Jen mematung seraya memaku pandangan ke luar jendela Mclaren yang sedang ia tumpangi. Semua terasa ganjil; lelaki yang sedang bersama dengannya bukan lelaki yang semula ia kenal, ini begitu asing, canggung, dan tak nyata.
Boy dalam ingatannya adalah lelaki humoris dan yang sederhana. Jangankan supercar; mengendarai astrea butut saja — Boy masih belum lancar.
Tapi bukankah Jen sangat bodoh?
Tertipu begitu mudah dengan segala dusta dan akting Boy yang manis. Seharusnya Booyah Park berganti profesi menjadi seorang aktor, bukan pebisnis.
"Maaf, Pak Park, Anda bisa turunkan saya di situ." Jen menunjuk ke sisi trotoar.
Boy seolah tuli. Ia enggan memperlambat laju kendaraan, apa lagi berniat menepi.
"Pak Park!" sentak Jen yang tak dipenuhi keinginannya.
Boy mendecih. "Memang kamu mau ke mana? Kamu tidak punya siapa pun."
"Bukan urusan, Bapak, kan?" sahut Jen membuang muka.
"Berhenti memanggilku 'Bapak' atau 'Pak Park', Jen!" sungut Boy kesal. "Aku Boy."
"Bukankah Booyah Park memang namamu, huh!" pelotot Jen tak kalah garang.
Boy menghela napas panjang. "Dengarkan aku Jen — kali ini dengarkan aku dulu," katanya. "Namaku memang Booyah Park dan mereka semua memanggilku 'Boy'. Bobby Marvin juga namaku, Bobby Marvin Park. Nama lahir yang diberikan oleh ibuku. Namun ketika orang tuaku bercerai, ayah mengganti namaku menjadi Booyah Park."
Jen membisu. Ia berlagak seolah tak peduli, padahal rungu wanita itu menajam - mendengarkan dengan saksama.
Boy kembali melanjutkan, "Ada banyak hal yang tidak diketahui oleh publik tentang keluargaku. Keluarga Park," ungkapnya. "Suatu praktik yang dijalankan cukup lama dalam keluarga Park. Hal yang diwarisi oleh mendiang kakekku secara turun-temurun."
"Aku tidak peduli." Jen mendengkus.
Boy melirik Jen sekelibat. Lalu tersenyum tipis karena wanita itu sama sekali belum berubah — keras kepala. Boy tahu betul Jen mendengar, ia hanya sedang mempertahankan harga diri. Bukankah sejak semula julukan wanita itu memang Miss Gengsi Donk?
"Pernikahan kami semua diatur oleh keluarga. Dan segera setelah menikah, kami akan mendapatkan posisi dalam perusahaan. Kami diwajibkan menerima perjodohan dengan kompensasi istimewa. Sesuatu yang ditentang oleh conventional marriage mana pun. Sesuatu yang semula kutentang mati-matian," ujar Boy. "Sesuatu yang membuatku benci terlahir sebagai bagian dari keluarga Park."
Jen menoleh dan menatap Boy lamat-lamat.
Boy menelan saliva. "Baik pernikahan kedua orang tuaku, pernikahan Kak Vincent, dan semua saudara-saudaraku adalah praktik open relationship," jelasnya.
"A-apa?" tanya Jen.
"Pernikahan di mana kami boleh memiliki hubungan dengan orang lain di luar pasangan sah. Asalkan tetap menomor-satukan keluarga inti kami. Keluarga Park menentang perceraian, tetapi melegalkan hubungan terbuka. Oleh karena itu sebelum menikah, kami wajib menandatangani perjanjian pra-nikah. Salah satu poinnya adalah pihak yang menuntut bercerai akan kehilangan seluruh hak akan harta yang ia miliki," terang Boy. "Pernikahan kami adalah pernikahan bisnis, Jen. Di mana saat kami menikah, bukan hanya dua keluarga yang bersatu, tetapi juga dua perusahaan besar."
"Kamu tahu, Boy?" sahut Jen. "I don't care with your fuckin family history! Fakta akan hal itu tak membuatku bersimpati padamu. Bukankah bagus kamu masih bisa ngentot sama perempuan lain seizin istrimu? Tapi bukan berarti kamu bisa mempermainkanku!"
KAMU SEDANG MEMBACA
POLY (21+)
RomanceA Dark Romance Story About Polyamorous and Open Relationship. Adult Only | 21+ Jen Nera atau Je bekerja sebagai wanita BO demi tuntutan hidup. Ia lalu bertemu dengan Boy, lelaki berdarah Korea Selatan yang memikat hati. Dalam waktu singkat, Boy berh...
