Izin yang terhalang

55 10 4
                                        

༺✦༻
Sebagai sahabat, aku cuma bisa menemani. Mungkin aku tidak bisa merasakan persis apa yang Mikha alami. Tapi aku akan tetap berdiri di sampingnya, apapun itu.

—Ricky.

༺✦༻







Tak terasa waktu semakin cepat berlalu.

Menjelang perpulangan pihak pondok mengadakan kegiatan resmi yang ada setiap tahun yaitu "Haflah Akhirussanah" atau pelepasan peserta didik.

Jangan lupakan bahwa acara tersebut hanya untuk kelas 6 tidak untuk kelas 3.

"Terlalu besar harapan kalo kita dibuat acara gituan" monolog Mikha kala Ricky memberi tahunya akan pembicaraan dirinya bersama bagian pengajaran.

"Tiga tahun lagi" sahutnya.

"Lama gilaa" kesal Mikha.

"Makanya betah-betah."

"Bisa. Kalo ga ada kabir Oxy!" jawabnya.

"Lo itu terlalu kebawa sama keadaan."

"Maksud?" tanya Mikha dengan kepala yang spontan menoleh dan menatap Ricky.

"Coba deh. Lo gausah nyalahin kabir mulu, betahnya diri lo di pondok ini dimulai dari diri lo sendiri."

Ricky melanjutkan ucapannya sebelum Mikha ingin bersuara, "gue tau lo tertekan dengan sikap kabir yang terus memaksa lo untuk ikuti kemauannya. Tapi, gue rasa semua itu ga terlalu buruk kalo lo rela lakuinnya, and ... Itu baik kok, tinggal lo aja yang gimana."

Ricky ingin mencoba merubah cara pikir Mikha.

Mikha membeku.

Hatinya seolah berkata itu benar, namun ingatannya berbalik dari kenyataan.

Seluruh perbuatan Oxy padanya seperti sebuah film berbahaya yang terus berputar di kepalanya sekarang.

"Sama aja. Harusnya dia tau tempat, tau waktu, tau diri. Lo ga bisa nyalahin total ke gue. Coba aja lo sendiri jadi diri gue." Mikha terbawa emosi, kali ini ia tidak bisa menerima pendapat Ricky.

Untungnya taman sepi, hingga membuat mereka bisa bersuara agak besar ketika membicarakan Oxy.

"Yaudah, gue minta maaf kalo lo sakit hati." Tangan kanan Ricky terjulur ingin bersalaman.

"Hm." Mikha mengangguk dan tidak menggubris tangan tersebut.

"Mau ke kantin? biar gue yang bayar."

"Mau, tumben lo baik."

"Sebagai tanda permintaan maaf gue ke elo."

"Lebay!"

•••

Siangnya —sehabis sholat Zhuhur seluruh pengurus dikumpulkan di gedung pertemuan.

Di sana terdapat empat orang ustadz yang berada di depan dengan posisi berdiri dan berjarak.

Ustadz Abas selaku pembicara tentu telah mengambil fokus para santri.

"Ingat tugas masing-masing," ingatnya.

"Saling bantu. Paham?" jedanya

"Ada yang mau nanya?"

Mereka sibuk menoleh ke sembarang arah untuk melihat-lihat apakah ada yang akan bertanya.

Tidak ada yang bertanya.

Selang waktu setelahnya ustadz mengakhiri.

"Saya akhiri, wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh"

Mikha, Si Babu OxyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang