༺✦༻
Gue kira itu cuma formalitas. Tapi sekarang gue sadar ini titik balik.
—Diary Mikha El-Hariz.
༺✦༻
•
•
•
•
•
Jam tangan hitam yang setia bergelung di pergelangan kirinya kini menjadi pusat perhatian oleh seseorang yang sedang menulis di dalam kelas yang sepi dan sejuk.
Jam itu menunjukkan bahwa 19 menit lagi akan jatuh pada angka 5 sore.
Yang artinya tugas yang diberikan harus sudah dikumpulkan.
Dia Ricky. Ketua kelas sekaligus sahabat Mikha.
"Dia pindah, dia pindah, dia netap. Kalo Mikha?" mata dan jari telunjuknya tertuju pada objek yang sama —absen.
"Lo pindah atau kagak sih Mikhaa!?" geramnya.
Rasanya seperti mie instan yang ditumpahi bumbu emosional.
Lama kelamaan peci yang berada di atas kepalanya semakin naik dan memunculkan jambul rambut hitamnya.
Setelahnya ia menaruh peci itu di sebelahnya.
Dirasa datanya sudah hampir lengkap, ia mengambil keputusan untuk menemui Mikha dan bertanya pasti tentang pilihannya.
Perasaan kemarin baru saja menduduki bangku kelas 3. Tapi nyatanya sudah harus menulis data perpindahan atau menetap.
Begitu cepat waktu berputar.
Langkah Ricky menyisir asrama, seolah tiap ubin bisa menunjukkan arah ke Mikha.
Ketika ia menginjakkan kakinya ke dalam asrama, tidak ada satupun santri yang terbangun.
Bukan berarti dalam waktu sepanjang ini mereka hanya tidur dan meninggalkan sholat jamaah.
Waktu sore yang sangat indah ini —setelah ashar digunakan mereka untuk menyapa mimpi-mimpi yang sempat terjeda.
Ricky tak peduli dengan itu.
Ia tetap pada tekadnya untuk menemui Mikha dan bertanya kepastian tentunya.
"Oiiii..... bangunn!" pekiknya tepat pada lubang telinga Mikha.
Tidur Mikha terusik, "Hoamm......" setelahnya Mikha hanya bergumam dengan posisi menidurkan tangannya dan menjadikan tangannya sebagai bantal.
"Buruan bangunn!! gue mau nanya, pentingg!"
"Hoamm..... ck! apasihhhh!" akhirnya Mikha terbangun.
"Noh, liat! tinggal lo yang belom gue data!" sambil memperlihatkan kertas data yang ia tulis.
"Ck!, yaudah, bikin aja gue netap!" putusnya asal.
"Beneran ya, gue gak mau nantinya lo berubah pikiran"
"Ha'ah"
"Oke deh itu doang", tangannya menulis data Mikha "selamat tidur lagi. Hati-hati gila!" ejeknya berlalu meninggalkan asrama itu.
Dan Mikha memasang wajah masam.
Setelah perkataan itu Mikha tidak minat lagi untuk tidur, ia beranjak dari tidurnya menuju keluar dengan membawa handuk dan pakaian dalam
Ia ingin mandi.
•••
D
i depan laboratorium komputer.
Seorang pengurus bagian keamanan sedang mengintrogasi dua orang santri dengan memakai baju santai dan sarung yang sedari tadi hanya menunduk dalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mikha, Si Babu Oxy
Teen FictionMikha El-Hariz tak pernah mendaftar jadi babu. Tapi entah kenapa, sejak hari pertama mondok, ia jadi budak setia Oxyan Aprilio-keponakan kyai, santri terpintar, dan manusia paling disegani di pondok. Setiap hari Mikha dihujani tugas: nyuci, jemur, b...
