BRAK
Suara pintu yang ditutup kasar terdengar nyaring di kamar mandi di kamar hotel Gerald.
Lelaki itu menatap pantulan dirinya di cermin wastafel, ia mencengkeram kuat pinggiran wastafel dengan nafas memburu. Bayangan Aiza di restoran tadi tidak bisa hilang dari kepalanya, akhirnya ia membasuh wajahnya berharap amarahnya bisa hilang.
Tapi percuma, bara di hatinya masih menyala, akhirnya ia melepas pakaiannya lalu berdiri di bawah shower dan menyalakannya.
Brengsek
Bahkan guyuran air dingin tidak mampu membuat amarah Gerald redam. Bayangan bagaimana Aiza bisa tersenyum dan tersipu oleh orang yang baru dikenalnya benar-benar tidak bisa hilang dari pikiran Gerald. Tapi yang lebih parah dan membuat amarah Gerald tidak kunjung turun adalah ketika Aiza menerima suapan Stevan begitu saja.
Ingin sekali Gerald menarik Aiza pergi dan menjauhkannya dari Stevan, tapi ia masih waras untuk membuat Amanda salah paham dengan sikapnya terhadap Aiza.
Dan panggilan Zahra yang keluar dari mulut Stevan benar-benar mengganggu dan terngiang di pikiran Gerald. Apa mungkin Stevan begitu mencuri hati Aiza hingga gadis itu begitu mengistimewakannya dan membiarkan saja lelaki itu memanggilnya Zahra.
BUG
Tanpa sadar Gerald memukul keras dinding kamar mandi dengan begitu kerasnya. Hatinya kalut memikirkan Aiza. Ia masih belum rela jika gadis itu punya tumpuan lain selain dirinya.
Tepat saat Gerald membuka pintu kamar mandi, suara bel pintu terdengar. Tanpa mau mengganti bathroobnya, Gerald segera menuju monitor di dekat pintu untuk memastikan tamunya. Dalam hati, Gerald berharap bahwa orang itu adalah Aiza. Meskipun hal itu sangat mustahil.
Benar saja, yang datang memang bukan Aiza, tapi Amanda yang menenteng sebuah tas kertas di tangannya. Setelah mengatur hatinya, Gerald membuka pintu dan menyambut Amanda dengan semangat.
"Hi Al, maaf aku ganggu kamu malam-malam begini.”
"Samasekali engga. Justru aku senang kamu datang. Ayo masuk!” Ajak Gerald mempersilahkan Amanda masuk.
Gerald dan Amanda berjalan beriringan masuk kedalam kamar hotel Gerald. Sebenarnya kamar hotel Gerald dirancang khusus oleh lelaki itu sebagai tempat tinggal sementaranya. Itulah kenapa, kamar itu dibuat menyerupai apartemen dimana di kamar itu terdapat dapur, mini bar, ruang tamu juga dua kamar tidur.
"Kamu mau minum apa?" Tanya Gerald yang sudah ada didapur sementara Amanda, gadis itu sedang menyamankan dirinya di kursi bar yang menghadap langsung ke arah dapur.
"Air putih aja."
Gerald segera menyiapkannya dan membawanya pada Amanda. Lelaki itu lalu mendudukan dirinya disamping Amanda yang tengah mengeluarkan sesuatu dari tas kertasnya.
"Aku khawatir karena kamu tadi cuma makan sedikit." Ujar Amanda sembari menyerahkan kotak makanan berisi salad buah pada Gerald.
"Makasih, sayang."
Dengan wajah sumringah Gerald segera menyantap makanannya hingga habis dalam waktu lima menit. Setelah itu, ia segera meraih air minum di dekatnya dan meminumnya hingga tandas. Setidaknya, hal itu bisa menetralisir rasa manis yang memenuhi mulut Gerald karena laki-laki itu sangat benci dengan rasa manis. Tapi, sepertinya Amanda lupa dengan hal itu
"Kamu kelaperan banget yah, sayang?" Tanya Aiza yang prihatin melihat cara makan Gerald.
"Iya, aku kelaparan banget."
Bohong, Gerald berbohong. Ia menyantap makanan itu dengan cepat untuk menghindari rasa mual yang akan dirasakannya saat makan makanan manis. Ia tidak tega menolak makanan yang sudah susah payah dibawa kekasihnya itu, jadi dengan terpaksa ia memakannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Romance"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
