༺✦༻
Gua cuma mau tidur sebentar. Tapi kenyataannya... sebentar itu cukup buat neraka kecil.
— Diary Mikha El-Hariz
༺✦༻
•
•
•
•
•
"Akhirnya selesai juga."
Mikha menutup pintu lemari dengan lega, meski matanya sudah lima watt.
Ia menguap lebar sambil meremas-remas pundaknya yang pegal.
"Huaah... lama banget sih baliknya." Ia bersandar ke lemari Oxy dan tanpa sadar, matanya mulai berat.
Sangat berat.
Detik kemudian, ia terlelap begitu saja. Tidur di lantai, di depan lemari, seperti santri yang kehilangan teman sehat.
Jam sudah menunjukkan pukul 10:45. Biasanya, Mikha sudah tidur pulas sejak pukul sembilan. Jadi tak heran kalau tubuhnya menyerah total.
Bahkan ia tidak peduli teman-teman sekamar Oxy bergibah pelan soal dirinya.
Tujuh menit.
Itu waktu tidur Mikha. Tapi di bawah sadarnya, terasa seperti bertahun-tahun.
Ia bahkan sempat bermimpi jatuh dari tangga. Dan, saat tubuhnya 'terjatuh' di mimpi—ia tersentak bangun.
Sialnya, begitu membuka mata, wajah pertama yang dilihatnya adalah netra gelap milik Oxy.
Tatapan khas: datar, dingin, dan penuh intimidasi.
Mikha ingin kembali tidur saja.
Tapi tangan Oxy keburu menariknya paksa.
"Mimpi apa?" suara Oxy datar, tapi jelas menahan marah.
"..."
"Gue nanya, jawab!?"
Suara Oxy meninggi. Beberapa pasang mata di kamar langsung melirik. Sebagian kesal, sebagian pasrah.
Tetapi hanya terucap dalam hati. Tak ada yang berani mengangkat suara. Oxy terlalu... Oxy.
Mikha hanya bisa menunduk. Diam. Ia tau itu salahnya. Ujung kaosnya diremas-remas, lututnya gemetar.
"Berdiri!"
Mikha berdiri dengan berat hati.
Ia seperti anak kecil yang tertangkap basah nyolong gorengan.
"Siapa yang nyuruh tidur?" suara Oxy makin pelan—tapi justru makin menyeramkan.
Tatapannya tajam.
Tangan bersedekap.
Ia melangkah satu langkah lebih dekat.
Mikha hanya menggeleng pelan.
"Ya elah, gimana ga tidur, orang ngantuk parah," batinnya, tapi mulutnya terkunci.
Oxy mendesis pelan.
Dengan cepat ia mencubit bibir bawah Mikha, menariknya sedikit ke depan.
"Apa guna mulut, hm?"
Mikha meringis. Bibirnya memerah.
"A–awww … s–sakit, kak."
Oxy menjauhkan tangannya.
Mikha reflek mengusap bibir yang terasa perih. Beberapa titik darah kecil muncul.
Lagi-lagi, teman-teman sekamar Oxy merasa terganggu.
Tapi Oxy tetap fokus pada satu hal: Mikha.
"Maaf, kak," ucap Mikha dengan suara pelan.
Sudah kesekian kali ia berkata seperti itu, tapi Oxy hanya diam.
Oxy menatap Mikha lurus.
Menunggu.
Menunggu alasan.
Dan akhirnya, dengan sisa keberanian yang dipaksa keluar, Mikha mencoba menjelaskan.
"A–aku ... ngantuk banget, kak. Soalnya—"
"Bergadang?"
Suara Oxy memotong.
Tepat sasaran.
Mikha terdiam. Matanya membesar.
"Kok dia tau!?" herannya dalam hati.
•••
Tadi malam.
"Oxy, gue mau kasih info penting," ucap Alex, baru balik dari ronda.
Oxy tidak merespons. Bahkan tidak menoleh.
"Yaelah, penting banget. Sumpah. Tapi yaudah deh kalo gamau." Alex mencoba memancing.
Oxy berbalik. Alis kirinya terangkat.
Alex mengambil napas.
"Tadi gue sama Wiliam ronda ke kompleks sebelah. Nemu Mikha sama temennya. Dia lagi nongkrong di atas sumur. Ada pop-mie, 3 orang, mungkin lebih. Pas kita lewat, mereka kabur semua."
Oxy melirik jam dinding: 01.57.
"Oh oke." Lalu ia tidur. Tidak ada komentar.
•••
Mikha mengangguk pelan.
"Iya." Ia sadar ia tak bisa mengelak lagi.
"Tidur di gazebo," kata Oxy singkat.
"Iya, Kak"
Mikha pun berjalan keluar kamar sambil terus mengusap bibirnya.
Perih.
"Untung aja masih punya hati, walau secuil," gumamnya pelan.
Lalu ia mengerutkan dahi.
"Tapi, siapa yang cepuin ya?"
Ia mengingat-ingat.
Beberapa detik kemudian, "ih, dasar cepu!" Ia mendengus kesal dan menendang kerikil kecil di jalan menuju gazebo.
Sesampainya di sana, ia melihat-lihat.
Ia pun memilih gazebo paling ujung—yang paling jauh dari kamar siapa pun.
"Huaaaa… akhirnya bisa bobok juga."
Mikha merebahkan tubuhnya.
Tak lama, ia sudah tertidur pulas.
Siang di pondok terasa sunyi. Tapi di dalam hati Mikha, perang kecil baru saja reda.
•
•
•
•
•
༺✦༻
Kadang, tempat ternyaman justru bukan kasur.
Tapi di mana pun... asal nggak ada Oxy.
— Diary Mikha El-Hariz.
༺✦༻
Kira-kira kapan ya Mikha bisa bebas?
Yuk baca bab selanjutnya!
Don't forget vote, like and comment.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mikha, Si Babu Oxy
Fiksi RemajaMikha El-Hariz tak pernah mendaftar jadi babu. Tapi entah kenapa, sejak hari pertama mondok, ia jadi budak setia Oxyan Aprilio-keponakan kyai, santri terpintar, dan manusia paling disegani di pondok. Setiap hari Mikha dihujani tugas: nyuci, jemur, b...
