Topeng yang robek

62 10 1
                                        

༺✦༻
Kadang, satu ejekan bisa membakar seluruh harga diri. Tapi diam bukan selalu tanda lemah. Karena yang paling tenanglah, biasanya menyimpan amarah yang terdalam.

— Kata author.

༺✦༻





"Wow, ada pasangan GAY nih!" sorak Zaki dengan tawa mengejek.

Teman-temannya ikut bersorak, menertawakan Oxy yang berdiri di ambang pintu.

Beberapa anggota kamar memandangi Oxy dengan wajah takut.

Tapi Oxy? Ia diam, tidak merespons sedikit pun, tatapannya datar dan menusuk.

"Kak, aku di luar--" Mikha merasa tak enak berdiri di sana.

"Masuk," potong Oxy tajam.

Tak ingin membuat suasana makin tegang, Mikha masuk dengan langkah ragu.

Matanya tertunduk, tangannya dingin, tubuhnya gemetar.

Dalam hatinya ia terus berdoa, memohon perlindungan dari Tuhan.

"Ya Allah, tolong Mikha..."

Dengan tegap, Oxy melangkah masuk tanpa izin. Sikapnya dingin, tak peduli pada tatapan para penghuni kamar.

"MANA ADABMU OXY!?" bentak salah satu dari mereka, wakil kamar.

"Kenapa harus beradab?" jawab Oxy datar, matanya mengunci ke arah Zaki.

"Percuma pintar kalo belagu dan nggak punya adab," cibir Zaki, mencopot kopiahnya, "terus gay lagi."

Tawa meledak. Mereka tertawa puas atas ejekan itu.

Mikha mengepalkan tangannya. Ia menahan tangis dan amarah. "Sabar, Mikha. Sabar..."

Oxy langsung melangkah dan merampas sarung miliknya dari tangan salah satu kakak kelas. Karena mereka lengah tertawa, sarung itu berhasil diambil.

"Gila! Bener-bener nggak punya sopan santun!" teriak mereka.

"Pegang," ucap Oxy pada Mikha.

Mikha dengan cepat mengambilnya, tapi sarung itu direbut lagi.

Dengan spontan, Mikha menariknya dan berhasil mempertahankan.

"Nggak mampu beli?" tanya Oxy dingin, menaikkan satu alisnya.

Zaki tidak tahan. Ia maju, mengayunkan pukulan. Tapi Oxy lebih cepat—tangannya dilintir hingga Zaki meringis kesakitan.

"Aaww! Lepasin, bodoh!"

"Kenapa? Sakit?" tanya Oxy tanpa emosi.

Setelah melepaskan tangan Zaki, Oxy berjalan mundur.

"Sebelum makin parah, saya mau tau keinginan kakak," ucapnya dengan menekan setiap kata.

"Gue mau jadi ketua keamanan," ucap Zaki lantang.

"Karena?"

"Karena cowok belok kayak lo nggak pantas mimpin!"

Tatapan Oxy tetap tenang, tapi aura amarah mulai terlihat.

Beberapa anggota kamar keluar, tidak tahan dengan suasana panas.

"Lalu saya harus apa?" tanya Oxy, nadanya mulai naik.

"Tukeran posisi. Gue jadi ketua, lo jadi anggota."

Jeda beberapa saat.

"Masa iya gue belokan ama dia."

Zaki menunjuk Mikha.

Tawa kembali pecah.

Oxy akhirnya kehilangan kendali. Ia mencengkeram kerah baju Zaki.

"Apa yang bisa kakak banggakan, hah!?"

Zaki hanya tertawa. "Setidaknya gue nggak belok kayak lo."

Tanpa banyak bicara.

Satu pukulan mengenai tepat di rahang Zaki.

Ia langsung terhuyung, tangannya refleks menutup wajahnya.


"Jaga mulut kakak."

Desis kesakitan lolos dari bibirnya.

"Apa yang lo banggain selain jadi belok, ha!?"

"Setidaknya saya masih menjaga nama baik pondok."

Oxy menatapnya. "Tidak seperti kakak yang membuat malu nama besar keamanan."

"Harusnya orang kayak kakak ga pantas jabat."

Kala itu gawai berada tepat di samping telinga Zaki.


"Kalau kamu sayang aku, ayo dong pap," bujuk Zaki di telepon.

"Tapi aku takut..."

"Aku janji, cuma aku yang lihat."

Akhirnya sang perempuan mengirimkan foto pribadi yang menampilkan aib perempuan.

Setelah puas melihatnya, Zaki tertawa geli.

Terlalu terbawa suasana, hingga ia lupa menghapus semuanya.

Ketika petugas menemukan bukti itu, laporan dibuat. Nama Zaki masuk dalam buku agenda hitam.

Zaki kini termenung. Kenangan itu seperti hantaman.

Oxy menyeringai tipis.

"Kenapa? Masih ingat?"

"AKHHH!! Awas aja lo!" Zaki menampar keras pipi Oxy.

Oxy hanya tersenyum miring, tak membalas.

"HEI! KALIAN KE KANTOR SEKARANG JUGA!"

Suara lantang dari luar membuat suasana ruangan terdiam.

Tatapannya kini beralih pada seseorang di balik tubuhnya.

Tanpa banyak bicara, Oxy berkata, "keluar."

Mikha hanya mengangguk dan mengikuti Oxy menuju kantor.

Hari itu, bukan hanya adu kekuatan yang terjadi.

Tapi benturan luka masa lalu, dendam, dan kehormatan yang dipertaruhkan.

Mikha hanya bisa mengikuti—menyaksikan perang yang lahir dari satu kelalaiannya.

—Bergadang.





༺✦༻

Aku tahu, bukan pertama kalinya kak Oxy marah. Tapi kali ini, marahnya terasa beda—seolah bukan cuma tentang dia, tapi juga tentang aku

—Diary Mikha El - Hariz.

༺✦༻










Kalian pernah bayangin ga, kalo orang yang kalian kira dia jahat sebenarnya adalah orang yang jaga kalian?.

Dont forget vote, like and comment.

Mikha, Si Babu OxyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang