Part 29

15.7K 1K 42
                                        

Dunia itu tempatnya ketidakadilan terjadi. Ada kalanya hidupmu terasa menyedihkan sementara orang lainnya begitu bahagia, tapi bukan berarti karena kamu yang menderita itu membuatku tergiur untuk memiliki sesuatu yang bukan milikmu.

Percayalah, seorang yang tengah berbahagia itu juga berjuang keras menyingkirkan kesakitannya dan membesarkan rasa syukurnya agar tidak melirik kebahagiaan orang lain dan merasa cukup atas apa yang dimilikinya.

Kesakitan itu begitu lekat membelah jiwaku, tapi perlahan aku mulai menerima kekecewaan yang datang menyapaku tersebut dan menjadikannya bukan sebagai musuh melainkan sebuah penyemangat agar aku bisa menjadi seorang yang lebih kuat. Entah apa nama hubunganku dengan Bang Dwika sekarang. Aku masih menjadi Ibu Persitnya, segala hak yang menjadi milikku dan Dika pun kini aku dapatkan, sayangnya sosok terpentingnya, Bang Dwika sendiri tidak ada di sisiku.

Baru 11 hari kami berpisah, tapi itu rasanya sangat lama untukku. Tapi perlahan kekosongan itu menjadi sebuah hal yang lumrah, dengan Dika yang memerlukan perawatan untuk traumanya, aku tidak punya waktu untuk meratapi Bang Dwika. Sebagai wanita dan istri tentu aku ingin di bujuk saat merajuk. Saat aku berkata aku sudah merelakannya kemana pun dia pergi, sesungguhnya hati kecilku pun menginginkan dia tetap kembali. Sungguh yang aku inginkan hanyalah dia meminta maaf dan meninggalkan Nana untuk kembali kepadaku, percayalah, untuk seorang istri dan Ibu sepertiku, maafku akan selalu ada untuknya. Namun nyatanya dia benar-benar pergi. Izinku bagai sebuah lampu hijau untuk hidup seperti yang dia inginkan bersama dengan wanita yang di cintainya. Statusku tergantung karena egoisku tidak rela dia berbahagia dengan wanita tersebut. Wanita yang sudah merangsek masuk ke dalam rumah yang susah payah aku benahi.

Aku adalah seorang yang tersingkirkan dalam kisah hidupku sendiri. Aku kira aku seorang pemeran utama, tapi nyatanya aku hanya seorang figuran yang sekedar mengisi kekosongan sebelum akhirnya pemeran utama kembali berperan.

Disini, hanya aku yang menganggap delapan tahun yang kami lewati begitu berarti tapi tidak dengannya. Mungkin saja di malam saat aku bersimpuh menangis mengadu pada Sang Pecipta tentang jahatnya mereka, Bang Dwika dan Nana mungkin saja tengah berbahagia dan saling tertawa karena akhirnya bisa bersama.

Aku sudah berjanji pada diriku sendiri jika aku harus kuat untuk Dika, dan kini aku berusaha sebaik mungkin untuk melakoninya. Aku tidak punya waktu untuk menangis lebih lama karena hidup terus berlanjut. Dibandingkan menangis dan meratapi hidup, Dika yang ternyata mengalami trauma begitu berat atas apa yang Papanya lakukan kepadaku dan dia, membutuhkan pertolongan secepatnya. Itu sebabnya kini usai membuat janji dengan dokter Amira yang di rekomendasikan dokter Abra, aku membawa putraku tersebut ke salah satu rumah sakit swasta terbesar di kota ini. Rumah sakit yang berkelas sama seperti tempatku bekerja dulu. Tentu saja biaya konsul pada dokter yang berpraktik disini sangatlah tinggi, tapi aku merasa uang bukanlah masalah, di kondisi seperti ini justru uang dari Bang Dwika akan bermanfaat sesuai fungsinya.

Perkara sekarang Bang Dwika tidak memiliki apapun dan bagaimana hidupnya aku sama sekali tidak peduli. Aku sudah cukup mengerti selama ini, dan aku tidak mau mengalah lagi. Toh, aku tidak menuntut apapun selama menjadi istrinya tidak membuat Bang Dwika bersyukur memilikiku di sisinya.

"Andika........"

Aku dan Dika baru saja turun di drop point taksi online saat seseorang dengan suara asing memanggil nama Dika dengan lantangnya. Kompak aku dan Dika celingukan sebelum akhirnya aku menemukan sumber suara. Sosok tinggi dengan kacamata tipis tersebut melambaikan tangannya dengan senyuman lebar ke arah Dika yang juga membalas dengan antusias.

"Om dokter....."

Melihat bagaimana antusiasnya Dika setelah berhari-hari bermuram durja di depan jendela saat berhadapan dengan Abra, mau tidak mau senyumanku mengembang. Setidaknya di tengah carut marutnya hati Dika sekarang ini ada satu hal yang membuat Dika tersenyum.

"Om buru-buru datang kesini waktu dengar Dika mau datang loh." Kata itulah yang terucap dari Abra saat mereka akhirnya berhadapan, seakan sudah mengenal lama Dika langsung mengulurkan tangannya pada Abra meminta Abra untuk menggendongnya. Aku sempat ingin mencegah Dika agar tidak melakukan hal tersebut, tapi Abra yang sudah lebih dahulu membawa Dika ke dalam gendongannya seakan hal tersebut bukanlah satu masalah untuknya.

