Alexander tahu saat Floretta mengucapkan kalimat itu.
"Jika kau meninggalkanku begitu saja, maka kau tidak akan pernah melihatku lagi"
Bahwa kali ini bukan sekadar ancaman kosong seperti sebelumnya. Bukan sekadar permainan emosi atau bentuk pemberontakan sementara. Nada suara Floretta waktu itu begitu datar, nyaris dingin… tapi di balik ketenangannya tersembunyi niat yang nyata. Ia sungguh-sungguh.
Namun Alexander tetap tidak merasa gentar. Di pikirannya, sekalipun Floretta pergi, ia pasti akan menemukannya kembali. Ia memiliki koneksi. Ia punya Rales, jaringan pelacak bawah tanah terbaik. Ada juga Dean, yang selama ini selalu bisa diandalkan. Floretta tak akan bisa lari jauh.
Namun kenyataan tidak berpihak padanya.
Satu tahun telah berlalu.
Dan tak ada satu pun jejak. Tak ada lokasi. Tak ada sinyal. Tak ada nama samaran yang mencurigakan di rumah sakit atau klinik manapun. Dean mengaku sudah mengerahkan seluruh orangnya, menyisir seluruh Eighth dan kota-kota di sekitarnya. Tapi hasilnya tetap nihil.
Alexander tidak berhenti di sana. Ia juga memantau keluarga Grissham secara diam-diam, terutama Benedict yang dulunya paling dekat dengan Floretta. Ia menanam mata-mata yang selalu melaporkan aktivitas keluarga tersebut, namun tak satu pun dari mereka tahu ke mana perginya Floretta dan ayahnya. Bahkan keluarga Grissham sendiri—yang selama ini terlihat begitu tertutup—tampak sedang melakukan pencarian secara diam-diam.
Ketidakpastian itu menghancurkannya sedikit demi sedikit.
Setiap malam, Alexander mencoba memaksakan diri untuk melupakan Floretta. Ia menatap wajah Leila, yang lembut dan penuh pengertian. Ia mencoba mengisi pikirannya dengan bayangan masa depan yang tenang. pernikahan indah, Leila sempurna. Anggun, penyabar, dan sangat mirip dengan almarhumah ibunya.
Sedangkan Floretta… keras kepala, sembrono, tidak punya kendali emosi, dan tidak bisa diatur.
"Dia tidak cocok menjadi Nyonya Winston," gumamnya berulang kali, seolah-olah dengan mengulang kalimat itu ia bisa memprogram ulang perasaannya.
Tapi kenyataan menamparnya lagi dan lagi.
Setiap kali melihat Leila tertawa dengan sahabat pria yang telah menemaninya sejak kecil, ia hanya merasa… datar. Tak ada rasa cemburu, tak ada gelombang emosi. Tapi cukup ia melihat satu potret lama Floretta tertawa di samping Benedict—atau mengingat ekspresi Floretta saat bicara dengan pria lain—dadanya terasa terbakar. Ada gelombang kemarahan, kecemburuan, dan rasa kepemilikan yang meluap begitu kuat sampai ia tak mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Alexander kembali menginggat satu bulan sebelum semuanya hancur… sebelum ia menyeret Jared ke kantor polisi dan menghancurkan keluarga Brown…
Saat ia mendengar satu berita kecil dari Kevin.
"Ada pria yang datang melamar Nona Floretta," ujar Kevin saat itu, sedikit ragu. "Namanya Sam Murdock. Putra kedua dari keluarga Murdock."
Alexander tidak menunggu informasi lebih lanjut. Ia langsung melesat, mengambil kunci mobil tanpa sepatah kata, lalu melaju ke mansion keluarga Brown dalam kecepatan tinggi. Kemarahannya bahkan mengalahkan logika.
Saat tiba, kepala pelayan bernama Elena membukakan pintu dengan wajah gugup. “Tuan dan Nyonya Brown sedang tidak di rumah, Tuan Winston. Hanya ada Nona Floretta, di kamarnya.”
Ia tak menjawab. Kakinya melangkah cepat, mendaki tangga menuju lantai atas tanpa izin. Ia bahkan tidak mengetuk saat membuka pintu kamar Floretta—pintu itu tidak dikunci.
Di dalam, Floretta tengah tengkurap di atas kasur, wajahnya terkubur dalam bantal. Rambutnya yang panjang berantakan, dan tubuhnya membentuk siluet lemah, seolah baru saja melewati sesuatu yang melelahkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Haru
FantasyLariana memiliki ingatan tentang kehidupan pertamanya, Tuhan mungkin sedang menghukumnya sehingga ia memiliki ingatan yang utuh tentang kehidupan pertama sebagai Floretta Brown. Floretta Brown anak satu-satunya dari keluarga Brown, egois, sering men...
