BAB 9

6.4K 123 0
                                        

Bakso, Lagi-lagi bakso. Rasanya, Gerald sudah sangat muak dengan hanya melihat makanan berbentuk bulat itu karena setiap kali Aiza mengajaknya makan berdua, dia akan mengajaknya makan bakso. Bahkan jika pergi ke restoran sekalipun, menu pertama yang akan dia tanyakan adalah bakso, sepertinya Gerald sudah mulai cemburu dengan bakso yang selalu menjadi perhatian Aiza.

"Kenapa muka lo? Kok ditekuk kayak gitu?" Tanya Aiza yang baru saja selesai memesan bakso dan mendudukkan dirinya di seberang Gerald. "Lo masih kesel karena kita akhirnya makan bakso?" Lanjut Aiza mengingat perdebatan tidak penting mereka di dalam mobil beberapa waktu lalu.

Yah, mereka sempat berdebat dalam menentukan menu makan malam mereka. Gerald ingin makan di restoran sedangkan Aiza sedang ingin makan bakso, sementara jarang sekali restoran yang menyediakan menu bakso, terlebih perut Aiza sudah benar-benar keroncongan setelah menemani Hera shoping, ditambah energinya hampir habis karena ketakutan setengah mati di bioskop tadi. Semetara makan di restoran membutuhkankan waktu cukup lama sampai makanan disajikan.

Dan, disinilah mereka sekarang, di salah satu kedai bakso pinggir jalan langganan Aiza dan Hera. Yah, Gerald kalah dalam perdebatan itu setelah Aiza mengeluarkan jurus andalannya, yaitu mendiamkan Gerald.

"Kalau lo mau gunain satu token permintaan itu. Gue akan masakin lo makanan ternak yang lebih enak dari makanan resto." Bujuk Aiza penuh percaya diri.

Aiza tidak membual, ia cukup percaya diri dengan kemampuan memasaknya yang sudah diakui oleh semua orang yang pernah mencoba masakannya. Darah lebih kental dari air itu memang benar adanya, bakat Aiza memasak persis sama dengan ibunya. Ditambah ilmu dari Khadijah, Bibinya.

"Jangan mimpi. Gue gak akan gunain itu untuk permintaan remeh kayak gini."

"Terus lo mau minta apa? Lo mau apa dari gue?" Tanya Aiza tidak sabaran, ia tidak mau Gerald memanfaatkan perjanjian itu.

"Gue minta apa yah? Emm..." Gerald menghela napas panjang, lalu menopangkan wajahnya diatas tangan dan memandang jauh seperti tengah memikirkan permintaan yang akan diminta pada Aiza. "Belum ada." Lanjut Gerald yang langsung dihadiahi dengan lemparan sendok oleh Aiza.

"~iiih. Gue serius, Er. Gue gak mau punya hutang sama lo." Rajuk Aiza sedikit menuntut.

"Tapi kan gak ada aturan gue harus minta sekarang."

"Terus lo mau minta kapan?"

"Saat waktunya tepat, atau gue lagi kepepet."

Aiza sudah bersiap melemparkan lagi sendok ke arah Gerald, tapi bakso yang Aiza pesan sudah datang dengan es teh manis untuk Aiza dan teh tawar hangat untuk Gerald karena lelaki itu sangat membenci rasa manis. Perlu ditekankan lagi BENCI, bukan tidak suka.

Saat kecil, Gerald pernah mengalami sakit gigi yang sangat parah dan tidak kunjung sembuh hingga ia trauma. Terdengar sepele memang, Aiza juga sering mengejek Gerald karena alasan sepele itu, tapi sejak saat itu Gerald benar-benar menghindari makanan manis dan tidak mau menyentuhnya.

Sudahlah, Aiza tidak mau mengingat kekonyolan Gerald, ia ingin segera menikmati baksonya, dengan perhatian penuh, gadis itu meracik bumbu di baksonya, sementara Gerald hanya menikmati seadanya, ia benci manis dan tidak suka pedas. Jadilah ia langsung melahap bakso itu tanpa tambahan bumbu apapun.

"Dua hari lagi ikut gue ke Bali." Celetuk Gerald setelah ia menyelesaikan suapan terakhirnya.

"Ke Bali? Gue rasa di schedule lo gak ada trip ke Bali."

"Ya emang iya. Makannya gue ngasih tahu lo sekarang." Balas Gerald ringan.

Aiza hanya bisa mencebik kesal, Gerald dan kelakuan seenaknya selalu sukses membuat Aiza kesal. Beruntung kali ini Gerald memberitahunya dua hari sebelum keberangkatan, sebelumnya lelaki itu pernah memberitahunya di malam sebelum keberangkatan. Dan itu semua karena...

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang