BAB 7

40.3K 1.5K 30
                                        

BAB 7

MEMBANGUNKAN ZEHAN

"Rasa karinya sudah Pas, Non

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Rasa karinya sudah Pas, Non. Nggak perlu ditambahkan garam lagi."

Di pagi Minggu yang cerah ini, Jean sudah berada di dapur sejak pagi bersama tiga orang pelayan rumah. Gadis itu mengenakan daster pink selutut dengan rambut yang dicepol ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih.

Jean tampak serius membantu menyiapkan berbagai bahan makanan. Sesekali ia mengobrol dengan para pelayan, sesekali pula ia sibuk mengaduk atau memotong bahan yang diperlukan.

Jean merasa dirinya tidak boleh hanya tinggal dan menikmati semua fasilitas yang ada di rumah ini tanpa melakukan apa pun. Setidaknya, ia ingin menjadi sedikit berguna, meskipun hanya dengan membantu memasak atau membereskan rumah.

Bagaimanapun juga, ia masih merasa sungkan kepada keluarga Atmaja.

Selagi memasak, Jean tak menyadari seseorang di belakangnya yang sedari tadi terus memperhatikannya.

"Yohan, kenapa kamu berdiri di situ?" tanya Nathaniel yang baru saja memasuki dapur dan menyadari keberadaan putranya, membuat seluruh orang di dapur seketika menoleh ke arah yang sama.

Jean ikut menoleh dengan refleks. Pandangannya langsung menemukan Yohan yang ternyata benar sedang berdiri santai di dekat kulkas, bersandar dengan posisi tenang dan ekspresi yang sulit ditebak.

Yohan menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis. "Nggak apa-apa, Pa. Aku cuma mau lihat Jean masak aja," jawabnya santai.

Jean langsung merasa sedikit canggung mendengar itu. Ia baru menyadari bahwa dirinya sejak tadi diamati, membuatnya tanpa sadar memperlambat gerakan tangannya di atas meja dapur.

"Zidan sama Zehan di mana, Ma? Kita sudah mau sarapan," tanya Nathaniel sembari melirik sang istri yang baru saja memasuki dapur.

"Mungkin mereka masih tidur, Pa. Mama juga nggak tahu karena tadi malam Zehan begadang, dia baru pulang jam satu malam," jawab Rosa.

Nathaniel menghela napas pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Jean yang kebetulan sudah selesai memasak dan mulai melepas apron yang dikenakannya. "Jean, Papa mau minta tolong sama kamu," ucapnya kemudian.

Begitu mendengar namanya dipanggil, Jean langsung mengangkat kepala dan menatap Nathaniel. "Boleh, Pa. Mau minta tolong apa?" jawabnya cepat, tanpa ragu.

"Tolong bangunin Zehan dan Zidan untuk sarapan," pinta Nathaniel.

Jean mengangguk. Ia segera meletakkan apron di tangannya ke atas meja lalu melangkah cepat menuju tangga lantai dua untuk membangunkan sang kakak.

RETROUVAILLESCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang