Ribuan orang memenuhi Gedung Q yang terletak pada kawasan universitas Jen. Mereka adalah wisudawan dan wisudawati yang ditemani keluarga atau orang tua masing-masing. Datang satu per satu dengan rona bahagia menuju auditorium bangunan yang dijuluki Green Building. Gedung yang baru saja selesai dibangun pada 2018 lalu itu merupakan kebanggaan kampus karena desain uniknya berhasil mendapatkan penghargaan dari IAI (Ikatan Arsitektur Indonesia) Jatim.
Jen melangkah tanpa semangat masuk ke dalam elevator. Ke mana pun matanya melirik - ia menangkap sekumpulan keluarga bahagia di sana sini. Para wisudawati itu tampil full makeup; kebaya mereka juga cantik, mungkin hasil jahitan desainer mahal. Belum lagi sepatu penuh manik-manik berkilauan yang tampaknya mahal. Lain halnya dengan Jen yang justru terlihat seadanya.
Untuk apa berdandan?
Tak ada satu pun dari keluarganya yang hadir. Tidak Marcus, Maria, Rania, Miranti, apa lagi Boy. Ya — Boy. Lelaki sialan itu sudah menghilang dari kehidupan Jen selama dua bulan belakangan. Nomor tak aktif; alamat tidak jelas, dan akun sosial media yang sama sekali tak bisa ditemukan oleh Jen.
Ia menghabiskan waktu berminggu-minggu menanti di depan lobi apartemen, tapi Boy tetap tak muncul. Ujungnya, Jen justru diusir security — dianggap mengganggu ketenangan.
Jen juga sudah lelah begadang demi mencari sosok Boy di pencarian online. Ia mengetik nama 'Boy', lalu 'Bobby Marvin', namun hasilnya tetap nihil. Keberadaan Boy seakan lenyap, ia seolah-olah mimpi indah yang berlalu ketika terbangun.
Setiap malam Jen selalu membaca ulang kertas yang Boy berikan — menelaah kata demi kata. Mencoba mencari di mana letak kesalahannya sehingga Boy pergi begitu saja.
Jen telah meratap; marah, tak terima. Ia masih punya raga, tapi tanpa jiwa.
"Ma, kita foto situ, yuk."
Jen menoleh pada salah seorang wisudawati yang berpose bersama ibunya. Sementara sang ayah mengabadikan melalui ponsel. Mereka bertiga menggunakan kostum senada; kebaya nuansa gold, yang dipadankan jarit motif Parang. Senada dengan batik yang dipakai si ayah. Ketiganya sama-sama tersenyum lebar, sesekali tertawa.
Jen pun melengos - dia sendirian.
Tiada satu pun manusia di bumi yang mengucap selamat padanya. Tiada pula yang sekedar mengajak berfoto bersama. Apa lagi repot-repot menghadiahi bunga.
Rasa pedih tiba-tiba menusuk-nusuk jalan napas Jen. Sesak seolah ada himpitan batu besar di dada. Jen pikir ia terbiasa dengan kesepian, ternyata ia salah. Untuk kali ini; lubang pada relung Jen teramat kentara, lukanya kembali bernanah. Ia rindu pada mendiang bapaknya, serta sosok ibu yang wajahnya sudah tak lagi terpatri pada memori. Ia juga rindu ... Boy.
"Hoi. Udah lulus kok malah nangis?"
Cecilia berdiri santai di dekat Jen sambil meringis. Wanita Chindo itu tampak santai dengan tanktop dan jeans belel.
"Sil?" Jen menyeka air mata.
Cecilia merangkul pundak Jen. "Selamat, ya!" ucapnya.
"Ma-makasi," sahut Jen tergagu. "Kamu ke mana aja? Nggak pernah kelihatan di kampus."
"Biasa ... sibuk kerja," jawab Cecilia acuh tak acuh. Ia mengajak Jen berjalan menuju elevator gedung.
"Terus kuliahmu gimana?" selidik Jen.
"Ya, kependinglah." Cecilia terkekeh. "Memang sengaja, sih. Om-om lebih suka sama mahasiswi. Kalau aku lulus, aku khawatir sepi job."
"Oh ..." Jen hanya tersenyum kecut.
Cecelia menoleh kiri-kanan. "Kamu sendirian?"
"Ya."
"Baguslah. Nggak sia-sia aku ke sini cari kamu." Cecilia menekan tombol lift sambil memandangi Jen lekat. "Aku butuh teman hangout."
KAMU SEDANG MEMBACA
POLY (21+)
RomanceA Dark Romance Story About Polyamorous and Open Relationship. Adult Only | 21+ Jen Nera atau Je bekerja sebagai wanita BO demi tuntutan hidup. Ia lalu bertemu dengan Boy, lelaki berdarah Korea Selatan yang memikat hati. Dalam waktu singkat, Boy berh...
