Hewan Pengerat

19.4K 1.3K 13
                                        

Selama dua tahun sejak kepergian Floretta, pemandangan botol-botol minuman kosong yang berserakan di atas karpet bukan lagi hal asing bagi Kevin setiap kali ia datang ke apartemen Tuannya. Aroma alkohol basi yang menyengat, bercampur dengan udara lembap dari jendela yang jarang dibuka, menyambutnya seolah menjadi rutinitas yang tak pernah absen.

Sudah tak terhitung berapa kali Kevin menerima panggilan telepon dari bartender langganan yang memberitahukan bahwa Alexander ditemukan dalam keadaan tak sadarkan diri di sudut bar—terlalu mabuk untuk mengingat nama belakangnya sendiri. Setiap kali itu terjadi, Kevin akan datang, membayar tagihan, lalu mengantar pria itu pulang, membawanya ke ranjang tanpa banyak tanya.

Menghela napas panjang, Kevin mengenakan sarung tangan karet lalu mengambil kantong sampah besar dari lemari dapur. Dengan gerakan tenang namun cekatan, ia mulai memunguti botol-botol kosong satu per satu, suaranya beradu pelan saat menyentuh plastik. Karpet berbulu lembut di ruang tamu tampak kehilangan warna aslinya, sebagian besar tertutup noda yang tak sepenuhnya bisa hilang meski telah dibersihkan berkali-kali.

Langkah kaki terdengar dari lorong. Alexander muncul dari dalam kamar, rambutnya masih basah meneteskan air ke bathrobe abu-abu yang menggantung longgar di tubuhnya. Wajahnya tampak lebih kurus, garis rahang yang dulu tegas kini sedikit tersembunyi di balik janggut tipis yang tumbuh tak terurus.

Ia menjatuhkan tubuh ke sofa kulit hitam dengan suara desahan lelah. “Kau sudah datang?” suaranya serak, seperti baru saja bangun dari tidur panjang.

Kevin menaruh mug berisi kopi hitam panas yang sudah ia siapkan di atas meja kecil di dekat sofa, lalu berdiri tegak di sisi kiri, menjaga jarak seperti biasa. Ia menatap Tuannya sejenak sebelum akhirnya membuka suara.

“Orang tua Nona Leila mengundang Tuan ke pesta perayaan pernikahan mereka.”

Alexander mengangkat alis, menegakkan bahunya dan meraih mug kopi itu. Ia menyesapnya perlahan sebelum bertanya dengan nada sarkastik, “Kali ini apa lagi?”

Kevin menahan napas sejenak sebelum menjawab, “Tuan Richard akan mencalonkan diri sebagai wali kota. Mereka menjadikan pesta ini sebagai panggung awal kampanye.”

Alexander tertawa pendek, getir. “Dan biar kutebak, aku bagian dari pertunjukan itu?”

Kevin mengangguk pelan. “Dia juga telah memberi pernyataan kepada media dan para pendukungnya bahwa Tuan dan Nona Leila akan segera menikah.”

Alexander menghentikan gerakan tangannya. Tatapannya menajam, rahangnya mengeras. Namun sebelum sempat ia mengucapkan sesuatu, Kevin menambahkan, “Mereka juga menginginkan Villa Summer sebagai hadiah perayaan pernikahan. Katanya, itu simbol kerja sama dua keluarga.”

Suara mug yang diletakkan kembali ke atas meja terdengar begitu keras, menandakan kemarahan yang ditahan. “Huh. Para tikus itu,” gumam Alexander dengan suara rendah dan tajam. Matanya menyipit, seolah membayangkan wajah mereka satu per satu. “Selalu mengendus sisa-sisa kekuasaan, tak tahu malu.”

Hening sesaat menyelimuti ruangan, hanya terdengar bunyi detak jam dan desau angin dari luar jendela.

Alis Alexander terangkat tipis, menyiratkan keraguan. Ia mencoba mengingat, barangkali secara tak sadar ia pernah menjanjikan sesuatu kepada keluarga Leila. Namun sejauh ingatannya berjalan, tak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya tentang pemberian hadiah pernikahan—terlebih lagi Villa Summer.

Kevin menangkap keraguan itu, lalu segera menjelaskan dengan nada tenang namun tegas. “Karena opini publik mengatakan, Anda membeli properti milik Tuan Jared sebagai bentuk hadiah untuk Nona Leila dan keluarganya.”

Alexander menyipitkan mata. Ia memutar mug kopi perlahan di tangannya.

“Namun hingga kini Anda tidak kunjung memberikan apa pun. Jadi Tuan Richard, dengan segala kelihaiannya, menyampaikannya sebagai permintaan resmi, hadiah pernikahan dalam bentuk properti.”

Haru HaruCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang