19. Surreptitious

657 35 4
                                        

Mana pernah Boy berpikir akan jatuh cinta pada Jen Nera - wanita yang semula menjual tubuh pada pria demi uang. Tapi begitulah hidup ... sesuatu yang dihindari justru menjadi bumerang. Berbalik membelenggu.

Bukan Jen yang jahat karena sudah membuatnya mabuk kepayang. Namun dirinyalah yang ternyata diam-diam menjadi iblis berkedok malaikat. Ya, Boy mengakui keegoisan dan dusta berat yang sudah ia lakukan pada Jen. Lelaki itu datang dan seolah-olah bersedia bersama Jen selamanya. Padahal masa depan Boy sudah jelas - menikah dengan tunangan pilihan keluarga, lalu meneruskan perusahaan besar milik Park Group. Dan, nama Jen Nera tidak tertulis dalam rencana masa depan seorang Booyah Park.

Ia membiarkan Jen tertipu.

Ia tak jujur karena masih ingin menahan wanita itu.

Egois.

Boy mencoba membenarkan tindakannya dengan dalih akan membantu Jen menyelesaikan kuliahnya. Ia akan memastikan Jen berhasil menyusun tesis yang baik; sampai akhirnya lulus, dan mendapatkan pekerjaan impian.

"Tidak bisa, Jen."

"Kenapa?" Jen memburu penasaran.

Boy menoleh dan menatap ke dalam iris gelap Jen. "Hubunganku dan mamaku sudah tidak harmonis lagi. Beberapa tahun yang lalu; saat aku masih menjadi pelajar SMA, orang tuaku bercerai, dan mama meninggalkan rumah. Meninggalkan kami anak-anaknya demi bersama lelaki lain."

Jen terhenyak dalam kebekuan.

Ia menyorot Boy mengiba. Lalu merapatkan badan untuk mengusap sisi wajah kekasihnya yang sehalus pualam.

"Maafkan aku, Boy. Aku tidak tahu," ucap Jen. "Sekarang aku sadar kalau kita punya kehidupan yang hampir sama. Sama-sama tak memiliki orang tua."

Boy tersenyum getir. "Kamu nggak perlu minta maaf." Ia menarik jemari Jen dan mengecupnya. "Hanya saja, Jen - bisakah kamu tak mengandalkan orang lain dalam hidupmu?"

"Maksudmu?"

"Maksudku ... kamu seharusnya jangan terburu-buru membangun rencana masa depan yang baru. Pindah ke Bali dan melupakan tujuan awalmu; melepas tawaran pekerjaan yang sudah lama kamu incar, hanya demi bersama-sama denganku," ujar Boy.

Ekspresi Jen berubah sendu. "Maksudmu, kamu berniat pergi? Kamu tidak serius pada hubungan kita?" tanyanya.

"Jen, bukan begitu!" Boy menegakkan badan untu menahan Jen yang hendak meloloskan diri dari ranjang. "Aku serius padamu, Jen. Aku mencintaimu, tapi ... anything could happen."

"Anything could happen, maksudnya, kamu pergi, kan?" sentak Jen. "Kamu berniat pergi, kan?"

"Apa mendiang bapakmu berniat pergi?" tukas Boy.

Jen terhenyak dalam geming.

Boy lalu menggenggam pundak Jen. Ia menunduk untuk mensejajarkan wajah mereka. "Jen," ucapnya lembut. "Kita nggak tahu plot Tuhan di depan sana. Aku nggak mau meninggalkanmu, tapi, bagaimana jika Tuhan berencana lain? Untuk itulah aku memintamu untuk mandiri, mengandalkan dirimu sendiri tanpa bergantung pada siapa pun. Tidak padaku, tidak pada keluargamu, tidak pada orang lain."

Jen mengangguk. Mata wanita itu berubah berkaca-kaca.

"Tapi aku ingin selalu bersamamu."

Boy memeluk Jen erat, lalu mengecup pelipisnya. "Aku tahu. Aku pun sama."

"Aku tak ingin ditinggalkan lagi, Boy. Aku takut."

"Kamu tahu siapa yang tak akan meninggalkanmu?" alih Boy.

"Siapa?"

"Dirimu." Boy lantas melepaskan rengkuhan dan menuntun Jen kembali bersandar di ranjang. "Karena itulah, kamu harus melatih diri agar menjadi seseorang yang tangguh. Seseorang yang bisa membela dirinya sendiri. Seseorang yang cerdas hingga tak ada lagi yang berani membohonginya."

POLY (21+)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang