Lariana masih mengikuti truk di depannya, tangannya menggenggam setir erat, sementara pandangannya sesekali melirik ke kaca spion. Berkali-kali ia menghela napas panjang, mencoba mengusir kegelisahan yang menumpuk di dadanya. Tapi entah kenapa, perasaan itu justru semakin menyesakkan. Ia tak tahu apakah ini rasa bahagia atau justru kesedihan yang tak bernama.
Hari ini seharusnya menjadi hari yang istimewa. Hari di mana mimpinya menjadi nyata—sebuah rumah mungil di tepi pantai, hasil kerja keras bertahun-tahun tanpa henti. Tapi ada sesuatu yang terasa janggal. Hampa. Dingin.
Pikirannya melayang pada obat yang diresepkan oleh psikiaternya. Ia ingin sekali menelannya sekarang, berharap rasa gelisah ini segera mereda. Namun ia tahu itu bukan pilihan bijak. Obat itu memiliki efek samping yang berat—kantuk yang bisa membahayakan jika ia meminumnya saat menyetir.
Kepalanya mulai terasa berisik. Kebisingan itu bukan dari luar, tapi dari dalam dirinya sendiri. Lalu, suara itu muncul. Suara yang sudah lama ia kubur dalam-dalam.
"Floretta."
"Floretta..."
Lariana mencengkeram setir lebih kuat, berusaha fokus. Tapi suara itu makin jelas, makin lantang, seolah ada seseorang yang memanggilnya dari dalam pikirannya sendiri. Suara masa lalu yang menolak untuk dilupakan.
"Floretta..."
Panik mulai menyerang. Lariana, dalam refleks putus asa, melepaskan satu tangannya dari kemudi dan menutup salah satu telinganya. Lalu yang satu lagi. Seolah itu bisa menghentikan suara-suara itu.
Namun kesalahan itu nyaris fatal.
Dalam sekejap, mobilnya keluar jalur.
Saat ia sadar, matanya langsung membelalak melihat sekumpulan anak-anak TK di pinggir jalan, sedang bersiap menyeberang dengan guru mereka. Detik itu juga, tanpa pikir panjang, Lariana membanting setir ke kanan, mencoba menghindari mereka.
Mobilnya melaju liar. Ban depan menghantam trotoar, lalu menukik tajam ke jalur yang berlawanan arah. Ia nyaris berteriak saat melihat sebuah bus besar meluncur dari sisi kiri, terlalu dekat untuk bisa dihindari.
BRAK!!!
Suara benturan keras antara mobil dan bus membuat orang-orang di sekitar berteriak panik. Beberapa berlari mendekat, yang lain hanya terpaku dengan wajah ngeri. Di tengah kekacauan itu, Lariana masih setengah sadar di balik kemudi. Kepalanya berlumuran darah, pandangannya kabur, dan rasa sakit merayap perlahan dari pelipis hingga ke tengkuk.
Dalam hati, ia hanya bisa bertanya lirih, “Kapan dunia akan berpihak padaku?”
Ia ingin tidur. Ingin menyerah. Rasanya sia-sia sudah berusaha bertahan sebagai Lariana—seseorang yang mencoba menebus kesalahan hidup lamanya, tapi tetap saja tak diberi ruang untuk bernapas oleh takdir.
***
Saat kesadarannya kembali, cahaya terang dari lampu ruangan menyilaukan matanya. Pertama kali ia membuka mata, yang terlihat adalah seorang perempuan berkacamata, dengan rambut dicepol rapi dan poni menutupi kening. Matanya merah, penuh kemarahan yang nyaris meledak. Tangan perempuan itu terkepal di sisi tubuhnya, berdiri tepat di hadapan Lariana.
Atau... bukan Lariana.
Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Seharusnya ia sudah mati. Tapi mengapa sekarang ia masih bisa merasakan?
Saat tangan kanannya perlahan menyentuh pipi kirinya, rasa nyeri tajam menyambutnya. Kulitnya berdenyut. Sudut bibirnya berdarah. Seseorang telah menamparnya—dan bukan dengan pelan. Ia bahkan bisa merasakan kekuatan yang luar biasa meski perempuan di depannya tampak mungil.
Namun rasa sakit itu tak sebanding dengan keterkejutan yang menghantam dirinya sesaat kemudian.
Ketika pandangannya kembali fokus, Lariana melihat wajah perempuan itu dengan lebih jelas… dan darahnya membeku.
Leila.
Kekasih Alexander Winston. Calon istri pria yang dulu pernah ia cintai. Jika Leila yang berdiri di hadapannya, maka…
Dengan gemetar, Lariana memalingkan wajahnya ke jendela di samping kanan. Cahaya matahari menyinari permukaannya dan memantulkan sosok yang duduk lemah di kursi.
Rambut panjang bergelombang. Mata yang pernah ia benci. Wajah yang terlalu ia kenali.
“Floretta Brown...” Bisikan itu keluar dari mulutnya, nyaris tak terdengar. Tubuhnya lunglai, jatuh terduduk di lantai. Jantungnya kembali terasa diremas. Ia telah kembali. Tuhan benar-benar tidak mengizinkannya bahagia, bahkan di kehidupan barunya.
Masih dalam keadaan syok, suara langkah cepat mengisi ruangan. Seorang pria tinggi menghampiri Leila dengan wajah cemas.
“Leila, kamu baik-baik saja?” tanyanya cepat, langsung memutar tubuh Leila, memeriksa apakah kekasihnya itu terluka.
Setelah yakin semuanya aman, pria itu—Alexander Winston—mengalihkan pandangannya ke arah Floretta. Tatapannya dingin. Rahangnya mengeras. Mata abu-abunya menyala penuh tekanan.
“Floretta, apa lagi yang kamu lakukan?”
Suaranya tajam, menusuk seperti pisau. Dan ketika ia melanjutkan, suaranya berubah lebih gelap, lebih mengancam.
“Berani-beraninya kamu menyakiti Leila. Akan kupastikan ayahmu merasakan hal yang sama.”
Jantung Lariana atau sekarang kembali menjadi Floretta—terasa berhenti berdetak. Ia mendongak perlahan, menatap Alexander. Suaranya, cara pandangnya, kemarahan dalam ucapannya… semuanya seperti mantra kematian yang ditujukan langsung kepadanya.
Ayahnya.
Ya, benar. Jika ia kembali menjadi Floretta, maka itu berarti… ia bisa melihat ayahnya lagi. Jared Brown.
Ingatan itu membanjiri benaknya, menghantam seperti gelombang besar. Dan untuk pertama kalinya sejak ia bangun, air mata jatuh dari matanya. Lirih, tertahan, menyayat. Tangis yang membawa semua luka, kehilangan, dan kerinduan yang tak pernah padam.
Beberapa pengunjung restoran yang sejak tadi memperhatikan mereka kini menatap iba. Tapi Alexander tidak bergeming. Bahkan jika Floretta menangis darah sekalipun, kebenciannya tidak akan surut. Ia akan tetap menghancurkan keluarga Brown hingga ke akar.
Tanpa berkata sepatah pun lagi, Alexander menggenggam tangan Leila dan menarik kekasihnya menjauh. Sementara Floretta tetap terduduk di lantai, menggigil dalam diam. Dunia telah membawanya kembali.
Ke neraka yang dulu pernah ia tinggalkan.
***
04-06-23
Hai, Chapter awal-awal dibuat pendek dulu ya..
Ch 5 ke atas di usahakan bakal lebih dari 1000 kata.
Xoxo...
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Haru
FantasyLariana memiliki ingatan tentang kehidupan pertamanya, Tuhan mungkin sedang menghukumnya sehingga ia memiliki ingatan yang utuh tentang kehidupan pertama sebagai Floretta Brown. Floretta Brown anak satu-satunya dari keluarga Brown, egois, sering men...