"Om Abra tahu darimana Dika mau kesini? Padahal Dika sendiri nggak tahu loh kalau Mama mau ajak Dika ke rumah sakit, kan Dika udah nggak sakit, Om! Benjol di kepala Dika sudah nggak ada."

Layaknya anak kecil seusianya yang antusias bercerita akan segala hal, Dika pun langsung mengadu pada Abra. Lucu memang, Dika bukan seorang yang mudah bersosialisasi dengan orang yang lebih dewasa, alasannya simpel, Dika yang berwajah menggemaskan dan berpipi gembul selalu menarik perhatian orang dewasa untuk mencubitnya, tentu saja Dika tidak suka hal tersebut, tapi lihatlah betapa nyamannya Dika dalam gendongan Abra sekarang ini, entah sihir apa yang Abra miliki sebenarnya hingga dengan mudahnya menaklukan putraku tersebut.

Dalam sekejap, Dika dan Abra sudah larut dalam obrolan sementara aku mengekor dari belakang, bisa aku dengar jika Abra memberitahu Dika tentang Abra yang tahu dari Kakaknya jika Dika akan berkunjung, tidak lupa Abra bercerita jika dokter Amira adalah teman baru untuk Dika, seorang yang akan membuat Dika lebih baik nantinya dan akan mendengarkan apapun yang ingin Dika ceritakan, bahkan hal yang tidak bisa Dika katakan kepadaku.

"Kalau begitu apa sebutan buat dokter Amira, Om Dokter? Kata Om Abra, Om Abra ini calon dokter bedah, terus kalau dokter Amira apa? Kata temen-temen Dika orang yang di bawa ke psikolog itu cuma orang gila, Dika nggak gila loh, Om."

Panjang lebar dokter Abra menjelaskan, tapi celetukan dari Dika yang menanggapi hal tersebut membuatku dan dokter Abra lantas menghentikan langkahnya. Untuk pertama kalinya setelah terbiasa melihat dokter Abra begitu percaya diri menghandle situasi aku melihatnya kesulitan untuk berkata-kata. Bahkan kini dokter Abra kelabakan melirikku, seakan meminta pertolongan kepadaku bagaimana menjelaskan hal ini kepada Dika.

Sungguh ekspresi dokter magang ini sangatlah lucu, wajah paniknya begitu menggemaskan, isssssh, hilang sudah setelan dokter muda nan keren yang sebelumnya melekat.

"Bukan gitu maksud Om, Dika! Psikolog itu bukan temannya orang gila."

"Terus maksud Om gimana? Dokter psikolog itu temannya orang gila, kan? Kok sekarang Dika yang dibawa kesana."
Nahkan, makin kelabakanlah dokter Abra sekarang ini, "Ma, Dika nggak gila, Ma." dan melihat Dika menatapku dan dokter Abra bergantian seakan menghakimiku kenapa aku membawanya kesini, tidak mungkin kan aku mengatakan padanya secara terus terang kalau aku membawanya kesini karena psikisnya yang terguncang bisa berakibat fatal bahkan sampai hal terburuk seperti yang barusan dia sebut. Tentu itu akan membuat Dika marah jika sampai aku mengatakan traumanya mungkin saja akan membuatnya stres jika tidak segera di tangani. Aku kesulitan menemukan kata-kata yang halus untuk menjelaskan hal tersebut kepada anak berusia 7 tahun.

"Loh, temen Dika nggak bener nih. Masak iya dokter Amira yang cantik ini temenan sama orang gila."

Di tengah kebingunganku dan dokter Abra karena di todong penjelasan oleh Dika, mendadak saja seorang dokter yang mungkin seusia Bu Danyon muncul di belakang kami semua, tubuhnya yang kecil mungil nyempil melongok penuh minat pada Dika. Sama seperti dokter Abra yang supel, dokter Amira langsung meraih Dika dan berhadapan langsung dengan putraku. Tangan kecil Dika pun di genggam penuh dengan rasa sayang. Persis seperti seorang teman yang sudah lama tidak pernah bertemu.

"Dika dibawa kesini sama Mama karena dokter mau minta tolong ke Dika buat di ajarin gambar. Kata Mamanya Dika, Dika itu jago gambar, kan?"

Meski ragu akhirnya Dika mengangguk. Terlihat putraku tersebut melirikku sejenak sebelum akhirnya dia kembali melihat ke arah dokternya.

"Kalau gitu dokter ajarin gambar dong, dokter punya banyak krayon sama pensil warna banyak loh. Dika mau, kan? Tenang saja, Tante ini bukan temennya orang gila, Tante ini kakaknya Om Abra."

Aku tidak tahu metode apa yang akan dokter Amira lakukan, tapi yang jelas, aku berharap Dika bisa keluar dari rasa traumanya melihat bagaimana Papanya pergi meninggalkannya demi orang lain. Menggambar atau apalah, jika di butuhkan aku akan membelikan satu ton penuh krayon untuk Dika. Sayangnya dalam masalah ini, bukan tentang krayon semata yang di butuhkan.

Bersaing dengan MasalaluCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang