Floretta berdiri mematung di depan sebuah rumah sederhana bercat putih yang mulai pudar termakan waktu. Tidak ada pagar, tidak ada kamera keamanan. Rumah itu berdiri sendiri, terpencil dari bangunan lain, seolah sengaja dijauhkan dari hiruk-pikuk kota. Pepohonan rindang di sekelilingnya menjadikannya nyaris tak terlihat dari jalan utama—tempat sempurna untuk menyimpan rahasia.
Ia menatap rumah itu lekat-lekat. Inilah tempat yang dimaksud Ayahnya dalam satu-satunya percakapan mereka tentang "simpanan terakhir". Dulu, Floretta tak pernah mengerti kenapa pria seperti Jared Brown—konglomerat, pengusaha, dan penyimpan sejuta rahasia—memilih rumah sesunyi ini untuk menyembunyikan sesuatu yang sangat penting.
Kini ia mengerti.
Setelah yakin tidak ada orang di sekitar, Flo melangkah pelan ke arah teras rumah. Setiap langkahnya menimbulkan bunyi lembut dari daun-daun kering yang terinjak. Tangan kirinya menyentuh gagang pintu dengan hati-hati. Ia mendorongnya pelan, namun terkunci rapat.
"Ya ampun, Flo, mana mungkin rumah kayak gini dibiarkan terbuka gitu aja," gumamnya dengan nada menyindir diri sendiri. Ia memutar matanya kesal dan menepuk pelan keningnya. "Bodoh."
Ia menghela napas, berusaha berpikir jernih. Kemudian—klik—sebuah memori kecil menyalakan lampu di kepalanya.
Lariana.
Identitas masa lalunya yang keras, penuh kelicikan bertahan hidup. Lariana yang mahir membuka kunci pintu, laci, bahkan lemari besi kecil dengan hanya bermodalkan jepit rambut dan insting.
Segera, Flo menyibak isi tasnya, mencari-cari benda mungil penyelamat itu. Jemarinya menyapu dompet, masker cadangan, tisu, lalu—ah, jepit rambut logam berwarna perak yang hampir terlewat. Matanya membulat cerah. Ia mencium jepit rambut itu berkali-kali seperti menemukan kunci dunia.
“Terima kasih, Lariana,” bisiknya dengan senyum penuh makna.
Ia berlutut di depan pintu, memasukkan jepit rambut ke lubang kunci, lalu mulai bekerja. Jari-jarinya bergerak cepat, cekatan. Meskipun sudah lama tidak digunakan, keahlian itu tidak hilang. Ia memiringkan kepala, merasakan gerakan kecil di dalam mekanisme kunci, mendengarkan suara klik halus yang akrab di telinganya.
Beberapa detik kemudian…
Klik.
Floretta menahan napas. Ia memutar kenop pintu sekali lagi—dan pintu itu perlahan terbuka.
“Voila,” gumamnya, senyum kecil mengembang di wajahnya. Ia merasa sedikit menang hari ini.
Ia masuk ke dalam, menutup pintu di belakangnya pelan-pelan, membiarkan keheningan rumah menyambutnya. Aroma debu dan kayu tua menyeruak di udara. Semua masih seperti dulu, seperti yang Ayahnya ceritakan. Dinding putih dengan bingkai foto keluarga di atas meja kecil, rak buku penuh berkas dan dokumen, dan lemari kayu besar di sudut ruangan.
Floretta berjalan perlahan, menyusuri ruangan dengan hati-hati. Matanya mencari-cari tanda, sesuatu yang spesifik. Ia tahu, jika benar apa yang Ayahnya katakan sebelum beliau menghilang, maka di salah satu bagian rumah ini tersembunyi sesuatu yang bisa membalikkan keadaan. Bukti bahwa Jared Brown bukan pembunuh seperti yang dunia tuduhkan padanya.
Dan ia… harus menemukannya sebelum siapa pun menyadari keberadaannya.
Sudah dua jam berlalu.
Keringat dingin membasahi pelipis Floretta saat ia terduduk di lantai ruang tengah yang berdebu. Kertas-kertas berserakan, laci-laci terbuka, dan lemari buku sudah ia periksa satu per satu—namun hasilnya nihil. Kekecewaan mulai merayapi dadanya. Ia bahkan sempat berpikir, “Apa aku salah rumah? Salah tempat?”
Jika benar, itu berarti kesalahan fatal. Ia bisa tertangkap, atau lebih buruk… dituduh membobol rumah orang lain. Satu kesalahan saja bisa menghancurkan rencana yang sudah ia susun dengan hati-hati.
Dengan kepala pening dan tubuh pegal karena terus membungkuk, Flo menatap ke sekitar, matanya menyapu bagian bawah tangga tua yang terbuat dari kayu gelap. Ada sesuatu yang mencolok—sekilas tampak seperti dua daun pintu kecil tersembunyi di bawah tangga. Pintu lemari?
Flo bangkit, sedikit berjingkat, lalu menarik pegangan pintu tersebut. Bunyi engsel tua berdecit saat pintu terbuka. Di baliknya, terlihat tumpukan kardus yang ditata acak dan berdebu.
Napas Flo tertahan.
Tanpa pikir panjang, ia berlutut dan mulai menarik keluar satu per satu kardus, menyusunnya di samping. Kardus-kardus itu ringan tapi besar, berisi kertas-kertas tua, album foto lama, dan beberapa pernak-pernik usang. Hingga akhirnya.‥
Ia menemukannya.
Sebuah bagian lantai kayu yang tidak sewarna dengan papan lainnya. Ada celah samar di tepinya. Tangan Flo gemetar saat menyentuh kayu tersebut. Ia menekannya perlahan—dan benar saja, papan itu bisa diangkat. Saat terbuka, tampaklah sebuah lubang gelap dengan tangga menurun ke bawah tanah.
Jantung Flo berdebar kencang.
“Ini dia…” gumamnya pelan.
Tangannya masih gemetar ketika ia meraih senter kecil yang ia temukan di laci dapur beberapa menit lalu. Cahaya redup dari senter menyapu dinding sempit lorong bawah tanah yang tampak sepi dan lembap. Aroma tanah dan logam tua memenuhi udara.
Flo menarik napas dalam-dalam. Ia menuruni tangga perlahan, langkah demi langkah, suara sepatunya menggema di dinding batu. Semakin jauh ia masuk, lorong itu terasa makin luas. Dinding berubah dari kayu menjadi beton, dan lampu-lampu neon mati menggantung di langit-langit yang rendah. Lorong itu terasa seperti sisa peninggalan perang—tersembunyi dan dingin.
Lalu, ia tiba di ujung lorong.
Sebuah pintu logam besar berdiri di hadapannya. Tidak ada pegangan biasa. Hanya panel elektronik dengan keypad angka digital dan sensor sidik jari di sampingnya.
Flo menelan ludah.
“Jelas bukan untuk aku…” pikirnya saat menatap sensor sidik jari itu. Tidak mungkin ia bisa mengaksesnya dari situ. Tapi keypad angka masih aktif—berarti ada cara manual.
Dan saat itulah, kenangan itu datang menghantamnya seperti badai.
***
“Anak Ayah, kenapa melamun di sini?”
Floretta, usia tujuh belas, duduk di ruang tengah rumah besar mereka, kepala bersandar di meja makan.
"Besok Mama mau ajak aku ke bank, bikin ATM. Tapi aku bingung bikin sandinya. Aku gampang lupa..."
Jared Brown tersenyum hangat, duduk di samping putrinya, tangannya mengacak rambut Flo perlahan.
“Flo tahu jarak antara Andromeda dan Bulan?”
Flo mengangguk cepat. Ia sangat tahu. Ibunya sering menceritakan kisah tentang rasi bintang Andromeda setiap malam. Angka jarak itu bahkan ia hafal sejak kecil.
“Pakai angka itu. Ayah juga pakai angka itu. Tapi ini rahasia kita, ya?”
Flo memicingkan mata, penuh rasa ingin tahu. “Mama sama Xander juga enggak boleh tahu?”
Jared mencubit gemas hidung putrinya dan menjawab dengan tegas, “Tidak boleh! Hanya kita berdua.”
---
Flo mengangkat tangannya ke keypad.
Jari-jarinya mengetik pelan angka yang sudah ia hafal selama bertahun-tahun.
Ia menahan napas.
Beep.
Beep.
Beep.
Klik.
Lampu hijau menyala. Suara logam bergeser mengisi lorong yang senyap.
Pintu terbuka perlahan.
Cahaya dari senter Flo menyapu ruangan di balik pintu. Sebuah ruangan rahasia kecil menyambutnya. Dindingnya dilapisi rak logam penuh dokumen, brankas, dan komputer tua. Di tengah ruangan berdiri sebuah meja besar dengan beberapa tumpukan berkas berdebu.
Tapi bukan itu yang membuat Flo membeku.
***
04-06-23
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Haru
FantasiaLariana memiliki ingatan tentang kehidupan pertamanya, Tuhan mungkin sedang menghukumnya sehingga ia memiliki ingatan yang utuh tentang kehidupan pertama sebagai Floretta Brown. Floretta Brown anak satu-satunya dari keluarga Brown, egois, sering men...
