༺✦༻
Tidak semua orang datang membawa solusi.
Beberapa hanya datang… dan entah kenapa itu sudah cukup.
—Diary Mikha El-Hariz.
༺✦༻
•
•
•
•
•
Malam sudah jauh melewati jam istirahat.
Asrama-asrama tenggelam dalam sunyi. Hanya suara rintik hujan yang sesekali jatuh dari atap seng, menetes pelan ke tanah yang mulai basah.
Lampu-lampu seluruh penjuru menyala redup.
Oxy berjalan menyusuri halaman komplek pondok dengan langkah tenang.
Ronda malam pertamanya secara resmi.
Tidak sendiri, ia bersama sembilan anggota lainnya yang berpencar.
Matanya bergerak tajam dari satu sudut ke sudut lain.
Memastikan setiap pintu asrama tertutup dan setiap lorong serta halaman kosong.
Sampai sebuah bayangan terlihat di bangku panjang depan asrama.
Langkah Oxy berhenti.
Seseorang duduk di sana.
Sendirian.
Kepalanya tertunduk.
Oxy berjalan mendekat. Semakin dekat, semakin jelas. Sosok itu terlihat kecil di bawah cahaya lampu yang pucat.
"Mikha."
Suara itu jatuh datar di udara malam.
Di jalan yang sama, tepatnya membelakangi Oxy, Zaki berjalan menuju hamam. Ia melihat Oxy dari jauh.
Ia ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Oxy masih diam. Ia tahu Mikha sedang menangis.
Mudah baginya untuk mengetahui prilaku Mikha, pundaknya berkali-kali bergetar.
Tak mau berlama-lama, Zaki mendekati Oxy.
Tepat di belakang tubuhnya ia berbisik, "apa lu mau hukum dia?"
Ia menjawab tanpa berbalik badan, ia telah mengenali suara itu.
"Dia ngelanggar," balasnya dengan fokus yang masih sama.
"Dia lagi hancur. Lu tau apa yang dia hadapi?" ucapan Zaki semakin dingin.
Oxy tak menjawab, ia hanya berdehem.
"Dari dulu gue sengaja fitnah lu gay sama dia. Lu tau kenapa?"
"Gak perlu tau," balasnya cepat.
Zaki tertawa kecil, "biar salah satu dari kalian keluar dari sini dan Mikha ga merasa tertekan di bawah lu." Zaki menekan setiap katanya.
Tangan Oxy mengepal, ia tidak boleh kelepasan.
"Seburuk-buruknya gue, gue ga pernah hukum santri yang lagi hancur. Harusnya lu paham."
Zaki pergi meninggalkan Oxy yang masih mengeratkan kepalannya.
Oxy menetralkan deru nafasnya. Membuka kepalan tangannya secara perlahan.
Ia tau persis keadaan Mikha saat ini, sedang takut sendiri.
Oxy mulai mendekatinya setelah dirinya tenang.
Mengikis jarak yang tak begitu jauh.
Tangan kanannya terurai di atas pundak kiri Mikha, "kenapa?"
Mikha sontak kaget dengan sentuhan Oxy. Wajahnya mendongak, menatap manik Oxy di bawah remangnya cahaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mikha, Si Babu Oxy
Genç KurguMikha El-Hariz tak pernah mendaftar jadi babu. Tapi entah kenapa, sejak hari pertama mondok, ia jadi budak setia Oxyan Aprilio-keponakan kyai, santri terpintar, dan manusia paling disegani di pondok. Setiap hari Mikha dihujani tugas: nyuci, jemur, b...
