Malam telah berlalu dan matahari sudah sedari tadi menampakan dirinya. Tapi, sepertinya dua orang yang masih bergelung nyaman di bawah selimut tebal itu masih enggan membuka mata mereka dan malah semakin mengeratkan pelukan mereka berusaha mencari kehangatan di tengah udara pedesaan yang cukup rendah di pagi hari.
Tapi tak lama, kedua mata Aiza mengerjap. Untuk beberapa saat gadis itu terdiam, pikirannya masih belum fokus dengan apa yang terjadi, hingga ia mulai fokus dan sadar bahwa ia ada begitu dekat dengan Gerald bahkan tengah memeluknya erat.
Bukannya segera menjauh, Aiza malah terpaku dan menatap dalam wajah Gerald yang menghadap kearahnya. Entah kenapa saat ini jantung Aiza berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Aiza sendiri Heran kenapa ia bisa seperti itu. Mungkin karena Ijab qabul yang terucap dari mulut Gerald membuat Aiza merasa memiliki Gerald.
Ia sendiri ingin mengutuk perasaanya yang ketakutan kehilangan Gerald. Padahal kehilangan laki-laki itu adalah hal yang pasti dalam kehidupannya. Tanpa sadar, Aiza mengeratkan pelukannya pada sahabatnya. Suaminya.
Entah perasaannya saja atau memang pelukan ditubuhnya serasa mengerat. Aiza mengangkat kepalanya susah payah. Benar saja, Gerald sudah membuka matanya dan tersenyum jahil pada Aiza. Aiza segera melepaskan pelukannya dari Gerald dan mendudukan dirinya disamping lelaki itu.
“Se-sejak kapan lo bangun?” Tanya Aiza terbata. Ia masih kaget dan malu terpergok Gerald tengah memeluknya.
“Jauh sebelum lo bangun.”
“Terus kenapa gak bangunin gue?”
Gerald menyangga kepalanya dengan tangan kanannya lalu menjawab pertanyaan Aiza dengan santai. “Dan kehilangan kesempatan dipeluk sama lo?”
Bug
Lagi-lagi sebuah pukulan mendarat di tubuh Gerald, Kali ini Aiza memukul wajah Gerald dengan bantal. Sepertinya bahasa cinta Aiza memang phisical attack, karena gadis itu sering sekali mencubit, memukul atau menendang Gerald untuk menunjukan ekspresinya. Sementara Gerald, lelaki itu hanya tertawa melihat wajah merah malu Aiza.
“Mau kemana lo, Az?” Tanya Gerald melihat Aiza turun dari tempat tidur.
“Mandi. Gue gak mau otak gue ikutan cabul deket-deket sama lo.”
“Gue? Cabul?” Gerald menunjuk dirinya sendiri.
Tidak terima dipanggil cabul, Gerald langsung lompat dari tempat tidur dan berdiri dihadapan Aiza untuk menghalangi gadis itu ke kamar mandi. “Gue? Cabul? Lo sendiri yang nyosor meluk gue, bukan gue.” Jelas Gerald tidak terima dipanggil cabul.
Tapi kemudian seringaian jahil terbit di wajah Gerald saat sebuah pikiran terlintas di kepalanya. “Jangan-jangan lo gak mau tidur bareng gue bukan karena takut gue macem-macem, tapi Lo yang takut kegoda sama gue. Iya kan?”
“Udah cabul, halu lagi. Sekarang lo minggir, gue mau mandi.” Aiza berusaha menyingkirkan Gerald dari jalannya.
“Kita mandi bareng. Biar hemat waktu.” Goda Gerald yang langsung dibalas dengan guyuran segelas air dari nakas oleh Aiza.
Tidak terima kepala dan sebagian bajunya basah, Gerald memanggul tubuh Aiza dipundaknya dan dibawanya ke kamar mandi. Aiza tentu saja tidak tinggal diam, ia terus memberontak dengan menendang dan memukul, tapi Gerald yang terlanjur kesal tidak mengindahkan hal itu dan terus maju hingga sampai dibawah shower ia baru menurunkan Aiza.
Tanpa mau menunggu gadis itu siap, Gerald langsung menyalakan shower berharap gadis itu akan kedinginan. Tapi anehnya, tidak ada reaksi apapun dari gadis itu. Ia kaget, tapi hanya itu, tidak ada reaksi lainnya lagi selayaknya orang yang kedinginan.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Romantik"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
