Maaf & Syarat

71 10 1
                                        

༺✦༻

Langkah mereka berat menuju ruang BK.
Bukan sekadar laporan, tapi harga diri yang dipertaruhkan.

- Kata author.

༺✦༻






"Setelah ini ke gudang," bisik Oxy pada Mikha saat berjalan menuju Kantor.

"Iya kak." Mikha mengangguk pelan.

Kaki mereka bertiga sudah masuk ke dalam kantor musyawarah atau lebih dikenal ruang BK.

Mereka duduk di tempat yang telah disediakan.

Ustadz Yusuf memulai pertanyaannya.

"Sudah berapa kali kamu bermasalah, Zaki?

"Dia yang nonjok saya tadz."

"Pasti ada alasannya Zaki!" Ustadz Yusuf tidak sabar.

"Kenapa saya doang yang ditanya tadz? 'kan dia yang mulai,"
sanggah Zaki dengan lantang.

Dia tidak peduli bahwa dihadapannya adalah seorang Ustadz.

"Alasannya, kabir Zaki minta untuk dijadikan ketua, dia bilang saya tidak pantas karena saya seorang seme, dia memfitnah saya."

Oxy berusaha tenang.

"Maka dari itu saya tidak terima dan kelepasan untuk menonjok rahangnya."

Oxy berusaha menjelaskan kronologisnya.

Ustadz Yusuf beralih menatap Zaki, dia tidak menyangka Zaki berpikir seperti itu.

"Kenapa kamu berkata seperti itu?"

"Apa kamu lupa? alasan kita menghentikan kamu sebagai ketua? hah!?"

Lagi-lagi bayangan perempuan itu mewarnai ingatan Zaki.

Zaki menunduk ia menjawab pertanyaan itu dengan sedikit lirih. "Iya, saya tau,"

Tak lama itu.

"Tapi kenapa harus dia yang ganti posisi saya tadz? dia belum seharusnya mendapat jabatan!"

"Dan satu lagi. Dia itu memang GAY tadz!"

Zaki kembali meninggikan suaranya.

Ia terlihat tidak terima dengan pilihan para ustadz.

"Bukan tentang tua atau muda Zaki. Tapi, pemikiran dewasa atau tidak."

"Percuma jika kamu menjadi ketua tapi tidak memberi contoh yang baik pada anggota kamu, kamu seolah mempermainkan jabatan."

"Kamu memanfaatkannya untuk membuat santri lain takut pada kamu, iya kan?"

"Jika kamu bertanya 'kenapa Oxy?' pilihan itu tidak lain hanya sebagai tamparan yang seharusnya kamu sadar setelah itu."

Ustadz Yusuf meneliti ekspresi dari lawan bicaranya kali ini.

"Seharusnya kamu itu bersyukur masih kami beri kesempatan menjabat," tandasnya menekan perkataan.

Hilang sudah harga diri seorang Zaki.

Perkataan Ustadz Yusuf sangat menusuk perasaan Zaki.

Semua memang benar adanya dan ia tidak berkutik lagi.

Zaki hanya menatap kosong dinding belakang ustadz.

Baginya ucapan itu justru membuatnya semakin malu dan dendam pada Oxy.

Mikha, Si Babu OxyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang