Tiga hari sudah Aiza menjadi tahanan rumah di Bandung, tepatnya dirumah sang paman yang baru menjadi rumah tinggal beberapa tahun yang lalu.
Yah, dulu rumah itu hanya rumah sementara yang akan dikunjungi ketika mereka berlibur di Bandung. Aiza pernah sangat menyukai tempat itu, tapi sekarang gadis itu tidak terlalu menyukainya karena ada banyak kenangan indah yang perlahan menjadi racun dalam hatinya.
Mungkin itu adalah satu dari banyaknya alasan Aiza tidak mau ikut mamangnya pindah dari Jakarta saat gadis itu lulus SMA. Segala macam bujuk rayuan telah Reno lakukan agar Aiza mau ikut pindah, tapi Aiza juga punya seribu satu alasan untuk menolaknya.
Akhirnya, Reno pun menginzinkan Aiza untuk menetap di Jakarta dan melanjutkan kuliahnya disana saat Bram dengan tangan terbuka mau menerima Aiza untuk tinggal di rumahnya.
Aiza terlalu senang saat itu hingga ia melupakan nenek Gerald yang memusuhinya setengah mati juga ada ada dan tinggal di rumah itu.
Kurang dari setengah tahun Aiza memilih untuk keluar dari rumah Gerald. Awalnya, Semua orang tidak setuju, terutama Reno. Lelaki itu kembali memaksa keponakan ya untuk pindah dan kuliah di Bandung, tapi tentu saja langsung ditolak Aiza mentah-mentah.
Jika saja rumahnya yang berada disamping rumah Bram belum dijual, mungkin Reno akan mengizinkan Aiza dengan mudah. Tapi, rumah itu sudah dijual jadi Aiza harus tinggal sendirian di apartemen yang cukup jauh dari rumah Bram.
Setelah melaui berbagai perdebatan, Aiza akhirnya diizinkan untuk tinggal sendiri di apartemen yang diberikan oleh Bram. Apartemen yang tidak terlalu jauh dari rumah Atmaja. Dan, disanalah Aiza tinggal hingga satu minggu yang lalu.
Dengan keadaan yang terjadi sekarang, Aiza tidak yakin kalau ia bisa kembali ke apartemen kesayangannya lagi atau tidak, tapi ia berharap Mamangnya bisa luluh dan mau setidaknya melepaskan Aiza dari pernikahan yang sudah dipersiapkannya.
BLANK
Semua konsentrasi yoga Aiza buyar mendengar suara-suara bising dari luar kamarnya. Yah, gadis pembenci olahraga itu akhirnya mau melakukan yoga, setidaknya olahraga itu tidak membuatnya kelelahan, meskipun ia samasekali tidak menyukainya dan merasa tidak cocok dengan olah raga itu.
Tapi, ia benar-benar bosan hanya duduk diam tanpa melakukan apapun. Handphone dan leptopnya sudah disita oleh Mamangnya mencegah Aiza untuk menghubungi seseorang yang mungkin akan membawanya kabur. Alasan konyol, tapi Aiza memang pernah memikirkannya meski hanya sekali.
Suara-suara bising itu semakin keras terdengar, Gadis itu segera beranjak dari duduk bersilanya dengan tergesa. Dengan langkah menghentak, gadis itu keluar kamar menuju ke lantai bawah dimana kebisingan itu berasal.
Aiza sedikit mengernyit melihat ada banyak sekali orang yang berlalu lalang dirumah bibinya. Beberapa kali gadis itu tersenyum membalas sapaan orang-orang yang berpapasan dengan dirinya.
Gadis itu mengedarkan pandangannya dengan wajah penuh tanya, ruang tamu yang semula ramai dengan sofa dan tek-tek bengek lainnya kini polos dan hanya dihiasi karpet. Dinding penuh foto kebersamaan Reno dan Khadijah ditutup dengan kain beludru pink putih dan dihias sedemikian rupa.
Aroma dari bumbu masakan mengalihkan Aiza kebingungan tentang ruangan itu. Gadis itu berjalan menuju taman samping dimana aroma itu berasal. Dari kejauhan, Aiza melihat beberapa ibu-ibu yang tengah memasak dengan kuali besar dihadapan mereka.
Lebih jauh lagi, ia melihat Bibinya tengah duduk meriung beralaskan terpal biru bersama beberapa ibu-ibu sembari mengupas bawang yang cukup banyak, sesekali wanita berjilbab biru muda itu tersenyum lebar hingga lesung pipinya muncul di pipi kirinya.
“Aiza, sini!” Sepertinya, Khadijah menyadari keberadaan Aiza dan memanggil Aiza untuk datang kesana.
Sebenarnya, Aiza enggan datang kesana, bukan karena ia merasa malas dan tidak mau membantu, tapi ia hanya merasa canggung dan suasananya terlalu ramai untuk Aiza yang tidak terlalu menyukai keramaian. Tapi, gadis itu tetap menuruti Khadijah dan duduk bersila di samping wanita itu.
“Oh, ini Neng Aiza. Beuki geulis wae. Pantesan ustad Yusuf kesem-sem sama Neng Aiza.” Ujar seorang ibu-ibu berbadan gempal dengan daster ungu melekat di tubuhnya.
“Wah, tadinya saya mau kenalin putri saya ke ustad Yusuf, tapi kalo liat Neng Aiza kayak gini saya jadi minder.” Ujar seorang ibu lagi yang perawakannya tidak jauh berbeda dari wanita pertama. Hanya saja, ia tidak memakai daster, tapi memakai tunik merah dengan celana hitam besar, riasan di wajahnya juga cukup tebal serta beberapa perhiasan menyilaukan yang terpasang ditubuhnya. Tipe ibu-ibu rempong.
Aiza hanya menanggapinya dengan senyum bingung, karena ia sama sekali tidak mengerti dengan maksud dari perkataan ibu-ibu itu. Ustadz Yusuf? Siapa dia? Aiza tidak mengenalnya dan kenapa ibu-ibu itu mengaitkannya dengan Aiza.
“Bi! Ada apa sih? Kok banyak orang kayak gini? Terus masak banyak juga.” Tanya Aiza sedikit berbisik pada Bibinya.
“Kita lagi olah sayang.”
“Dalam rangka apa?” Tanya Aiza keheranan. Pasalnya, yang Aiza tahu bibinya itu akan olah atau masak banyak seperti itu saat mendekati idul fitri atau ada hajatan besar.
“Lamaran.”
“Ooh.” Aiza hanya mengangguk sembari meraih pisau dan bawang lalu mengupaskannya. “Lamaran siapa?”
“Lamaran kamu.”
SRET
Pisau tajamyang Aiza gunakan meleset dari objek yang seharusnya. Bukannya mengupas bawang, pisau itu malah mengiris jari telunjuknya.
“Innalillahi, Aiza.” Khadijah yang melihat darah menetes dari jari Aiza langsung menariknya dan membalutnya dengan hijab yang ia kenakan. Ia tidak perduli dengan jilbabnya yang akan kotor, ia hanya berusia menghentikan pendarahan Aiza.
“Aiza kamu gapapa?” Tanya Khadijah khawatir. Bukan hanya karena luka Aiza, ia lebih khawatir melihat wajah gadis itu yang berubah pucat.
“Astagfirullah, darahnya banyak banget.” Ujar ibu-ibu rempong dengan wajah ngerimelihat hijab biru muda Khadijah berubah warna menjadi sedikit kemerahan.
Reno yang tidak jauh dari sana dan melihat kerumunan itu segera menghampiri mereka. Ia punya perasaan tidak enak mengenai keponakannya. Dan benar saja, ternyata Aiza yang dikerumuni. Ia segera melihat keadaan keponakanya.
“Astagfirullah. Kamu ini ceroboh sekali Aiza. Kenapa bisa seperti ini?” Ucap Reno sembari membuka balutan Khadijah, dilihatnya darah masih menetes di jari telunjuk itu karena luka sayatannya yang cukup dalam.
“Kita masuk dulu. Kita obati luka kamu di dalam.” Ajak Reno yang langsung ditolak Aiza dengan menarik kasar tangannya dari Reno.
“Kenapa mamang mutusin sesuatu tanpa persetujuan Aiza?” Tanya Aiza dengan mata yang mulai memerah menahan tangis, bukan karena luka di tangannya, tapi karena luka yang ditorehkan Reno yang mengambil keputusan secara sepihak.
“Kita bicarain itu nanti, kita obati dulu luka kamu.”
“Enggak! Aiza mau Mamang jawab Aiza sekarang!” Tolak Aiza lebih keras dari sebelumnya.
Paman Aiza itu menghela napas jengah. “Bukankah perjanjian kita jelas?”
“Aiza gak pernah setuju sama perjanjian konyol itu.”
“Kalau begitu, silahkan kamu pergi dari rumah kami! Dan jangan temui kami lagi!”
Ucapan Reno itu sukses membuat semua orang terutama Khadijah terkesiap. Meskipun ibu-ibu disana tidak tahu duduk permasalahannya, tapi mereka bisa mengerti maksud dari ucapan Reno, lelaki itu berniat untuk mengusir keponakannya sendiri.
Aiza hanya bisa menutup mata berusaha menurunkan emosinya. Tanpa ia sadari buliran air mata mulai jatuh di pipinya. “Ok, Aiza terima keputusan Mamang.” Putus Aiza yang akhirnya menyerah dengan ancaman Mamangnya. “Tapi kenapa mamang gak ngasih tahu dulu Aiza soal ini? Ini soal kehidupan Aiza, mang. Bahkan Aiza gak tahu nama orang yang mau melamar Aiza itu.” Lanjut Aiza mulai sesegukan.
“Kamu gak perlu khawatir, dia orang baik yang insyaallah bisa menuntun kamu menjadi manusia yang lebih baik lagi.”
“Tapi...”
“Lebih baik kita obatin dulu luka kamu. Nanti kita bicarakan lagi soal ini.” Kali ini Reno tidak menunggu persetujuan Aiza, lelaki paruh baya itu langsung menggendong keponakannya begitu saja dan membawanya ke dalam rumah diikuti oleh Khadijah yang khawatir dengan kondisi keponakannya.
***
“Asep! Yang bener atuh kamu nata makanan teh. Yang rapih.” Tegur Reno pada pria yang baru saja mengambil nampan berisi makanan.
Lelaki bertubuh gempal itu terdiam sejenak melihat meja yang masih bersih dan rapih tanpa makanan. Sepertinya Reno terlampau gugup menanti kehadiran calon tunangan keponakannya hingga ia berlaku tidak karuan.
“Mamang kalo tegang calik we bisi titajong.”
Baru saja kata-kata itu keluar dari mulut Asep, Reno yang sudah rapih mengenakan setelan koko dan kopiahnya tersandung kakinya sendiri dan hampir saja terjungkal dan jatuh.
“Tuh kan kata saya juga apa.” Cibir Asep sembari terkekeh geli melihat kelakuan Reno.
“Kamu, Sep. Berani ketawain saya.”
Asep langsung menutup mulutnya berusaha menghentikan tawanya. Sementara Reno, lelaki yang masih terlihat gagah diusianya itu memilih untuk pergi dan berkeliling melihat persiapan yang ada. Seperti pada Asep, ia juga menegur semua orang yang tengah melakukan persiapan.
“Mang!” Panggil Asep pada Reno yang saat ini tengah sibuk menata bunga yang sebenarnya sudah tertata rapih. Terlihat sekali ia tengah mengalihkan kegugupannya.
“Ada apa sih, Sep?” Ketus Reno yang kesal karena kegiatannya diganggu.
“Eh! Ari si amang. Itu tamunya udah datang.” Ujar Asep dengan logat sundanya yang khas.
Saat itu juga Reno menghentikan kegiatannya dan segera membenahi penampilannya. Setelah berdehem pelan dan mengatur napas, lelaki itu lalu berjalan cepat kearah pintu keluar. Ternyata benar, mobil yang membawa calon menantu dan besannya itu sudah memasuki area rumahnya.
Dengan perasaan tegang bercampur senang, Reno menyambut kedatangan sahabatnya penuh kehangatan.
“Assalamualaikum.” Sapa sang sahabat dengan senyum merekah di wajahnya.
“Wa’alaikumussalam Sahabatku.” Balas Reno sembari memeluk hangat sahabatnya itu.
Setelah bertegur sapa dan sedikit berbasa-basi. Reno mempersilahkan tamu agungnya untuk masuk dan duduk lesehan di karpet. Bukan tanpa alasan Reno memilih untuk menggelar karpet alih-alih menambah jumlah kursi, ia hanya ingin suasana kekeluargaan lebih terasa dengan duduk melingkar bersama. Apalagi, bukan hanya keluarga yang diundang, tapi juga beberapa tetangga dekat yang ada disekitar rumah itu juga ikut diundang.
Mereka cukup larut bercengkerama, hingga Aiza turun dari kamarnya bersama Khadijah. Hampir semua mata tertuju pada Aiza yang saat ini begitu cantik dengan riasan diwajahnya. Ia juga memakai kebaya khas sunda berwarna yang begitu cantik dengan rambut yang ditata sedemikian rupa.
Tanpa sengaja, tatapan Aiza bertemu dengan lelaki yang berada di samping pamannya. Dari penampilannya, Aiza yakin jika lelaki itu adalah orang yang akan melamarnya. Jujur, jika hanya melihat wajahnya saja, Aiza cukup tertarik dengan lelaki itu. Bagaimana tidak? Wajahnya benar-benar tampan, meskipun tidak setampan Ali, tapi lelaki itu lebih tampan dari Gerald yang selalu menampakan wajah dinginnya. Kulitnya juga sawo matang, bukan putih bersih seperti Reynald, tipe lelaki yang jujur Aiza sukai.
Tapi, belum sempat Aiza mendudukan dirinya di tempat yang memang sudah disediakan. Ekor matanya tidak sengaja melihat seseorang yang sangat ia kenal berjalan melewati pintu masuk diikuti beberapa orang. Jantung Aiza seketika berdetak lebih keras, rasa rindu yang ia simpan akhirnya membuncah tanpa bisa ia tahan.
“Gerald!” Lirih gadis itu tanpa sadar.
Seketika atensi semua orang tertuju pada pintu masuk dimana orang yang ia panggil tengah berdiri, tidak hanya sendiri tapi ada kedua orangtuanya juga sahabat-sahabatnya.
Ingin sekali ia menghambur ke pelukan laki-laki itu jika saja tidak ada banyak orang disana. Terlebih, ada calon tunangannya disana.
“Bram!” Reno segera menghampiri sahabatnya dan mereka saling berpelukan juga saling menyapa. Sepertinya kejadian di Bali tidak merenggangkan persahabatan mereka.
“Aku sangat terkejut kau mau jauh-jauh datang ke tempatku.”
“Sepertinya kamu sedang ada tamu.” Ujar Bram melihat banyaknya orang yang ada disana.
“Begitulah. Kami sedang mengadakan acara lamaran.”
“Lamaran?”
Bukan, bukan Bram. Kali ini yang bersuara adalah Gerald yang mencari kebenaran dari mata Reno.
“Lo udah terima lamaran itu?” Kali ini pertanyaan itu jelas tertuju pada Aiza, terlihat dari tatapan lelaki itu yang beralih pada Aiza.
“Gue...Gue...”
Aiza tidak bisa menjawab karena ia sendiri bingung harus menerima atau menolak lamaran itu. Satu sisi hatinya menolak keras hal itu, tapi di sisi lain ia tidak bisa dan mampu untuk menolak pamannya.
“Jangan terima lamaran itu!”
Larangan tegas Gerald sontak saja membuat orang-orang tercengang. Bagaimana tidak? Tamu tak diundang berani memprovokasi untuk menolak sebuah lamaran.
“Siapa kamu berani melarang keponakan saya untuk menolak lamaran lelaki yang saya pilihkan?” Reno langsung pasang badan di depan Gerald.
“Saya sahabatnya. Dan kedatangan saya kesini ingin melamar sahabat saya untuk menjadi istri saya.”
Lagi, perkataan Gerald sukses membuat semua orang tercengang. Suasana menjadi riuh karena orang-orang saling berbisik. Begitu juga Aiza, ia tidak menyangka kalau Gerald, sahabat yang sudah ia anggap sebagai abangnya sendiri akan melamarnya seperti ini.
“Kamu—“
“Atas dasar apa lo mau lamar gue?” Tanya Aiza ,memotong perkataan pamannya.
“Gue gak mau lo nikah sama orang yang gak lo kenal.”
Alasan yang absurd, dan karena alasan itu tanpa sadar Aiza mengangkat salah satu sudut bibirnya. Sudah Aiza duga, Gerald tidak pernah serius dengan apa yang ia lakukan.
“Lebih baik gue nikah sama orang yang gak gue kenal daripada harus nikah sama orang yang jelas-jelas udah punya pacar.”
“Gue udah putus dari Amanda.” Jawab Gerald cepat membuat Aiza benar-benar sangat terkejut. “Lo bisa tanya Ali kalo lo gak percaya.” Lanjut Gerald bahkan sebelum Aiza menyampaikan protesnya.
Ali yang merasa namanya ikut tersered sedikit berdehem. Ia sudah menggerakan mulutnya untuk menimpali perkataan Gerald, tapi Aiza lebih dulu menyela dengan nada berapi-api.
“Omong kosong, lo gak mungkin mau Lepasin orang yang lo cintai. Cewek yang ada di hati lo selama lima tahun ini. Ini semua terlalu gak masuk akal, Er.”
Gerald hanya terdiam membuat Aiza kecewa. Jujur, satu titik dihatinya merasa senang karena Gerald putus dari Amanda. Dengan begitu perhatian Gerald hanya terbagi antara dirinya dan Elena, tapi melihat reaksi Gerald, sepertinya lelaki itu tidak sungguh-sungguh dengan perkataannya.
Cukup lama Aiza menunggu jawaban Gerald, tapi laki-laki itu tidak kunjung membuka suara hingga gadis itu berujar penuh kecewa “Lebih baik sekarang lo pulang, gue mau lanjutin acara ini.”
“Lo tolak lamaran gue?” Akhirnya Gerald membuka suara dengan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya.
“Ga ada alasan kuat buat gue terima lamaran lo. Jadi lebih baik lo pulang!” Ujar Aiza sembari mendudukan dirinya di tempat yang memang sudah disediakan untuknya. “Kita lanjutin aja acaranya bi. Jangan hiarauin dia!” Pinta Aiza semakin mempertegas semuanya.
“Udahlah, Al. Mungkin Aiza emang bukan jodoh lo.” Ujar Reynald mencoba menguatkan Gerald. Ali juga ikut menepuk bahu Gerald mencoba menguatkan lelaki itu.
“Lo mau tahu alasan kenapa gue putus dari Amanda?”
Lagi, Gerald yang enggan menyerah mencoba menarik perhatian Aiza, bahkan dengan percaya dirinya ia maju melewati Reno dan mendekat kearah Aiza berada, membuat semua orang kembali berbisik bahkan mencemooh lelaki itu. Aiza tidak merespon, ia hanya menatap Gerald menunggu lelaki itu melanjutkan kalimatnya.
“Gue juga gak tahu sama perasaan gue yang gak karuan ini. Yang gue tahu, gue cuma gak mau kehilangan lo dan liat lo jadi milik orang lain. Belasan tahun Az, belasan tahun kita sama-sama. Bukan hal yang mudah buat gue lepasin lo gitu aja. Udah cukup waktu lima tahun kita berpisah dan gue gak mau berpisah sama lo lebih lama lagi.” Tutur Gerald mengeluarkan isi hatinya.
“Gue tahu ini konyol, tapi... Gue jatuh cinta sama lo Aiza Az-zahra” Aku Gerald yang mampu melemahkan seluruh syaraf yang ada di tubuh Aiza.
Suara riuh dari para hadirin yang mulai tidak kondusif seperti alunan backsound bagi dua orang yang saling menatap menyelami hati masing-masing. Sementara Yusuf, lelaki itu hanya bisa menatap Aiza dan Gerald secara bergantian dengan tatapan yang sulit diartikan.
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Romantizm"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
