Setelah puas menikmati berpelukan mesra ditemani cahaya matahari pagi yang menghangatkan, Aiza membawa Gerald turun melewati lereng menuju pabrik milik pamannya. Gerald tertarik dengan aroma teh yang keluar dari cerobong-cerobong asap disebuah bangunan yang berada di lereng bukit.
Aiza menjelaskan bahwa aroma itu berasal dari pabrik teh milik Reno. Seketika itu juga, Gerald memaksa Aiza untuk membawanya kesana dan mengabaikan sarapan mereka. Lelaki itu berencana untuk sarapan di bawah bersama para pekerja.
"Ini punya Mamang lo?" Tanya Gerald memperhatikan pabrik kecil yang sedari tadi menarik perhatiannya.
Pabrik kecil it hanya memiliki dua ruangan, namun cukup luas, hanya ada ruang produksi dan ruang packing. tidak ada mesin-mesin yang biasa ia lihat di pabrik teh, hanya ada wajan raksasa dimana beberapa orang tengah mengaduk daun teh yang perlahan mulai layu.
Lalu ada yang memisahkan satu persatu daun yang sudah layu itu dan dijemurnya di bawah sinar matahari, ada juga yang dicampur dulu dengan bunga melati hingga teh itu memiliki aroma melati yang menyegarkan.
“Iya, ini punya Mamang gue.”
“Kalau prosesnya kayak gini, produksinya lama dong.” Komentar Gerald melihat pengolahan teh yang masih sangat manual.
"Lo bener. Gue juga pernah bilang soal ini sama Mamang, cuma dia bilang dia mau pertahanin caranya yang tradisional. Dan lo udah rasain sendiri kan? Rasa tehnya beda dari yang lain.” Jelas Aiza sembari mencomot teh yang sudah kering dan dimakannya.
Melihat Aiza yang begitu menikmati teh itu membuat Gerald penasaran lalu mengambil dan dimakannya. Baru satu gigitan Gerald sudah memuntahkannya karena rasanya yang pahit. Aiza tidak bisa tidak tertawa melihat kebodohan Gerald.
"Gila! Pahit banget." Umpat Gerald sembari berusaha melepeh sisa-sisa teh di mulutnya.
"Ya iya lah pahit. Namanya juga teh, kalo gak pake gula ya pahit." Cibir Aiza masih dengan tawanya.
"Lo yang ngerjain gue, kan? sampe gue ngira itu bisa dimakan."
"Lah kan emang bisa dimakan. Makannya gue makan. Orang yang gak biasa kayak lo ya gak bakalan suka."
"Emang kapan lo makan teh kayak gini?"
"Waktu gue kecil." Jawab Aiza sembari dengan santainya memasukan daun teh yang mengering itu kedalam mulutnya. Gerald hanya bisa bergidik melihatnya.
"Tapi aneh si, Mamang lo bisa ngelola pabrik ini, tapi dia gak bisa ngelola perusahaan bokap lo." Ujar Gerald yang saat ini sedang menyusuri perkebunan teh untuk kembali ke rumah Reno.
Bukan perusahan milik ayahnya sebenarnya, itu adalah perusahaan milik kakeknya. Setelah kakeknya meninggal, ayahnya yang mengambil alih perusahaan. Tapi tak lama, ayahnya juga meninggal. Akhirnya, mau tidak mau Reno yang tidak pernah tertarik dengan bisnis harus mengurus perusahaan itu.
“Sama kayak perusahaan itu, Mamang juga gak ngelola pabrik ini sendiri, dia punya orang kepercayaan yang mengelolanya. Bedanya, kali ini Mamang ketemu orang yang tepat.”
Karena minim pengalaman dan pengetahuan, Reno tidak bisa mengelola perusahaan peninggalan kakeknya dengan baik dan akhirnya mempercayakan sepenuhnya perusahaan itu pada orang lain. Ternyata, orang itu mengkhianati kepercayaan Reno dan melakukan penggelapan hingga perusaah itu akhirnya bangkrut.
“Lo liat? Gak semua orang itu sama, gak semua laki-laki sama kayak bokap lo.”
“Dan gak semua pernikahan sama kayak pernikahan orangtua gue.”
Aiza mengerti apa maksud Gerald. Ia sangat mengerti itu. Sepanjang hidupnya, Aiza sudah bertemu dengan banyak laki-laki baik, salah satunya adalah Reno. Lelaki itu adalah lelaki terbaik yang pernah ia kenal disepanjang hidupnya, lalu ia bertemu Gerald, Rey dan Ali. Mereka semua adalah lelaki terbaik yang pernah Aiza temui.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Storie d'amore"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
