"Oh Tuhan ..."
Jen menggigit bibir bawahnya demi menahan segala erang. Kepala wanita itu meneleng kiri dan kanan secara bergantian demi mengurangi gelenyar rangsangan pada intinya. Tapi sekuat apa pun Jen mencengkeram kain seprai, sensasi memabukkan itu demikian kuat menguasai.
Boy memusatkan sentuhan pada satu titik tertentu yang semakin membuat Jen menggelinjang tak karuan.
Lelaki itu mengisap liar ...
[ CUT. Baca versi utuh di KARYAKARSA. KETIK kucing hitam untuk temuin akunnya ]
Bekerja sebagai wanita BO bukan berati ia akan merasakan kesenangan tiap kali melayani pelanggan-pelanggannya. Sebaliknya, Jen justru ingin sesi bercinta itu segera usai. Tapi bersama Boy berbeda - ada kelekatan yang tak sekedar pertemuan antara dua kulit, melainkan penyatuan masing-masing hati.
Boy benar, bercinta memang sebaiknya dilakukan dengan seseorang yang spesial. Seseorang yang sangat disayangi dan menyayangi. Maka, bukan hanya kenikmatan yang didapat; melainkan ketiadaan dari rasa bersalah - sebuah ketenangan.
"Jen ..." Boy menggugam parau. Ia mengecup rahang dan leher Jen Nera penuh gairah. "Kamu menyukainya?" bisiknya.
Jen mengangguk; kemudian meraba-raba pundak Boy yang kokoh, lalu kembali mencengkeramnya kuat melalui kuku-kuku lentik yang ia miliki. Darah Jen semakin memanas hampir terbakar. Kenikmatan itu semakin liar bergetar-getar menghantam tubuhnya.
[ CUT. Baca utuh di KARYAKARSA Kucing Hitam ]
***
"Kamu benar, Boy. Bercinta memang seharusnya dilakukan dengan orang yang tepat, orang yang kusayang," kata Jen. Ia tertidur di atas lengan Boy yang menyangga kepala.
Boy tersenyum. "Aku nggak sangka ini akan terjadi di antara kita, mengingat kamu bilang bahwa aku bukan tipemu."
"Aku juga nggak merencanakan ini, semua terjadi begitu saja," sahut Jen.
Telapak Boy lalu membelai-belai rambut Jen. "Jen," panggilnya. "Tapi suatu saat aku janji akan menjadi lelaki idealmu, lelaki yang melemparkan segepok dolar selesai bercinta dan memberikan cincin berlian serta tas Hermès setiap selesai nge-date."
Jen menahan kikik. Ia menegakkan kepala seraya memandangi Boy lekat-lekat. Lelaki itu ingat tiap detail dari semua perkataannya.
"Aku sudah tidak menginginkan lelaki seperti itu lagi. Aku menginginkan kamu." Jen lantas mengecup mesra bibir Boy.
Boy membalas pagutan Jen dengan penuh gairah menyala. Ia membelai punggung Jen yang mulus dan menarik wanita itu dalam rengkuhan.
Jen melepaskan ciuman. "Aku hanya ingin segera lulus dan mendapatkan pekerjaan yang dijanjikan oleh mantan bos mendiang bapakku. Setelah itu, kamu mau, kan, hidup bersamaku? Kamu bisa menemukan pekerjaan yang cocok untukmu."
Boy mengangguk. Ada kilat kesenduan pada iris obdisian lelaki bermata monolid itu. Sesuatu yang ia sembunyikan dari Jen, bahkan rahasia itu tak diketahui oleh dunia sekali pun.
Jen lantas kembali tertidur dalam pelukan Boy. "Ada banyak waktu untuk saling mengenal," katanya. "Aku belum tahu siapa nama lengkapmu, di mana rumahmu yang sebenarnya, dan apa kesukaanmu, Boy."
"Sssh ..." Boy membisik. "Kita masih punya banyak waktu, Jen. Sekarang tidurlah."
"Kamu bukan psikopat yang akan membunuhku, kan, Boy?" Jen tersungging geli.
"Satu-satunya senjata yang kumiliki sudah kamu rasakan tadi. Apa itu bisa membunuhmu?" goda Boy.
Jen mencubit gemas lekuk pinggang Boy. "Serius, ih!" dumalnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
POLY (21+)
RomanceA Dark Romance Story About Polyamorous and Open Relationship. Adult Only | 21+ Jen Nera atau Je bekerja sebagai wanita BO demi tuntutan hidup. Ia lalu bertemu dengan Boy, lelaki berdarah Korea Selatan yang memikat hati. Dalam waktu singkat, Boy berh...
