Selempang berat

12 2 0
                                        

༺✦༻
Selempang di depan dadanya, beban di pundaknya. Kurasa kabir Oxy makin kejam, tapi semoga tidak.

–Diary Mikha El-Hariz

༺✦༻




Dua pekan menjelang acara perpisahan ada satu malam yang harus disaksikan semua penghuni pondok.

Acara Serah Terima Jabatan.

Malam itu terdengar rintik hujan yang memukul pelan atap balai pertemuan. Suaranya bercampur dengan bisik-bisik santri yang memenuhi ruangan.

Lampu-lampu neon menggantung pucat di langit-langit, membuat bayangan orang-orang di dalamnya tampak panjang dan tenang, meski hati mereka puspas.

Barisan kelas enam duduk di atas panggung. Tepat berhadapan dengan mereka, di sisi seberang ruangan, tanpa panggung kelas lima sedang menunggu.

Mereka berpakaian rapi hitam putih berdasi. Hanya kurang satu, jabatan.

Jarak di antara kedua angkatan itu tidak dekat-dipisahkan oleh deretan staf pengajar yang duduk tenang di tengah, seperti garis tak terlihat yang menandai batas antara yang akan turun dan yang akan naik untuk menggantikan.

Balai pertemuan masih hening, hanya meninggalkan suara hujan yang masih jatuh di luar.

Kepala pengasuhan naik mimbar. Seluruh santri menanti-nantikan pembacaan nama pemimpin mereka kelak.

Nama-nama mulai dipanggil.

Satu persatu santri kelas lima maju, sesuai dengan nama dan posisi berdiri yang telah disiapkan.

Santri bersorak ria kala kepala pengasuhan sampai pada nama ketua umum jabatan.

Ia mengakhiri bacaannya.

Setelah kepala pengasuhan turun, Kyai mulai membacakan sumpah setia pengurus.

Sumpah itu diawali dengan syahadat, penekanan bahwa amanah ini tidak ringan.

Setelahnya mereka kembali duduk dengan jabatan yang hadir dalam jiwa.

Tak lama kemudian satu persatu santri kelas enam maju, menyerahkan tugas yang setahun ini mereka emban kepada pengurus baru.

Wajah-wajah yang biasanya keras malam itu tampak berbeda-lebih sunyi, lebih berat.

Ketika nama Oxy disebut sebagai Ketua Bagian Keamanan, beberapa kepala langsung menoleh. Sibuk memfokuskan mata dengan apa yang akan dilakukan Oxy.

Tanpa terkecuali Mikha.

Oxy berdiri dari barisan kelas lima. Langkahnya tenang, tidak terburu-buru. Ia diikuti oleh para anggota barunya. Wajahnya tetap datar, seperti biasa. Namun matanya lurus ke depan, tepat ke arah orang yang sedang menunggunya.

Zaki dan anggotanya.

Ketua keamanan lama-hanya simbolis itu berdiri dengan selempang di tubuhnya. Kain itu tidak berat, tapi malam ini terasa seperti membawa beban tahunan yang akan dialihkan.

Oxy berhenti tepat di hadapannya, dengan sebuah meja sebagai pembatas.

Untuk sesaat, keduanya hanya berdiri. Suasana balai pertemuan yang tadi ramai mendadak terasa menahan napas.

Oxy memberi hormat pada Zaki sebagai simbolis, lalu Zaki membalasnya, membuka map dan menandatanganinya.

Hal itu diikuti oleh Oxy.

Map itu berisi perjanjian agar peraturan tetap berdiri.

Zaki mendekat, lalu melepas selempang itu. Tangannya bergerak tegas saat memakaikannya di bahu Oxy.

Kain itu jatuh rapi melintang di dadanya.

Kini resmi.

Ketua keamanan.

Namun tangan Zaki tidak langsung lepas. Ia menepuk bahu Oxy sekali-keras, bukan ramah.

Setelah itu ia menatap wajah Oxy dengan senyuman penuh makna.

Ada sesuatu yang masih tertinggal di mata Zaki, kekesalan yang belum sepenuhnya padam.

"Jangan buat mereka kecewa," ucapnya berbisik.

Nada suaranya datar, tapi berat.

Oxy menatap balik tanpa berkedip.

"Iya."

Hanya satu kata.

Kini mereka terpaksa melakukan jabat tangan dan pelukan, sebagai tanda bahwa jabatan berada di pundak Oxy.

Setiap langkah Oxy diikuti oleh sembilan anggotanya.

Di luar, hujan masih turun perlahan.

Di dalam balai pertemuan, angkatan kelas lima kini tidak lagi sebagai penonton. Selempang itu sudah berpindah.

Dan bersama kain sederhana itu, seluruh beban juga ikut berpindah-dari tangan seorang yang masih kesal... ke pundak seseorang yang harus membuktikan bahwa ia pantas memakainya.

Saat lagu melankolis dihidupkan para pengurus lama kompak berdiri. Satu persatu turun dari panggung dan segera diisi kembali dengan pengurus baru.

Mereka berjalan diiringi lambaian tangan.

Sebagian santri menangis dan sebagian lainnya tersenyum.

Kini, posisi di atas panggung itu sah menjadi milik mereka.

Lama hingga seluruh personal mendapatkan kursi amanah -jabatan pengurus, Kyai memberikan nasihat singkat sebelum acara ini ditutup.

Di depan, Kyai berdiri tegap di atas mimbar panggung dengan wajah yang seolah memancarkan cahaya disertai pakaian andalannya.

Jubah dan sorban.

Kyai memulai nasihatnya dengan satu pribahasa yang benar adanya.

"Patah tumbuh, hilang berganti. Sebelum patah sudah tumbuh, sebelum hilang sudah berganti," ucap beliau pelan, namun suaranya menjangkau seluruh sisi ruangan.

"Jabatan ini bukan kemuliaan yang kalian banggakan." Beliau berhenti sejenak, menatap barisan pengurus baru satu persatu.

"Ini persembahan. Persembahan untuk pondok yang kalian jaga,
untuk disiplin yang kalian tegakkan walaupun tanpa pengikut, dan untuk diri kalian sendiri—agar kelak kalian tahu, bahwa amanah tidak pernah ringan."

"Jagalah amanah ini. Karna jika kalian sanggup menjaga amanah ini, pondok akan berdiri lebih kuat. Jika tidak… amanah itu sendiri yang akan menguji kalian."

"Dunia tidak butuh orang kuat, tapi orang jujur. Mereka akan kuat dari dalam."

Kyai mengakhiri nasihatnya dengan salam.

Ia turun dari panggung. Dibantu beberapa orang, khawatir terjatuh.

Ketika pembawa acara berdiri dan mengucapkan salam, artinya usai sudah malam ini.

Usai juga usikan Zaki –seharusnya.

༺✦༻





Harapan gue, semoga diri gue bisa ikut peraturan dari bagian gue sendiri.
–Oxyan Aprilio
༺✦༻






Tinggalkan jejak!

Mikha, Si Babu OxyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang