Sebelum Benar Benar Sendiri

42 5 2
                                        

༺✦༻
"Aku berjalan, meski takut tertinggal sendirian."

—Diary Mikha El-Hariz.

༺✦༻





Dengan gerakan pelan, Mikha mengusap tangan Nasha.

Pandangannya tak lepas dari wajah bundanya yang perlahan berusaha membuka mata. Saat kelopak itu akhirnya terangkat sempurna, Mikha refleks menekan bel di samping ranjang.

“Bundaaa…” suaranya bergetar—antara haru dan bahagia.

Nasha tersenyum lemah.

Tangannya yang kurus terangkat, mengelus surai hitam Mikha dengan sisa tenaga yang ia miliki.

Seorang dokter masuk bersama perawat. “Saya periksa dulu ya, Nak,” ucapnya ramah.

Mikha mengangguk, mundur setapak, matanya tak pernah benar-benar menjauh dari Nasha.

Pemeriksaan berlangsung cukup lama. Setelahnya, dokter mengajak Mikha keluar sebentar.

“Sebelumnya, kamu anak dari Ibu Nasha?” tanyanya memastikan.

“Iya, Dok. Saya anaknya.”

“Begini,” dokter memulai dengan nada tenang, “ibu kamu mengalami Tuberkulosis atau TBC, disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Biasanya menyerang paru-paru, tapi bisa juga memengaruhi organ lain. Saat ini sudah masuk tahap infeksi aktif.”

Mikha terdiam. Ia tidak sepenuhnya paham istilah medis itu. Yang ia mengerti hanya satu: bundanya sedang tidak baik-baik saja.

Dokter itu menarik napas dalam-dalam. Matanya tidak lagi setegas sebelumnya. Ia ingin melanjutkan ucapannya.

“Kami akan tetap melakukan semua yang bisa dilakukan,” ucapnya pelan, “tapi pada kondisi ini, tubuh seseorang kadang memilih jalannya sendiri.”

Ia terdiam sesaat, lalu menambahkan dengan suara yang hampir seperti bisikan,
“Kalau ada hal yang ingin kamu sampaikan… sebaiknya jangan ditunda.”

Mikha membeku. Hatinya seolah ikut bersedih.

Apa maksudnya?

Dokter mengakhiri penjelasan, memanggil perawat, lalu berkata, “Silakan temui ibu kamu. Kalau ada apa-apa, segera panggil saya.”

Mikha kembali masuk ke ruangan dengan berat.

“Bundaaa,” panggilnya dengan nada manja.

Ia tahu, ini bukan waktunya bersedih.

Nasha mengangguk pelan.

“Bunda tau nggak? Mikha lompat pagar loh,” katanya heboh.

Nasha menggeleng, tidak setuju.

“Tapi bohong,” Mikha tertawa kecil, mencairkan suasana.

Mata Nasha menyipit—tertawa tanpa suara.

Mikha, Si Babu OxyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang