Setelah mengetahui dirinya ditipu habis-habisan oleh pamannya sendiri, Gene Winston, amarah Alexander tak bisa lagi dibendung. Meskipun Gene kini telah dijebloskan ke dalam sel dengan tuduhan pencucian uang, pemalsuan dokumen, dan penggelapan aset keluarga Winston, rasa puas itu tidak pernah benar-benar hadir. Bagi Alexander, penjara terlalu ringan bagi pengkhianat berdarah dingin seperti pamannya.
Dalam diam yang menyeramkan, Alexander menculik Gene dari dalam sistem yang seharusnya mengurungnya. Semua dilakukan dengan rapi dan rahasia. Kini Gene Winston duduk tak berdaya di “kursi kematian”, sebuah alat penyiksaan yang Alexander desain sendiri—dingin, mekanis, dan tanpa belas kasihan.
Tubuh Gene gemetar, darah mengalir dari kakinya yang telah ditusuk berkali-kali oleh mesin otomatis dengan pisau berputar kecil di ujungnya. Hujaman itu dilakukan perlahan, satu per satu, seakan memberi waktu bagi rasa sakit untuk menjalar dan mengakar. Di atas kepalanya, ember logam berisi air es terpasang di alat penetes otomatis, menyiram tubuhnya secara berkala. Tubuh renta itu menggigil hebat, kulitnya membiru, giginya bergemeletuk tak terkendali.
“Bunuh aku saja! Dasar keparat! Bunuh aku sekarang juga!!” teriak Gene, suaranya serak bercampur darah.
Namun di balik kaca satu arah, Alexander berdiri tegak dalam bayang-bayang ruangan pengawasan. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi amarah yang meledak-ledak. Ia hanya menyeringai tipis, dingin dan kejam, seperti harimau yang puas menunggu buruannya meronta. Baginya, kematian instan adalah hadiah. Gene harus merasakan setiap detik rasa sakit seperti yang dialami kedua orangtuanya.
Pintu ruangan berdecit pelan dibuka. Seorang pria berjas rapi masuk dengan membawa folder laporan di tangannya. Kevin, orang kepercayaan Alexander, berdiri tegak di sampingnya.
“Semua sudah dipastikan,” ucap Kevin. “Jared Brown mengirimkan sejumlah uang untuk menutup seluruh biaya pemakaman Amelia Brown, juga gaji para pelayan. Selain itu, dia telah menjual mansion Brown dan semua properti yang tersisa.”
Alexander tetap menatap ke arah Gene di ruang penyiksaan.
“Mereka tidak akan kembali lagi ke rumah itu,” tambah Kevin. “Flo… benar-benar telah pergi. Dan Benedict memperketat penjagaan di wilayahnya.”
Suasana menjadi hening sejenak sebelum Alexander berkata dengan suara tenang namun tajam, “Lakukan apa pun agar kita bisa menyusupkan mata-mata ke dalam lingkaran mereka.”
Kevin menghela napas panjang. “Kalau kita terlalu memaksa, bisa memicu konfrontasi besar. Ini bukan hanya keluarga Grissham, tapi seluruh jaringan bisnis mereka.”
“Kalau perlu, bakar salah satu gudang senjatanya.” Ucapan Alexander terdengar ringan, seperti meminta Kevin memesan makan siang. Matanya tetap lurus menatap Gene yang mulai memohon lirih dari kejauhan.
Kevin memijit pelipis, frustrasi. “Itu akan mempercepat perang terbuka.”
“Tidak masalah,” jawab Alexander datar. “Dia terlalu sering menyentuh apa yang bukan miliknya.”
Rahangnya mengeras. Luka lama yang tidak pernah sembuh kembali menyala dalam dirinya. Dulu, saat mereka kecil, Benedict dan adiknya, Katarina, sering datang ke mansion Brown. Mereka disambut dengan hangat, selalu menjadi pusat perhatian.
Dan saat itu… Floretta kecil, yang biasanya mengikuti Alexander ke mana pun, mendadak berubah arah. Ia meninggalkannya hanya untuk bermain bersama Benedict. Itu hanya masa kecil, tapi perasaan ditinggalkan tertanam kuat dalam benaknya.
Kini, situasi yang sama terulang. Floretta kembali berdiri di belakang pria itu. Berdiri… bukan di belakangnya, Alexander. Meski semua ini adalah akibat dari ulahnya sendiri, egonya terlalu besar untuk mengakuinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Haru
FantasyLariana memiliki ingatan tentang kehidupan pertamanya, Tuhan mungkin sedang menghukumnya sehingga ia memiliki ingatan yang utuh tentang kehidupan pertama sebagai Floretta Brown. Floretta Brown anak satu-satunya dari keluarga Brown, egois, sering men...
