•
•
•
•
•
•Callysta menatap Arabian meminta penjelasan. "Kenapa lo nggak bangunin gue? Terus kenapa lo nggak langsung bilang aja kalo kita udah nikah?" Callysta sedikit berbisik.
Arabian menarik kedua sudut bibirnya. "Kan kamu yang bilang sendiri untuk rahasiakan hubungan kita. Aku nggak mau ganggu kamu tidur."
Tapi untung siswa siswi belum ada yang tau permasalahan mereka dan status mereka berdua. Callysta hanya ingin belajar tanpa gangguan kayak siswa pada umumnya.
"You okay baby?" Vargas ikut bergabung di kantin.
"Okay. Ayah sama papa mana?" Tanya Callysta.
"Kita disini, kenapa sayang?" Prata jalan beriringan dengan Marfion menghampiri anak dan menantu mereka.
"Nggak, kirain udah pulang pengen makan bareng."
"Walaupun kita udah pulang, akan balik lagi kalau Lysta pengen makan bareng kita." Kata Marfion tersenyum hangat kepada Callysta.
"Kalian kenapa sih? Aku bukan anak kecil sampai harus diperlakuin gitu." Peringat Callysta tersenyum lebar.
"Siapa bilang? Bagi ayah walaupun sayang sudah nikah tetap baby kecil." Prata menatap anak bungsunya dengan penuh cinta.
"Lah! Terus aku apa?" Vargas tidak terima ia dicuekin seperti tembok.
"Pangeran bebek!" Bukan Prata yang jawab melainkan nachar yang baru saja datang.
"Abang ngapain kesini?" Callysta beralih duduk disamping Nachar.
"Ketemu baby lah." Jawab nachar mengusap surai sang adik. "You okay by?"
"Ya. Jangan khawatir, meski nggak baik akan tetap baik baik aja. Jadi tenang aja. Abang nggak kepikiran cari pacar? Aku udah gede, aku juga udah nikah."
"Nggak, kamu masih baby. Gimana abang bisa lepasin kamu gitu aja. Dan abang nggak akan cari pacar sebelum kamu siap nerima orang baru di keluarga kita. Setiap kali abang lihat kamu nangis, sakit. Rasa sakit itu berkali lipat sakit dari pada kehilangan orang yang abang pernah cinta atau dengan orang yang baru datang meski banyak ngelakuin sesuatu bersama. Salah satu alasan abang hidup sejauh ini karena kamu. Jadi jangan sakit tetap sehat dan jalani hidup dengan bahagia itu udah cukup buat abang bahagia. Nggak perlu yang lain." Ungkapan tulus Nachar lolos membuat Callysta mengeluarkan air mata.
"Abang! Kenapa segitunya, Hiks!" Callysta memeluk erat Nachar menangis disana. "Thanks, you berbaik."
"Ahh jangan rusak suasana, ayok makan. Laper!" Lanjut Callysta memukul lengan Nachar.
"Tadi baby nggak jajan? Mau makan apa? Aku pesanin." Tanya Arabian lembut, mata coklatnya tak beralih dari sang istri.
"Kalian nih! Aku mau semuanya nggak dengan mie instan. Aku harus diet. Nggak jadi lah besok aja dietnya." Cicit Callysta tak jelas.
"Oke tunggu bentar."
Kantin mulai sepi, jam pelajaran dimulai namun Callysta dengan Arabian masih di kantin dengan temen temen mereka. Setelah Prata, Marfion dan Nachar pulang Vargas kembali ke kantor guru. Callysta tetap tidak mau masuk kelas alasan nya hanya satu, Arkan. Arabian memutuskan untuk memanggil temen Callysta dan temen temennya agar gadis itu sedikit terhibur.

KAMU SEDANG MEMBACA
CALLYSTA! |END|
RomanceFollow dulu sebelum baca! Selama dua tahun tinggal di Amerika, Callysta memutuskan untuk kembali ke indonesia dan sekolah disana. Callysta kembali untuk mencari tau penyebab kepergian sang bunda. Sebenarnya apa yang terjadi delapan tahun yang lalu...