BAB 8

35.2K 1.4K 9
                                        

BAB 8
BOLOS

Di senin pagi yang cerah ini, Jean yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya tampak sedang duduk di depan rumah sambil memasang sepatunya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di senin pagi yang cerah ini, Jean yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya tampak sedang duduk di depan rumah sambil memasang sepatunya.

Semalam, Yohan memanggilnya ke kamar untuk membantu memijat pundaknya yang terasa pegal. Menurut lelaki itu, tubuhnya terasa lelah karena harus mengerjakan tugas kuliah hingga larut malam.

Jean tidak menganggap permintaan itu aneh. Bagaimanapun, ia hanya membantu memijat pundak Yohan selama beberapa menit. Tidak ada hal lain yang terjadi.

Setelah selesai memakai sepatu, Jean berdiri dan menepuk-nepuk rok seragamnya agar kembali rapi. Pandangannya kemudian beralih ke arah halaman depan rumah.

Di sana, Zidan sudah berada di dekat motor sport kesayangannya. Lelaki itu tampak masih sangat mengantuk. Rambutnya sedikit berantakan, matanya setengah terbuka, dan wajahnya masih menunjukkan ekspresi khas orang yang baru bangun tidur.

"Kak Zidan bisa, kan, bawa motornya?" tanya Jean merasa tak yakin dengan kondisi Zidan yang mengantuk.

Zidan berdecak kasar. "Nggak usah banyak tanya lo, naik aja buruan," balasnya ketus seperti biasa.

Tak ingin mencari masalah dengan sosok segalak Zidan, Jean pun memilih diam dan segera naik ke atas motor lelaki itu. Dengan hati-hati, ia duduk di jok belakang sebelum melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Zidan sebagai pegangan.

Sementara Zidan, lelaki itu tak protes dengan pelukan Jean di belakang. Toh, kalau sampai gadis itu terjatuh karena tidak memegang apa pun, justru dirinya yang akan kerepotan nanti.

Sialnya, saat mereka sampai di depan gerbang sekolah, rupanya gerbang itu sudah terkunci. Banyak sekali siswa-siswi yang kini sedang melakukan upacara di lapangan. Bendera pun juga sedang dinaikkan sambil diiringi lagu Indonesia Raya.

"Kak, kita telat. Ini gara-gara Kak Zidan yang bangunnya kesiangan," omel Jean yang masih duduk di boncengan Zidan.

Zidan mendengus kasar. "Lo nyalahin gue?"

"Iya. Kak Zidan yang bangunnya kesiangan," oceh Jean dengan cemberut.

Jean ingat tadi pagi ia harus membangunkan Zidan di kamar lelaki itu. Di saat ia sudah selesai memakai seragam, Zidan malah masih berenang di alam mimpinya. Itu semua terjadi karena tak ada Rosa yang setiap pagi selalu membangunkan Zidan.

"Berisik lo, budek telinga gue lama-lama," ketus Zidan yang kemudian menarik gas motornya dengan kecepatan tinggi, membuat Jean hampir terjungkal ke belakang.

RETROUVAILLESCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang