༺✦༻
Kadang, bukan setrikaan yang bikin panas... tapi tekanan dari atasan.
— Diary Mikha El-Hariz
༺✦༻
•
•
•
•
•
Siang itu terasa sangat menyengat. Matahari seperti ingin menembus atap pondok.
Banyak santri memilih meringkuk di kamar, termasuk Mikha yang kini tenggelam di alam bawah sadar.
Setelah makan siang tadi, ia langsung rebah. Entah kenapa, kelopak matanya terasa lebih berat dari biasanya.
Apa mungkin karena begadang tadi malam?
Jarum jam bergerak pelan.
Sudah menunjukkan pukul 14.00.
Sebelum tidur, Mikha sebenarnya sudah menitip pesan ke Ricky:
"Bangunin gue jam dua, ya. Gue mau mandi."
Tapi kenyataannya?
"WOI! Lo yang minta dibangunin, malah jadi mayat hidup!" Ricky sudah beberapa kali teriak di telinga Mikha, tapi yang keluar dari mulut temannya hanya gumaman tak jelas.
Ricky akhirnya pasrah.
"Dia yang mau mandi, gue yang repot," gumamnya kesal sambil merapikan lemari.
•••
Sementara itu, di gudang -markas santri pilihan, lima orang sedang bermain game miring.
Suara game mendominasi ruangan.
Wiliam yang dari tadi kalah mulai kesal sendiri.
"Ih sialan! susah banget sumpah!"
Ia mengumpat sambil sendiri.
"BERISIK!" sanggah Oxy dari pojokan, membuat suasana mendadak hening.
"Lama-lama gue lem tuh mulut lo, Liam," sambung Gilang yang juga mulai kehilangan fokus.
Wiliam manyun. Dengan kesal, ia banting ponselnya ke kasur.
"Gak seru, ah."
Dia bangkit dan berjalan ke pintu.
"Ada yang mau nitip?"
"Suruh Mikha ke jemuran," sahut Oxy tanpa mengangkat kepala dari layar.
"Oke."
"Bakso bakar 30 ribu!" teriak Melvin sambil melempar uang ke arahnya.
"Sisanya buat lo," lanjutnya.
Wiliam senyum-senyum sendiri sambil kantongi uang.
Melvin langsung meringis.
"Jijik."
•••
Ketika bakso udah di tangan, Wiliam menuju asrama Mikha.
Koridor lengang, hanya ada segelintir santri lalu-lalang.
Ia masuk ke kamar Mikha, "Mikha mana?"
Salah satu dari mereka menunjuk ke sudut ruangan.
Ricky sadar.
"KHAA! Dicariin tuh!" Ricky akhirnya ikut teriak di telinga Mikha.
"Siapa?" gumam Mikha sambil mengucek mata.
"Kabir Wiliam," bisik Ricky.
Mikha membuka mata, menatap wajah Wiliam yang sudah berdiri siap pergi.
"Lo disuruh ke jemuran," ucap Wiliam singkat sebelum balik badan.
"Iya kak," sahut Mikha.
Tubuh Wiliam sudah mengecil dari pandangan Mikha.
Ia beralih menatap Ricky, "jam berapa sekarang?"
"Hampir jam tiga." Ricky masih fokus membersihkan lemarinya.
Mikha refleks bangkit, lalu mendesis, "lo gak bangunin gue!?"
"Lo tadi kayak mayat, kha."
Mikha buru-buru buka lemari, ambil peralatan mandi.
Dan lari ke hamam.
Panas matahari seperti neraka bocor.
•••
"Mandi udah. Nyuci udah. Tapi belum kelar juga kerjaan negara," gumam Mikha sambil sabunan.
Lamanya ia di kamar mandi membuat santri lain mengetuk pintu.
"WOI! Lama banget!"
"Bentar lagi!" balas Mikha santai.
Selesai mandi, Mikha langsung menuju jemuran.
"Jemur udah, tinggal angkat baju si raja nyuruh-nyuruh."
Ia mulai angkat baju milik Oxy, sambil menghitung dengan serius.
Ini penting.
Jangan sampai ada yang hilang.
"Empat belas. Lima belas. Enam..."
Matanya membulat.
"LIMA BELAS!? Harusnya enam belas!"
Ia mengulang hitungannya lagi.
Masih sama.
"SARUNG!? GILA, ITU SARUNG MAHAL!"
Mikha langsung panik. Ia keliling area jemuran.
Nol.
Sarung Oxy hilang entah ke mana.
"IH GOBLOK! SARUNG BEGITUAN MAHAL BANGET!"
Ia jongkok, menarik rambutnya sendiri. Matahari makin panas, tapi dadanya lebih panas.
Setelah beberapa menit panik, muncul satu nama di kepalanya: Ricky.
•••
Mikha lari ke kamarnya, duduk lesu di samping Ricky.
"Apaan? Wajah lo kayak abis ketauan nyolong permen," ledek Ricky.
"Bantuin gue dong." Mikha menyatukan dua tangan dan pasang muka imut.
"Apalagi sih?"
"Tapi lo janji tolongin ya."
Ricky mengangguk. Mikha pun bercerita panjang lebar soal sarung hilang.
"Terus gue harus ngapain?"
"Kita keliling asrama. Umumin dari kamar ke kamar. Siapa tahu ada yang salah ambil sarung."
"PANAS BEGO!" Ricky langsung protes.
Tapi Mikha kembali pasang muka melas.
"Pleaseeee… Ricky… kalau gak, gue bisa tamat sore ini juga."
"Tapi ada bayarannya."
"Deal!" Mikha langsung semangat.
Dua sahabat itu pun memulai Misi 'Mencari Sarung Hilang'. Di bawah panas yang gila, demi menghindari marah Oxy yang lebih gila.
•
•
•
•
•
༺✦༻
Panas terik bisa diredam air.
Tapi marah Oxy?
Entahlah… mungkin cuma doa ibu yang bisa meredakannya.
— Diary Mikha El - Hariz.
༺✦༻
Sampai sini udah pada ketebak belum bakal ada apa?
Dont forget vote, like and comment.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mikha, Si Babu Oxy
Teen FictionMikha El-Hariz tak pernah mendaftar jadi babu. Tapi entah kenapa, sejak hari pertama mondok, ia jadi budak setia Oxyan Aprilio-keponakan kyai, santri terpintar, dan manusia paling disegani di pondok. Setiap hari Mikha dihujani tugas: nyuci, jemur, b...
