Kenangan

21.4K 1.5K 8
                                        

Katarina dan Floretta berdiri di area belakang restoran, di dekat pintu layanan yang digunakan para karyawan untuk keluar masuk dapur. Angin sore berembus lembut, membawa aroma masakan dari dapur yang bercampur dengan debu jalanan. Meski suasananya cukup tenang, jantung Floretta berdetak kencang. Ia terus memandangi pintu logam yang sesekali terbuka, berharap keberuntungan berpihak padanya hari ini.

Flo tak punya pilihan selain menunggu. Ia tak pernah meminta nomor ponsel Naina sebelumnya—sebuah kesalahan kecil yang kini terasa besar. Satu-satunya harapan adalah bahwa Naina masih bekerja di sana dan bisa keluar untuk menemuinya.

Beberapa menit kemudian, seorang pria bertubuh besar mengenakan apron keluar membawa kantung sampah. Spontan, Flo segera menghampirinya.

“Permisi,” ucap Flo sopan. “Apa kamu bisa menyampaikan ke Naina, kalau ada seseorang sedang mencarinya dan menunggunya di belakang?”

Pria itu menatap Floretta beberapa detik, seolah berusaha mengenali wajah yang sempat dia lihat sebelumnya. Lalu ia mengangguk perlahan.

“Oh, kamu yang waktu itu… Oke, tunggu di sini.”

Ia masuk kembali ke dapur, dan beberapa saat kemudian, pintu terbuka lagi. Kali ini, sosok Naina muncul dari baliknya. Wajahnya sedikit terkejut, tetapi segera tersenyum ketika melihat Floretta berdiri di sana.

“Maaf, aku datangnya lama,” kata Naina sambil menyerahkan kantong kertas berisi sebuah ponsel dan kunci mobil.

Floretta segera membukanya dan memeriksa isinya. Sebuah ponsel baru dengan SIM card yang telah diaktifkan dan kunci mobil dengan gantungan hitam. Ia menghela napas lega.

“Kau luar biasa, Naina. Terima kasih.”

Naina tersenyum kecil, namun rona khawatir tampak jelas di wajahnya. “Tak lama setelah kamu pergi waktu itu… beberapa orang datang mencarimu ke restoran. Mereka besar, berpenampilan kasar dan menyeramkan.”

Flo menegang. “Apa mereka bicara sesuatu?”

“Mereka cuma bilang ingin mengecek CCTV. Tapi sebelum mereka datang, aku sudah melaporkan kejadian waktu itu ke manajerku. Aku takut kamu dalam bahaya.”

Melihat wajah Floretta memucat, Naina menambahkan, berusaha menenangkan, “Tapi kamu beruntung. CCTV dapur memang sedang rusak. Teknisi yang dijadwalkan datang hari itu, malah telat. Mereka tidak bisa mendapatkan rekaman apa-apa.”

Floretta menatap Naina lama, matanya berkaca. Seketika, tubuhnya bergetar halus—bukan karena ketakutan, tapi rasa terima kasih yang menyesak di dada.

Setelah Naina menemui managernya beberapa temannya datang menghampiri Naina untuk bergosip. Salah satu teman Naina bercerita jika perempuan yang di tolong Naina adalah Floretta Brown. Ia menceritakan Keluarga Floretta tengah mengalami masalah Ayahnya terlibat kasus pembunuhan Ibunya di kabarkan tiba-tiba meninggal sampai sekarang tidak ada yang tahu penyebabnya. Berita keluarga Brown sendiri menjadi urutan teratas yang selalu di cari oleh publik.

Orang-orang sendiri yang mendengar kabar tersebut tidak langsung percaya, karena Jared Brown di kenal pribadi yang sangat baik dan rendah hati bagaimana mungkin ia membunuh seseorang. Tetapi orang-orang tidak berani mengutarakan pendapatnya mereka cukup takut dengan Alexander Winston.

“Ini…” Flo menyerahkan kunci motor dan kantung berisi hoodie yang pernah ia pinjam dari Naina. “Aku sudah cuci bersih, dan… terima kasih, Naina. Aku sungguh berhutang nyawa padamu.”

Naina hanya mengangguk. Tapi saat Floretta memeluknya hangat dan tulus, Naina membalas pelukan itu, tidak tahu bahwa di dalam kantong hoodie yang ia terima telah diselipkan sejumlah uang.

Haru HaruCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang