BAB 21

5.8K 133 6
                                        

Hari yang paling tidak ingin Aiza alami akhirnya tiba. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya bahwa ia akan mengenakan kebaya putih dengan siger khas sunda yang hampir saja membuatnya oleng karena tidak ia sangka benda itu akan terasa berat di kepalanya yang pening karena semalaman tidak bisa tidur.

Saking gugupnya, Aiza samasekali tidak bisa memejamkan matanya sama sekali, perais yang merias wajahnya bahkan sampai protes karena kantong matanya cukup tebal hingga sang perias harus berusaha keras untuk menutupinya.

Ulah nundutan wae atuh, Neng. Nanti bibirnya kayak bibir joker lagi.” Tegur si tukang rias yang tengah memoleskan lipstik di bibir proporsional Aiza karena gadis itu yang terus saja terantuk menahan kantuk.

Yah, karena semalam tidak bisa tidur karena gugup, pagi ini ia  benar-benar tidak mau bangun dari tempat tidurnya. Rasa gugup yang ia rasakan semalam menguap begitu saja digantikan dengan rasa kantuk yang kentara.

“Masyaallah, kamu cantik sekali Aiza.”

Aiza menegakan kepalanya menatap bayangan dirinya dan Khadijah di cermin. Entah sejak kapan wanita itu ada dibelakangnya. Sang perias yang sudah menyelesaikan tugasnya langsung pamit dan pergi begitu saja.

“Kayaknya, Bibi deh yang lebih cantik dari Aiza.”

Aiza tidak berbohong, bibinya memang terlihat sangat cantik hari ini. Seperti kata orang, seseorang yang jarang berdandan akan terlihat sangat cantik saat didandani. Dan bibinya adalah  tipe orang yang sangat jarang berdandan. Jadi, kecantikannya semakin terpancar hari ini. 

“Kamu ini kalo ledek bibi suka berlebihan.” Balas Khadijah berpura-pura ngambek pada keponakannya.

Wanita itu lalu meraih wajah Aiza dan menatapnya lama. Sejenak, seperti ada kesedihan di wajah itu. Tapi kemuadian, lesung pipit wanita itu muncul terdorong oleh sudut-sudut bibirnya yang melengkung ke atas. 

“Kamu sangat cantik Aiza, mirip sekali dengan ibumu.”

Saat itu juga wajah Aiza berubah sedikit murung. “Aiza lebih suka dibilang mirip bibi daripada mirip dia.”

“Aiza maaf, bibi gak bermaksud...”

Khadijah tidak bisa melanjutkan kata-katanya, ia cukup terkejut karena Aiza tiba-tiba saja memeluk pinggangnya erat.

“Aiza punya bibi sama Mamang. Itu semua sudah cukup untuk Aiza.”

Tanpa sadar, setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Khadijah, namun segera ia hapus. Meskipun begitu, bola matanya yang bersih berubah menjadi kemerahan hingga bekas tangisannya tetap terlihat. 

“Nanti make up kamu rusak peluk bibi kayak gini.”

Aiza sepertinya tidak perduli dan malah semakin mengeratkan pelukannya pada Khadijah. “Aiza masih kangen sama bibi.”

“Bibi juga kengen sama kamu.”

“Mamang juga kangen sama kalian.” Tiba-tiba saja Reno berujar sembari memeluk dua wanita yang sangat ia cintai itu. 

Aiza mengangkat wajahnya dari pelukan sang bibi, ternyata gadis itu juga terbawa suasana, terlihat dari wajahnya yang basah dan sisa genangan di pelupuk mata gadis itu. 

“Mamang apaan sih ikut-ikutan aja.” Ujar Aiza dengan suara paraunya. Jari jemarinya sibuk menghapus air matanya sembari masih sesegukan. 

“Calon pengantin ko malah nangis. Nanti suami kamu ketakutan liat mata kamu item gara-gara maskara yang gak karuan.”

“Mamang kira Aiza pake make up murahan yang bisa luntur gitu aja? Make up Aiza kan anti air.” Balas Aiza sembari masih sesegukan. 

Tak ayal hal itu mengundang senyum Reno dan Khadijah. Melihat itu, Aiza malah semakin keras menangis seperti anak kecil. 

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang