Lariana masih terduduk lemah di lantai. Dunia di sekelilingnya terasa hening meski ruangan ramai. Suaranya sendiri seperti terperangkap di dalam tubuh, tak mampu keluar. Ia bahkan tidak sadar bahwa seorang pelayan perempuan menghampirinya.
“Maaf, Nona... biar saya bantu,” ucap pelayan itu lembut, membungkuk dan memapah tubuh Lariana yang masih gemetar. Dengan hati-hati, ia membantu Lariana berpindah ke kursi terdekat. Lariana belum sempat mengucapkan terima kasih ketika pelayan itu sudah kembali berlalu.
Beberapa menit kemudian, pelayan yang sama datang lagi, kali ini dengan sebotol air mineral dan sekantung es kecil.
“Ini, Nona... semoga bisa membantu,” katanya pelan, menyodorkan barang-barang itu.
Lariana menatapnya sebentar, lalu tersenyum samar. “Terima kasih...” ucapnya tulus, meski suaranya nyaris tak terdengar.
Pelayan itu mengangguk sopan lalu pamit kembali bekerja, menyisakan Lariana seorang diri. Ia mengambil kantung es dan menempelkannya perlahan ke pipi kirinya. Rasa dingin langsung menyengat kulitnya, namun rasa itu lebih bisa ditoleransi daripada denyut nyeri yang terus berdebar sejak tadi. Bahkan kini, telinganya mulai berdengung. Tamparan Leila meninggalkan jejak, bukan hanya di wajah, tapi juga di hati.
Sekarang aku kembali menjadi Floretta Brown. Bukan lagi Lariana.
Pernyataan itu terus bergema di kepalanya, seperti mantra kutukan yang tak bisa ia lawan. Berapa lama pun ia mencoba memikirkan apa yang terjadi, mencari celah logis atas semua ini, ia tetap tidak menemukan jawabannya.
Satu-satunya kemungkinan yang masuk akal—atau paling tidak yang terasa masuk akal—adalah bahwa Tuhan memang sengaja melemparkannya kembali ke tubuh ini, sebagai bentuk hukuman yang belum selesai.
Entah ini sebuah hukuman ataupun kutukan, Floretta tidak perduli ia akan menganggap semua ini kesempatan.
Tangannya menggenggam erat botol air mineral, seolah dengan itu ia bisa menenangkan diri. Namun pikirannya kembali melayang.
Hari ini…
Perlahan, kenangan itu muncul. Hari ini adalah sehari setelah ayahnya, Jared Brown, ditangkap oleh pihak kepolisian. Tuduhannya? Menjadi dalang di balik kematian orang tua Alexander Winston. Sebuah tuduhan yang menghancurkan segalanya—martabat keluarga, warisan, dan harga diri.
Dulu, sebagai Floretta, ia tak percaya ayahnya bisa melakukan hal sekeji itu. Ia terlalu mencintai dan mengagumi Jared Brown. Dalam kepolosan dan kebodohannya, ia berpikir ada pihak lain yang membuat Alexander berubah, yang menghasutnya—dan orang itu adalah Leila.
Ya, hari ini Floretta memang meminta bertemu Leila. Niatnya saat itu adalah untuk memohon—atau lebih tepatnya memaksa—Leila agar menjauh dari Alexander. Ia percaya, jika Leila pergi, maka Xander akan kembali seperti dulu. Lembut. Penuh kasih. Dan akan memaafkan keluarganya.
Tapi sekarang, sebagai Lariana yang terperangkap dalam tubuh Floretta, ia tahu betapa naifnya pikiran itu. Leila bukan akar dari kebencian Alexander.
Leila hanyalah pengamat dalam panggung dendam yang sudah lama dibangun Xander. Bahkan tanpa kehadiran Leila, Alexander tetap akan menghancurkan keluarga Brown. Kebencian itu bukan sekadar reaksi sesaat—itu adalah rencana hidup yang telah ia tata dengan rapi dan penuh ketekunan.
Dan Floretta… hanya pion yang telah dijatuhkan dari awal permainan.
Floretta memejamkan mata, napasnya tertahan. Kantung es mulai mencair, airnya mengalir pelan di pipinya. Tangannya gemetar, tapi bukan karena rasa sakit. Ini adalah gemetar yang datang dari hati—dari luka yang sudah terlalu lama membusuk dan sekarang dipaksa terbuka kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Haru
FantasíaLariana memiliki ingatan tentang kehidupan pertamanya, Tuhan mungkin sedang menghukumnya sehingga ia memiliki ingatan yang utuh tentang kehidupan pertama sebagai Floretta Brown. Floretta Brown anak satu-satunya dari keluarga Brown, egois, sering men...
