Tiba-tiba punya 3 kakak ganteng?
°°°°
Jean Willona. Gadis yang dibesarkan oleh seorang singel mother tanpa sosok ayah. Namun, saat bundanya meninggal, ia diberi tahu bahwa ternyata dirinya memiliki seorang ayah yang bernama Nathaniel Atmaja.
Jean pu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi hari sekali, Jean yang sudah mandi terlihat sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk ketiga kakak tampannya.
"Nasi goreng telur aja kali, ya?" gumamnya pelan.
Jean mulai menggoreng telur di kompor sebelah sambil mengaduk nasi goreng yang hampir matang. Sesekali ia bersenandung kecil, menikmati suasana pagi yang masih begitu tenang.
Jean yang sedang fokus memasak tidak menyadari kehadiran seseorang di sampingnya. Baru ketika menoleh, ia melihat Zehan yang rupanya baru saja bangun tidur.
"Masak apa?" tanya Zehan sembari mencuci wajahnya pada wastafel.
"Nasi goreng telur, Kak."
Zehan melangkah mendekat hingga berdiri di samping Jean. Pandangannya tertuju pada wajan berisi nasi goreng yang sedang diaduk gadis itu.
Beruntung, nasi goreng tersebut tidak diberi kecap. Zehan memang paling tidak suka nasi goreng yang dicampur kecap. Menurutnya, rasanya justru menjadi aneh.
"Zidan sama Yohan sudah bangun?" Zehan kembali bertanya sambil mengusap rambutnya yang masih berantakan.
Jean mengangguk. Sesekali ia meringis karena jaraknya dan Zehan begitu dekat. "Kak Zidan lagi lari pagi di luar, kalau Kak Yohan masih di kamarnya."
Karena nasi gorengnya sudah hampir matang, Jean meraih sendok kecil di samping kompor lalu mengambil sedikit nasi goreng dari dalam wajan untuk dicicipi.
Begitu nasi itu masuk ke mulutnya, dahinya langsung berkerut.
"Kenapa?" tanya Zehan yang menangkap perubahan ekspresi gadis itu.
Jean menggeleng pelan. "Kayaknya nasinya kurang garam, deh, Kak."
"Coba," pinta Zehan.
Jean segera mengambil sedikit nasi goreng lagi, meniupnya agar tidak terlalu panas, lalu menyuapkannya ke mulut Zehan.
"Anak pungut, gue ha-"
Seketika Jean dan Zehan menoleh, menatap Zidan yang sedang berdiri di pintu dapur.
Di sana berdiri Zidan yang baru saja selesai berlari pagi. Rambutnya tampak basah oleh keringat, sementara tubuh bagian atasnya masih telanjang. Ia hanya mengenakan celana training panjang.
Jean refleks menelan ludah. Harus diakuinya, penampilan Zidan pagi itu memang terlihat sangat tampan.
"Kalian ngapain?" tanya Zidan dengan nada yang terdengar judes.