Matahari menyingsing menempa kulit sawo matang Jen yang hanya terbalut kamisol tipis. Ia masih memejamkan mata di atas ranjang, nyenyak dan pulas seperti bayi.
Tidur memang suatu anugerah.
Saat terlelap, mimpi membawa Jen ke dunia lain yang lebih indah dari kenyataan. Tidur mengantar wanita itu menuju ambang imajiner. Sebuah jagat penuh bahagia dan ramah tanpa derita. Jen berharap ia tidur selamanya. Tak perlu terbangun untuk bertatap muka dengan realita; dengan manusia, dan dengan patah hatinya.
"Jam berapa ini?!"
BRAK. Maria membuka pintu kamar Jen kasar. Ia bergegas menyibak tirai jendela, lalu menyingkap selimut yang Jen dekap erat.
Jen otomatis terperanjat. Kepalanya serasa berdenyut karena dibangunkan secara paksa.
Maria berkacak pinggang sinis. "Setidaknya kalau jadi pengangguran, ya, bantu-bantu, dong! Bangun pagi bikin sarapan, bersih-bersih, nyuci! Ini kerjaannya cuma tidur aja. Dasar males!"
Jen menegakkan badan. Apa yang Maria jabarkan barusan sudah Jen lakukan tiap hari. Cuma karena telat bangun sehari — Maria sigap mengecap Jen pemalas.
"Maaf, Budhe. Aku kesiangan ..." kata Jen serak.
"Kesiangan, kesiangan?" pelotot Maria. "Gunanya HP buat apa? Kan bisa pasang alarm."
"Iya, maaf." Jen tertunduk.
"Sudah sana buruan! Siapin makanan," titah Maria arogan. Ia lantas melirik Jen dengan tatapan menghina. "Sudah Budhe bilang kalau cari kerja susah, tapi malah nolak balik ke kantor pakde. Sekarang kualat, kan? Perusahaan yang kamu tuju bangkrut. Ngelamar sana-sini juga belum dapat panggilan."
Jen memilih diam.
Ya. Apa yang dikatakan Maria memang benar, bukan?
Terhitung sudah enam bulan Jen menganggur. Ia sudah kirim lamaran ke setiap perusahaan, namun tak ada respon satu pun.
"Buruan bangun! Jangan malah ngelamun." sentak Maria.
Jen terhenyak. "Y-ya, Budhe ..." sahutnya.
Jen lantas menuruni ranjang dan merapikannya. Ia lalu mengganti pakaian dengan kaos longgar yang lebih tertutup. Jaga-jaga agar mata Marcus tidak lagi jelalatan memandanginya.
Demi Tuhan.
Jen ingin sekali pergi, tapi ke mana? Ia tak memiliki uang sepeser pun. Ia juga tidak ada tujuan.
Jen serasa terkurung dalam penjara dan tidak bisa melarikan diri.
Pikiran jual diri atau balik open BO sempat terbersit. Namun entah mengapa Jen enggan merealisasikannya. Baik tubuh mau pun pikiran Jen menolak untuk disentuh. Membayangkannya saja ia sudah ingin muntah dan bergidik.
Seks adalah suatu yang kini Jen benci. Bercinta mengingatkannya pada Boy — lelaki jahat yang masih memonopoli otaknya.
Ah, salah sendiri kenapa begitu percaya dan bergantung pada manusia? Padahal Jen tahu kalau manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang gemar ingkar janji. Manusia merupakan penebar kekecewaan terbesar. Mulut manusia begitu mudah mengucap hal-hal indah. Lalu dengan gampang juga mengkhianati.
Mendiang bapak-ibunya, Pak Joko - mantan bos bapaknya, lalu Boy, semua adalah pendusta.
Dan Jen adalah si dungu yang memilih percaya.
Ponsel Jen tiba-tiba berdenting — ia sigap memeriksa pesan yang masuk. Berharap panggilan interview dari salah satu perusahaan yang ia lamar.
OM TRIS
[ Jen, CEO muda itu baru saja datang ke kantor. Kamu bilang ingin menemuinya, kan? Cepat kemari dan bawa lamaranmu. Om akan bilang kalau kamu adalah keponakanku. Semoga saja dia berbaik hati memberimu pekerjaan. Kelihatannya beliau orang yang baik dan ramah. ]
KAMU SEDANG MEMBACA
POLY (21+)
RomanceA Dark Romance Story About Polyamorous and Open Relationship. Adult Only | 21+ Jen Nera atau Je bekerja sebagai wanita BO demi tuntutan hidup. Ia lalu bertemu dengan Boy, lelaki berdarah Korea Selatan yang memikat hati. Dalam waktu singkat, Boy berh...
