Tiba-tiba punya 3 kakak ganteng?
°°°°
Jean Willona. Gadis yang dibesarkan oleh seorang singel mother tanpa sosok ayah. Namun, saat bundanya meninggal, ia diberi tahu bahwa ternyata dirinya memiliki seorang ayah yang bernama Nathaniel Atmaja.
Jean pu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
BRAK!
Gebrakan yang sangat keras itu membuat Jean menoleh, menatap pintu kamarnya yang baru saja ditendang oleh seseorang.
"CEPETAN, GOBLOK! TIMBANG SIAP-SIAP DOANG LAMA BANGET!" bentak Zidan dengan marah. Iris kelabunya menatap nyalang kepada Jean.
Jean meringis pelan sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang. "I-iya, Kak. Aku sudah selesai, kok."
"Ya kalau sudah selesai cepetan turun! Lo mau kita terlambat terus dimarahin sama Kak Zehan lagi?! Cepetan!" bentak Zidan sekali lagi.
Setelah Zidan meninggalkan kamarnya, Jean pun menghela nafas panjang. Buru-buru gadis itu membereskan barang-barangnya agar tidak kembali diamuk oleh Zidan.
Saat berada di tangga, Jean berpapasan dengan Zehan yang ingin berangkat ke kampusnya. Lelaki itu sudah rapi dengan mengenakan kemeja berwarna hitam dan celana kain berwarna hitam. Terkesan sangat rapi.
"Pagi, Kak," sapa Jean ramah sambil tersenyum manis kepada Zehan.
Zehan melirik adiknya itu sekilas. "Awas lo kalau bolos lagi," ujarnya dengan sinis.
Jean langsung bergidik. Bayangan saat Zehan memarahinya di sekolah beberapa hari lalu kembali terlintas di kepalanya. Ia cepat-cepat melangkahkan kakinya mendahului Zehan.
Sesampainya di depan pintu rumah, Jean menghentikan langkahnya. Alisnya mengernyit ketika melihat garasi yang biasanya ditempati mobil putih milik Yohan masih kosong sejak kemarin. Pandangannya pun beralih kepada Ayla yang sedang menyapu halaman bersama seorang pelayan lainnya.
"Ayla, Kak Yohan nggak pulang semalam?" tanya Jean penasaran.
Ayla menghentikan gerakan sapunya sejenak lalu menggeleng pelan. "Nggak, Jean. Tuan Yohan mungkin masih ada urusan di luar. Biasanya kalau lagi banyak tugas kampus memang suka bermalam di luar."
"JEAN! CEPATAN! LO MAU GUE SERET?!" teriak Zidan dari atas motor sport-nya yang mesinnya sudah menyala sejak tadi. Nada suaranya begitu keras hingga membuat beberapa burung di halaman beterbangan.
Jean langsung meringis. "Iya, Kak! Bentar!" balasnya sambil berlari kecil menghampiri motor itu.
Di ambang pintu, Zehan yang baru saja keluar rumah memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Lelaki itu hanya berdiri diam memperhatikan Jean yang kini naik ke jok belakang motor Zidan.
Tanpa berpikir panjang, Jean melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Zidan seperti biasanya agar tidak terjatuh saat motor melaju. Namun, pemandangan sederhana itu justru membuat tatapan Zehan perlahan berubah semakin datar.