depan. Sabar.”
Hingga suatu pagi, Alexander diam-diam memutuskan kalau orang tuanya tak bisa menemaninya, ia akan pergi sendiri.
Sendirian, ia naik bus menuju kota Are. Ia mengunjungi kebun binatang itu, mencoba menikmati semua yang pernah diceritakan teman-temannya. Tapi yang terasa hanya hampa. Bahkan kuda poni pun tak bisa membuatnya tersenyum.
Saat hari mulai gelap, dan ia keluar dari kebun binatang, matanya menangkap sosok yang amat ia kenal. Ayah dan ibunya berdiri di dekat pintu keluar, wajah mereka panik dan lelah, tapi juga lega melihat putra mereka. Mereka berlari menghampiri Alexander, mencoba menjelaskan, meminta maaf.
Alexander tidak menjawab. Ia masuk ke mobil lebih dulu, memasang wajah datar dan berpura-pura tidur, mengabaikan segala upaya bicara dari kedua orang tuanya.
Namun di tengah perjalanan pulang, semuanya berubah.
Benturan keras mengguncang mobil. Alexander terhentak dari posisinya, matanya terbuka lebar. Ia menoleh, melihat kedua orang tuanya yang kini berlumuran darah. Ibunya memeluknya erat, tubuhnya menjadi tameng pelindung.
Lalu terdengar suara pintu mobil dibuka. Alexander sempat merasa lega. Pertolongan datang, pikirnya. Tapi saat ibunya menutup telinganya dengan kedua tangan berdarah dan menatapnya penuh air mata, senyum getir mengembang di bibirnya.
Satu tembakan meledak.
Lalu satu lagi.
Kedua tangan ibunya terlepas begitu saja, tubuhnya jatuh menindih Alexander. Darah hangat membasahi baju dan wajahnya. Ia menahan napas, tubuhnya gemetar. Dari celah matanya, ia melihat orang-orang berpakaian hitam dengan penutup wajah berdiri mengelilingi mobil.
Lalu terdengar suara seorang pria.
"Misi selesai. Hanya tikus kecil yang tersisa."
Dan sebelum semuanya menghitam, hal terakhir yang Alexander lihat adalah liontin yang menggantung di leher salah satu pelaku—sebuah kalung berbentuk burung merpati terbang.
Saat Alexander terbangun, ia sudah berada di rumah sakit. Di sampingnya duduk seorang pria dewasa dengan wajah ramah namun mata yang menyimpan kepedihan. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai sahabat ayah Alexander.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Haru
FantasyLariana memiliki ingatan tentang kehidupan pertamanya, Tuhan mungkin sedang menghukumnya sehingga ia memiliki ingatan yang utuh tentang kehidupan pertama sebagai Floretta Brown. Floretta Brown anak satu-satunya dari keluarga Brown, egois, sering men...
