"Pakde, lepas!"
Jen tak bisa lagi berpikiran positif tentang Marcus; lelaki itu memang merayunya secara seksual, suatu hal yang tidak wajar.
Marcus mendengkus. "Kenapa kamu jual mahal?" sentaknya. "Mumpung rumah lagi sepi tidak ada orang."
"Pakde!" sanggah Jen. "Aku menganggap Pakde dan budhe adalah pengganti orang tuaku!"
"Pakde tidak perlu kamu anggap begitu. Kita tak ada hubungan darah. Ini zaman modern dan jangan sok sucilah, Jen."
Jen membeliak. "Pakde suaminya budhe Maria! Apa Pakde sudah nggak waras?!"
"Yaudah, kalau kamu terus tarik ulur." Marcus berkacak pinggang. "Kamu butuh uang berapa, sih? Nanti Pakde kasih."
"Aku nggak butuh uang Pakde!" Jen melengos. Namun Marcus lagi-lagi menahan tangannya. "Lepas!"
"Kamu tadi bilang apa? Kamu tidak butuh uang?" ulang Marcus. Ia lalu terkekeh seolah-olah sedang mencemooh Jen. "Terus yang selama ini membayar kuliah dan mencukupi kebutuhan kamu siapa kalau bukan Pakde? Semua-mua pakai uang Pakde. Kamu tuh berutang sama Pakde, dan Pakde tidak minta kamu kembalikan semua. Pakde cuma mau kita sama-sama enak."
Sekujur tubuh Jen gemetaran. Ia memang bukan wanita suci — dia pernah menjadi PSK. Namun hatinya hancur ketika Marcus menggodanya. Remuk ketika keluarganya sendiri yang mencoba mengajaknya bersetubuh.
"Aku akan anggap ini tak pernah terjadi." Pelupuk Jen berlinang air mata. "Aku lakukan ini demi Budhe, Rania, dan Miranti. Aku anggap hari ini Pakde tak pernah masuk ke dalam kamarku dan tak pernah bicara begini padaku."
Marcus mendengkus.
Jen kembali melanjutkan, "Aku akan berusaha melupakan ini. Aku akan tetap menganggap Pakde sebagai keluarga yang kuhormati." Ia lalu menepis tangan Marcus dan bergegas pergi.
"Munafik!" seru Marcus dari dalam kamar. "Lihat saja kalau kelak kamu butuh uang. Jangan harap Pakde akan kasih lagi. Emang kamu pikir cari kerja zaman sekarang gampang? Dasar sombong!"
Jen masih sanggup mendengar segala umpatan yang Marcus lontarkan meski pun sudah mempercepat langkah.
Kali ini ia benar-benar yakin akan keputusannya — ia harus segera enyah dari rumah sialan ini.
***
Jen turun dari sepeda motor milik ojek online yang ia pesan.
Dua manik cokelatnya tak berhenti menyapu pandangan pada kawasan industri yang dulu sering ia kunjungi. SIER atau Surabaya Industrial Estate Rungkut adalah salah satu perusahaan milik negara yang mengembangkan kawasan industri di Indonesia, khususnya Jawa Timur. Area seluas 245 hektar itu telah disewa dan ditempati oleh sekitar 300 perusahaan yang mempekerjakan ribuan pekerja. Mulai dari perusahaan besi dan baja, suplai makanan, cat, hingga perusahaan produsen plastik kemasan, berlokasi di SIER. Termasuk perusahaan suplai makanan beku milik mantan bos Yosua.
"Mbak, helmnya ..."
"Oh, maaf, Pak." Jen segera mengembalikan helm kepunyaan ojol yang masih bersarang di kepalanya. Ia sadar terlalu lama melamun.
Setelah menarik napas berkali-kali demi menghilangkan gugup, Jen pun melangkah masuk melewati gerbang PT Abadi Jaya Sentosa.
Ia merasa sedikit aneh karena tempat itu lebih sepi dari yang ia ingat. Tak ada satu orang pun tampak berseliweran, seperti tidak ada kehidupan.
Dulu tiap kali Yosua mengajak ke sana, Jen selalu terkagum-kagum pada ratusan kontainer berisi daging olahan berkualitas yang siap diangkut oleh puluhan engkel box. Ia membayangkan andaikan bisa membawa pulang satu kontainer untuk dikonsumsi di rumah. Pasti bakal puas makan daging sebegitu banyak.
KAMU SEDANG MEMBACA
POLY (21+)
RomanceA Dark Romance Story About Polyamorous and Open Relationship. Adult Only | 21+ Jen Nera atau Je bekerja sebagai wanita BO demi tuntutan hidup. Ia lalu bertemu dengan Boy, lelaki berdarah Korea Selatan yang memikat hati. Dalam waktu singkat, Boy berh...
